Pendemo, Hati-hati Ditunggangi!

Muazzinah Yacob.

Oleh Muazzinah Yacob*

Kritik mengawal agar yang dipilih tetap konsisten dan bergerak secara jelas, karena oleh sedikit ketuk palu maka bisa menenggelamkan masa depan generasi, perempuan dan kelompok rentan lainnya. (Zubaidah Djohar, 2019)

Rantaian kumpulan kata yang cukup menarik untuk kita “lumat” bersama bahwa kritik sangat penting untuk salah satu pastisipasi masyarakat dalam mengawal jalannya pemerintahan. Kenapa? Tanya yang begitu penting pula harus kita jawab adalah fungsi pengawasaan yang kita wakilkan kepada “teman-teman” legislatif belum berjalan sebagaimana mestinya sehingga munculnya “gerakan-gerakan kritikan”.

Demo sebagai salah satu “gerakan kritikan” yang merupakan saluran menyampaikan pendapat terhadap penyelenggaraan pemerintah karena masyarakat berkontribusi dan ikut menyuarakan solusi alternatif terhadap persoalan bangsa karena perwakilan “suara” kepada pihak legislasif belum secara sempurna dan komprehnsif dijalankan. Demo “turun ke jalan dengan cerdas” tanpa merusak apapun yang nantinya akan merugikan masyarakat itu sendiri adalah sikap pejuang untuk ikut andil sebagai pengawal jalannya pemerintahan. Namun perlu ditekankan bahwa jangan sampai demo yang bertujuan baik ditunggani oleh pihak oknum-oknum tertentu yang bermufakat jahat untuk huru hara negara. “Tukang tunggang” perlu diwaspadi karena akan menguntungkan pihak tertentu namun merugikan masyarakat secara umum.

Hari ini demo di mana-mana meminta dewan-dewan terhormat juga harus memberikan aksi nyata kepada masyarakat bahwa penanganan masalah bangsa ini dalam perihal pembahasan legislasi adalah penanganan bersama. Ini adalah wujud dari whole of government (WoG). Bambang Widjajarso (2019) WoG yaitu sebuah pendekatan penyelenggaraan pemerintahan yang menyatukan upaya-upaya kolaboratif pemerintahan dari keseluruhan sektor dalam ruang lingkup yang lebih luas guna mencapai tujuan pembangunan kebijakan, manajemen program, dan pelayanan publik. WoG dikenal dengan pendekatan Inter-agensi.

Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam perihal kritikan yaitu pertama, memahami subtansi dan memiliki data kenapa harus mengkritik dan jika tidak mengkritik maka membiarkan pemerintah tidak menjalankan fungsinya untuk mensejahterakan masyarakat.

Kedua, kritik murni sebagai wujud edukatif. Dengan adanya kritikan maka pemerintah mendapatkan masukkan sebagai “amunisi” atau informasi untuk menyelesaikan masalah. Nilai edukatif yang memberikan pengetahuan baru dalam kritik akan menjadi input supaya pemerintah melahirkan kebijakan-kebijakan yang pro rakyat.

Ketiga, kritik bukan karena kepentingan “tukang tunggang” yang memanfaatkan situasi dan kondisi menghancurkan atau “menelanjangi” kelemahan-kelemahan Namun tanpa solusi. Kritik harus memberi perspektif baru untuk merubah keadaan yang lebih efektif dan menjadi lebih baik demi kepentingan masyarakat

Keempat, kritik adalah problem solving bagi pemerintah sebagai wujud tantangan untuk pemerintah memecahkan masalah yang dikritisi oleh masyarakat. Pemerintah juga jangan anti kritik tetapi kritik harus menjadi obat mujarab untuk dapat “menyediakan” kebijakan-kebijakan yang berpihak kepada masayarakat.

Pada akhirnya fungsi dari kritik adalah untuk “membenarkan” atau membuat pemerintah lebih benar dalam bertindak atas jalannya penyelenggaraan pemerintahan sebagai rangka mengelola pemenuhan kebutuhan dan kesejahteraan masyarakat.

Love you all pendemo. Mari demo cerdas sebagai wujud mengawal pemerintahan.

*)Dosen FISIP UIN Ar-Raniry.

KOMENTAR FACEBOOK