Ganja Aceh, dari Kuliner Hingga Penyalahgunaan

Pada sebuah pertemuan di salah satu kota di Pulau Jawa, seorang pemateri bercanda bila Aceh adalah pusatnya ganja Nusantara. Saya yang hadir di pertemuan tersebut, segera ambil microphone. Saya mengklarifikasi bila ganja bukan tanaman yang digemari oleh semua orang Aceh. Bukan juga penopang ekonomi melalui jalur black market.

Aceh seringkali dikaitkan dengan ganja. Dalam banyak pertemuan, seringkali orang luar bertanya kepada saya tentang jenis ganja terbaik. Mereka juga sering mengatakan bila berkesempatan datang ke Aceh, ingin menikmati mie Aceh dengan campuran ganja. Ingin meneguk kopi Aceh yang diseduh dengan campuran biji ganja. Bahkan ada yang ingin makan kuah beulangong yang bumbunya ditambah dengan serbuk biji ganja.

Saya tidak mengetahui asal muasal kekeliruan orang luar terhadap ganja dan Aceh. Karena sepanjang pengetahuan saya, ganja dipergunakan dengan sangat terbatas. Dulu, ganja digunakan sebagai tanaman anti hama, yang ditanam di perkebunan cabai. Juga ada cerita bila biji ganja ditaruh dalam kuah sop, untuk mempercepat pengempukan urat dan bagian tulang yang bisa dikonsumsi.

Di “dunia hitam” ganja seringkali dipergunakan sebagai campuran rokok filter. Tujuannya untuk mendapatkan sensasi mabuk. Juga dicampur dengan dodol, tujuannya juga sama, untuk mendapatkan sensasi hoyong. Tapi, pengunaanya sangat terbatas dan sembari sembunyi-sembunyi. Di kalangan agamawan, timbul dua friksi, ada yang mengharamkan, ada yang menghalalkan untuk penggunaan tertentu. Tapi, semua sepakat bila konsumsi ganja untuk mendapatkan sensasi mabuk, haram.

Dikutip dari situs www.lgn.or.id, sejarawan Aceh H. Rusdi Sufi mengatakan asal muasal ganja Aceh dibawa ke Aceh oleh para pelaut Eropa. Pendapat tersebut saat ini mendominasi opini publik terutama di media-media sosial. Sementara ada pihak yang lain yang meyakini pendapat bahwa ganja adalah tanaman asli Aceh.

Masih mengutip Rusdi, ada banyak versi yang mengatakan bahwa bangsa Aceh telah sejak sangat lampau memanfaatkan ganja sebagai bumbu masakan maupun sebagai obat. Kemudian berkembang cerita bahwa dalam rangka persaingan dagang dan politik antara kerajaan Belanda dan Portugis di wilayah Kesultanan Aceh.

Maka konon ceritanya orang-orang Belanda meminta supaya diberikan ganja di dalam bumbu masakan yang akan dihidangkan kepada orang-orang Portugis. Akibatnya setelah mengkonsumsi hidangan yang mengandung ganja tersebut orang-orang Portugis merasa nyaman dan tertidur. Saat itulah kemudian Belanda dapat mengalahkan saingan mereka itu.

Jejak Budaya Ganja Aceh

Tarmizi A Hamid yang akrab disapa Cek Midi, seorang kolektor manuskrip kuno di Aceh. Dalam Kitab Tajulmuluk, sebuah manuskrip kuno yang dimilikinya, ganja memang sudah menjadi komoditi penting untuk menyajikan masakan yang lezat masa kerajaan Aceh dulu. Zaman dulu, tanaman ganja bahkan menjadi penghias di halaman rumah. Tanaman ini tumbuh di mana saja, bahkan menjadi tumpang sari untuk berbagai tanaman di perkebunan.

Mengapa pada zaman dulu ganja kerap digunakan pada makanan? Cek Midi ternyata memiliki penilaian sendiri. Dari literatur manuskrip kuno yang dia temukan, selain untuk penyedap rasa. Ganja juga digunakan untuk bahan pengawet makan yang alami, tanpa tercampur dengan zat kimia yang berbahaya untuk kesehatan.

“Selain penyedap rasa, dulu juga dipergunakan untuk anti basi makanan,” kata Cek Midi kepada merdeka.com.

Masih kepada merdeka.com, Tarmizi menjelaskan, secara budaya, masyarakat Aceh dulu memang telah lama mengonsumsi ganja untuk hal positif. Bukan penggunaan yang negatif seperti saat ini dijadikan rokok yang bisa memabukkan. Anak-anak muda masa kini, sebutnya, telah menyalahgunakan tumbuhan ‘ajaib’ yang tumbuh subur di Serambi Makkah. Padahal, beberapa Negara di Eropa, ganja bisa menjadi komoditi yang produktif, untuk dijadikan berbagai pengobatan dan produk alternatif lainnya.

Sejak beberapa abad lalu, penggunaan ganja di Aceh juga untuk kepentingan positif. Masa kerajaan dulu, nyaris tidak ditemukan penyalahgunaan tanaman yang diharamkan pemerintah saat ini.

Ganja dipercaya sejak dulu oleh masyarakat Aceh bisa menjadi pengobatan alternatif. Diyakini bisa menyembuhkan berbagai macam penyakit yang diderita oleh masyarakat, seperti rematik, asam urat, obat penambah stamina dan juga sejumlah pengobatan lainnya.

“Obat bius, rematik itu sangat bagus. Dulu memang dijadikan obat,” terangnya.

Pada era 1970-an dulu tanaman ganja mudah ditemukan di halaman rumah warga Aceh. Tanaman marijuana ini ditanam bukan untuk dijadikan rokok atau disalahgunakan oleh masyarakat kala itu. Akan tetapi, selain untuk penghias di depan rumah.

Tanaman ini juga dijadikan bahan dasar bumbu masak oleh ibu-ibu rumah tangga. Bumbu masak ini tentunya tidak mengandung zat kimia seperti decade sekarang melalui penyedap rasa instan tersedia di pasar.

Penggunaan ganja sebagai bumbu masak pun tidak berlebihan. Hanya secukupnya untuk penyedap atau agar daging yang dimasak bisa lebih cepat matang. Karena masakan daging ada dicampur sedikit biji ganja akan mempermudah lunak daging, sehingga lezat untuk disantap.

Penyalahgunaan Ganja

Era 90-an, merupakan titimangsa ketika ganja mulai masuk ke dalam ranah penyalagunaan oleh anak muda. Ganja dipergunakan sebagai pengganti rokok, atau ikut dicampur ke dalam rokok. Tujuannya untuk mendapatkan efek fly.

Pada malam pesta pernikahan, secara diam-diam, tuan rumah, yang diwakili oleh anak lelaki dewasa pemilik hajatan, harus menyediakan ganja yang akan disajikan kepada anak-anak muda yang meramaikan malam pesta.

Biasanya, setelah tetamu umum pulang ke rumah masing-masing, anak-anak muda itu akan mulai ritual pergaulannya itu, menghisap rokok bercampur daun ganja yang sudah dilumat dengan tangan. Ritual nge-fly tersebut dibarengi dengan dentuman musik.

Era tersebut, pantas disebut sebagai era kegelapan pergaulan, remaja putra hingga dewasa–secara terbatas– menjadikan ganja sebagai gaya hidup. Bila seseorang belum menghisap ganja, maka belum dianggap dewasa dan tidak akan diterima di dalam komunitas. Nyaris semua kampung memiliki kelompok pemuda yang menjadikan ganja sebagai simbol kedewasaan.

Maka tidak heran, perkebunan ganja muncul secara merata di berbagai wilayah di Aceh. Baik yang ditanam jauh di pegunungan, maupun yang ditanam di kebun-kebun pinang. Ada pula yang nekat menanamnya di dalam polibag dan ditaruh di kamar mandi di belakang rumah.

Akan tetapi, setelah damai terajut di Aceh, generasi muda Aceh, tidak lagi menjadikan ganja sebagai lambang pergaulan. Mereka mulai bergeser ke sabu-sabu.

Saya sering mendengar pernyataan “ngeganja sudah ketinggalam zaman.”

KOMENTAR FACEBOOK