Aceh dan Buya Krueng

Muhajir Juli. (Ist)

Muhajir Juli

Puluhan perwakilan pemuda di sekitar PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) gelisah. Mereka protes. Mendesak PT Pembangunan Perumahan (PP) Persero, agar memprioritaskan pemuda tempatan sebagai tenaga kerja pada proyek pembangunan pabrik NPK Chemical. Tak tanggung-tanggung, mereka minta porsi 75 %.

Pemuda -pemuda itu pantas gelisah. Aceh bukan daerah yang ramah bagi angkatan kerja. Propinsi yang dikenal dengan Serambi Mekkah, sedang mengandung bom waktu:kemiskinan.

Bagi dunia industri, penduduk tempatan yang tidak memiliki keahlian sesuai kebutuhan mereka, adalah bagian dari masalah. Tak menampung, maka akan bermasalah secara sosial. Ditampung dan dipekerjakan, mereka tidak memiliki skill.

Di Aceh, skill adalah persoalan, sekaligus sebuah anomali. Sesuatu yang tidak patut, tapi kenyataan yang tidak bisa ditolak. Ini ada sangkut pautnya dengan masa lalu, yang berdampak hingga saat ini. Tentang kebijakan nasional yang tidak bijak menghadirkan keadilan dalam semua sektor.

Di Aceh, universitas-universitas membuka fakultas, ekonomi, politik, pendidikan dan pengajaran, kebidanan, keperawatan, fakultas hukum dan manajemen komputer.

Bukan tidak butuh. Aceh membutuhkan semua fakultas itu. Tapi tidak perlu surplus. Aceh bukan negeri yang padat penduduk. Aceh negeri yang kaya SDA. SDA tidak bisa ditambang dengan pengetahuan ilmu politik. Tak bisa disedot dengan pengetahuan kependidikan umum. SDA hanya bisa ditambang oleh oleh pemodal besar yang memperkerjakan tenaga terampil bidang khusus. Untuk mengeruk emas, membutuhkan ahli pertambangan, atau setidaknya enginer bidang pertambangan.

Ketika masih semester V kuliah di Universitas Almuslim, Bireuen, saya sempat berpikir mengapa Unsyiah tidak dibuka oleh pemerintah sebagai Institut Teknologi Aceh (ITA). Mengapa STIK Pante Kulu tidak dibuka sebagai Intitut pertanian Aceh (IPA). Kita butuh itu. Aceh membutuhkan itu. Karena dengan menjadi enginer, rakyat Aceh akan mendapatkan kesempatan menikmati hasil alamnya sendiri.

Dulu, ketika industri besar di buka di Aceh, mayoritas rakyat Aceh menjadi penonton, yang kemudian tersingkir ke pinggir dan membentuk kantong-kantong kemiskinan. pekerja mayoritas dari luar. Bila ada putra dan putri Aceh, bisa dihitung dengan jari. PT KKA, PT PIM, PT Arun, dan AFF, ketika masa jayanya, dipenuhi oleh pekerja dari luar Aceh, yang tidak bisa berbahasa Aceh. Konon lagi memahami Aceh. Mereka dikawal oleh negara melalui petugas keamanan yang bernama ABRI.

Tak ada asimilasi, karena hidup mereka eklusif. Ditempatkan dalam tembok-tembok dengan rumah-rumah mewah dengan segenap fasilitas. tanpa asimilasi sosial, mustahil pendapatan besar yang mereka tuai pekerjaan itu, bisa terbagi ke orang Aceh. tanpa interaksi, uang besar itu tak menjamah rakyat Aceh yang miskin di balik tembok perumahan pekerja industri vital.

Orang Aceh sakit hati. Tapi tak tahu harus berbuat apa. Itu pula yang mendorong intelektual Aceh tercerahkan, bersepakat untuk menyokong ide Hasan Tiro. Aceh harus merdeka.

Belum Terlambat

Protes sejumlah pemuda di ring 1 PT PIM, haruslah menjadi tonggak bersama untuk memulai sesuatu yang alpa di masa lampau. Pemuda Aceh tidak boleh lagi menjadi penonton di negerinya. Kebodohan, ketiadaan skill, bisa diobati dengan memberikan mereka pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pembangunan.

Saat ini, tambang emas, tambang migas dan tambang-tambang lain yang akan dibuka di Aceh, membutuhkan banyak tenaga kerja. Ini peluang. pemerintah harus mampu membangun bergaining kepada para investor. kalau ingin mengeruk hasil bumi Aceh, maka mereka harus menyiapkan anak-anak Aceh sebagai tenaga kerja.

Mungkin, Medco yang beroperasi di Aceh Timur bisa menjadi rujukan. Mereka melatih putra daerah ke Cepu untuk belajar migas.

Unsyiah, STIK Pante Kulu dan semua universitas sudah harus bangun dari tidur panjang–jikalau memang terlelap. Desak Pusat untuk membuka fakultas atau universitas baru, yang sesuai dengan kondisi Aceh.

Kita akan terus bodoh dan dianggap bodoh, apabila tidak pernah mau bersatu dan menuntut. Punca kekisruhan adalah karena kemiskinan. kemiskinan lahir dari tidak terdistribusinya kesejahteraan. Kesejahteraan tidak akan pernah lahir, bila tiadanya lapangan kerja yang pantas dan sesuai dengan tuntutan hidup masyarakatnya. Ketiadaan pekerjaan yang mapan, membuat manusia jauh dari agama. Karena orang lapar takkan sanggup belajar dengan baik.

Semoga ke depan tidak ada lagi buya krueng taho teudong-dong, buya tamong meuraseuki. Tapi menjadi:buya krueng peudong ikue, aneuk pusu tajam lagoina. Nyoe kateuka nikmat Tuhanku, ku syuko ngon taat agama.

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK