Menjadi Bangsa yang Literat

Ilustrasi @trubus.id

Oleh Muazzah S.Si., M.A.

“Sudahkah kita membaca buku hari ini? Berapa kali kita mengunjungi perpustakaan dalam sepekan? Berapa banyak buku yang kita baca selama setahun?” Pertanyaan-pertanyaan ini, kadang sulit dijawab oleh banyak orang Indonesia. Bukan karena banyaknya buku yang telah dibaca atau jumlah kunjungan ke perpustakaan yang saking banyaknya, hingga sulit untuk dihitung. Namun sebaliknya, karena mungkin terlalu lama sudah tidak ada interaksi dengan buku maupun perpustakaan hingga orang sulit menentukan kapan terakhir kalinya ia membaca dan bertandang ke perpustakaan.

Padahal kita tahu bahwa bangsa yang kuat ialah bangsa yang memiliki kesadaran literasi yang baik. Karena dari kebiasaan membaca, akan melahirkan manusia-manusia yang berwawasan luas, kritis, kreatif, serta inovatif. Menurut Hernowo (2004), membaca secara rutin akan meningkatkan daya imajinatif dan nalar, yang keduanya dibutuhkan oleh setiap anak untuk berani menatap masa depannya dengan keyakinan akan sukses. Sehingga benarlah ungkapan bahwa membaca adalah membuka jendela dunia.

Kendala umum

Pemerintah Indonesia sadar betul akan rendahnya tingkat literasi masyarakatnya, dengan peringkat PISA yang masih saja berada di urutan lima terbawah. Bahkan sebelum bisa meningkatkan peringkat PISA, pemerintah juga masih harus disibukkan dengan pemberantasan buta aksara. Angka buta huruf di Indonesia masih terbilang tinggi, berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, 2016 yaitu; 4,62% (untuk usia di bawah 15 tahun), 1% (usia antara 15 hingga 44 tahun), dan 11,47 % (usia 45 tahun ke atas). Dua masalah ini berbeda tetapi saling terkait. Artinya, harus ada cara yang dapat mengatasi kedua masalah tersebut sekaligus. Karena jika hanya berfokus pada pemberantasan buta huruf, maka masalah pada tingkat kemampuan literasi belum pasti akan teratasi.

Ada banyak program yang dijalankan oleh pemerintah untuk terus menjadikan bangsa ini sebagai bangsa yang literat. Perpustakaan dan rumah baca terus tumbuh di berbagai penjuru nusantara, meski tak bisa kita pungkiri bahwa distribusinya belum merata. Berdasarkan data dari Perpusnas, jumlah perpustakaan di Indonesia mencapai 25.728 buah, terbanyak di Jawa Barat 4.780 buah, sementara di Papua Barat hanya ada 3 buah. Tak sampai di sini saja, pemerintah juga terus berupaya dengan program pengadaan buku bacaan untuk perpustakaan di seluruh Indonesia, bahkan program ini turut didukung oleh PT. POS Indonesia yang menggratiskan biaya pengiriman buku tersebut. Selanjutnya, dukungan juga terus digencarkan pada insan-insan yang peduli literasi dengan mendata dan memberi bantuan pada Taman Baca Masyarakat.

Upaya-upaya ini telah lama dilakukan, tetapi hasilnya masih terasa kurang efektif. Perpustakaan dibangun, buku disediakan, tetapi perpustakaan tetap saja sunyi. Bahkan di kota saya tinggal, kedai kopi lebih banyak daripada perpustakaan begitu pula dengan pengunjungnya. Kedai kopi memiliki daya tarik yang lebih memesona ketimbang perpustakaan, sehingga orang-orang lebih betah duduk berjam-jam di sana. Menurut saya, jauh sebelum membangun perpustakaan, ada hal penting lainnya yang harus terlebih dahulu dibenahi, yaitu budaya membaca.

Berawal dari rumah

Bisa membaca tidaklah sama dengan gemar membaca, tetapi banyak orang yang menyamakan kedua hal tersebut. Kesalahpahaman konsep inilah yang menjadi salah satu faktor perusak minat dan budaya baca anak. Banyak pihak yang memaksa anak untuk menggegas mereka bisa membaca tanpa mempertimbangkan efek psikologis pada anak. Orang tua khawatir bila anaknya belum bisa membaca di usia dini, sehingga guru PAUD dibebankan untuk menghilangkan kekhawatiran tersebut dengan membuat anak hafal huruf dan bisa membaca sebelum masuk SD.

Pemaksaan ini benar berhasil membuat anak bisa membaca, tetapi sayangnya menurut Harry Santoso (2017), justru mematikan fitrah belajar dan gairah membaca anak. Padahal seharusnya, anak-anak terlebih dahulu harus diintimkan dengan buku tanpa harus memaksa mereka bisa membaca barisan-barisan huruf di dalamnya. Menyediakan berbagai buku dengan ilustrasi menarik dan minim tulisan merupakan cara jitu untuk menjadikan anak senang ‘membaca’ gambar buku dengan imajinasinya sendiri. Hal ini akan membuat anak “jatuh cinta” pada buku sebelum ia bisa membaca. Pada saatnya nanti, ketika ia sudah bisa membaca diyakini kecintaannya pada buku akan terus tumbuh.

Hal penting lainnya yang harus diperhatikan oleh orang tua untuk menumbuhkan budaya literasi pada anak ialah menjadi role model “kutu buku.” Anak perlu melihat contoh nyata untuk menumbuhkan pembiasaan, bukan pada perintah-perintah yang bersifat searah. Anak disuruh membaca setiap hari, tapi sebaliknya, ayah ibu tak pernah punya waktu untuk membaca. Menyadari pentingnya waktu membaca di rumah juga dimanfaatkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan dengan dicanangkannya Program Gernas Baku (gerakan nasional baca buku) bagi orangtua dan anak yang bekerja sama dengan pihak sekolah.

Jika semua pihak keluarga telah memiliki budaya membaca yang baik, maka langkah lanjut yang bisa dilakukan ialah menyediakan perpustakaan mini di rumah. Hal ini terbukti efektif bagi saya dan keluarga. Memiliki beberapa koleksi buku akan membuat kita lebih punya waktu untuk membaca. Buku di perpustakaan mini kami, sebagian milik pribadi, yang secara berkala kami beli saat mengunjungi toko buku, namun ada juga buku pinjaman dari perpustakaan yang lebih lengkap. Kami pinjam untuk jangka waktu tertentu, dan setelahnya dikembalikan.

Membenahi perpustakaan

Tak semua keluarga memiliki kemampuan finansial yang baik, yang bisa mengalokasikan uang bulanannya untuk penyediaan buku. Namun, saya rasa semua keluarga mampu menyisihkan waktunya untuk bertandang ke perpustakaan kota atau daerah mereka tinggal. Tidak perlu setiap hari, cukup di akhir pekan untuk satu atau dua jam, tetapi konsisten.

Jika setiap keluarga memiliki komitmen seperti di atas, maka pihak perpustakaan juga harus menyeimbangikannya dengan memberikan pelayan maksimal pada pengunjung. Selama ini, ada banyak perpustakaan yang fisiknya bagus, tetapi ‘ruh’nya mati suri. Buku-buku terpajang rapi tanpa ada yang menyentuh hingga pada akhirnya menjadi barang pajangan yang usang dimakan waktu.

Mengembalikan ruh perpustakaan sebenarnya tidaklah sulit, menurut Hernowo (2004), dua hal penting yang harus dimiliki oleh perpustakaan ialah; pertama, tersedianya buku-buku yang menarik dan kontekstual, artinya buku yang menjadi koleksi adalah buku-buku yang memang dibutuhkan oleh para pengunjung; kedua, pengelola yang gigih dan mau menjadi ‘model’ kegiatan baca-tulis yang memberdayakan.

Ketersediaan buku yang sesuai dengan kebutuhan pengunjung atau istilah yang bersifat kontekstual menjadi penentu sedikit banyaknya pengunjung perpustakaan. Sehingga pemerintah perlu mengkaji ulang pada program peyediaan buku perpustakaan. Tidaklah bijak jika semua perpustakaan mendapatkan buku yang sama, jika kebutuhannya jelas berbeda. Mungkin untuk daerah industri, buku-buku tentang berbagai jenis industri akan lebih bermanfaat ketimbang buku yang mengulas tentang kemaritiman.

Pustakawan juga perlu membenahi niatnya. Kebanyakan pustakawan berpikir bahwa tugas utamanya hanyalah mengontrol sirkulasi buku dan mendata buku-buku yang menjadi koleksi perpustakaan tempatnya bekerja. Sejatinya, tugas utama pengelola perpustakaan adalah memberdayakan dirinya dengan berbagai buku bergizi untuk kemudian memfasilitasi para pengunjung dengan hal serupa. Jika pustakawan belum mampu memberdayakan dirinya, maka mustahil perpustakaan tersebut akan mampu memberdayakan orang lain. Betapa jika pustakawan hanya berkutat pada kesibukan administrasi dan melupakan peran utamanya sebagai pembangkit ruh perpustakaan, tak akan ada program-program penggerak literasi bagi para pengunjung dan masyarakat sekitarnya.

Menjadi bangsa literat bukanlah hal yang mustahil bagi Indonesia, selama kita mau bersinergi dengan berbagai pihak. Dari semangat menumbuhkan budaya literasi keluarga, para orang tua dan anak-anaknya dapat membangun komitmen menyediakan waktu khusus untuk membaca di rumah, mengunjungi perpustakaan sebagai agenda rutin keluarga, dan bermitra dengan sekolah. Yuk sama-sama menjadi keluarga literat untuk menjadikan Indonesia sebagai bangsa yang literat![]

Penulis adalah Guru SMA dan Team Training Sekolah Sukma Bangsa Pidie

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK