Di Kenya, Lelaki Boleh Menikah Sebanyak-banyaknya

Sejak 2014 lelaki berusia 18 tahun ke atas di Kenya, Afrika Timur, diperbolehkan menikahi wanita sebanyak apapun. Maka tidak heran bila di sana ada lelaki yang memiliki 130 istri serta ratusan anak-anaknya. Pengesahan UU Perkawinan itu ditentang oleh para wanita yang menjadi anggota parlemen. Tapi mereka tak berdaya melawan suara mayoritas.

Dilansir oleh BBC, Undang-Undang Perkawinan itu ditolak oleh 30 dari 69 anggota parlemen berjenis kelamin perempuan. Tapi penolakan tersebut tidak membuahkan empati. Konyolnya lagi, setiap ingin menambah istri, laki-laki tak perlu meminta izin pada istri-istrinya terdahulu.

Pun demikian, dengan UU baru ini maka semua perkawinan harus didaftar dan ditetapkan batas minimum bagi seseorang untuk menikah adalah 18 tahun.

Seorang anggota parlemen perempuan, Priscilla Nyokab, berpendapat UU mestinya ditolak demi kesatuan keluarga.

“Jika Anda ingin menikah, penting bagi Anda untuk memberi tahu istri bahwa Anda akan memiliki pasangan lain. Demi kesatuan keluarga, penting memberi tahu semua pihak,” tegasnya seperti dikutip situs internet berita Kenya, Standard Digital.

Dilansir CNN Indonesia, Sensus Penduduk dan Perumahan Kenya paling baru menyebutkan hampir 1,5 juta warga Kenya atau 10 persen dari pasangan menikah, melakukan poligami.

Tetapi kelompok-kelompok pegiat perempuat mengatakan angka ini jauh dari angka sebenarnya karena praktek poligami merupakan bagian dari tradisi dan tidak didaftarkan.

Lebih buruknya lagi, banyak kaum perempuan tidak menyadari bahwa mereka dipoligami karena suami mereka membentuk keluarga baru di tempat lain tanpa memberi tahu isteri sebelumnya.

“Poligami adalah faktor penyebab utama kemiskinan kaum pria yang sebenarnya tidak mampu melakukan pernikahan dengan lebih dari satu isteri. Dan kaum perempuan dan anak-anak yang paling menderita,” kata Teresa Omondi-Adeitan, direktur eksekutif dari Federasi Pengacara Perempuan Kenya.

“Kadang-kadang mereka diusir dari rumah ketika isteri baru tiba dan ketegangan pun muncul. Di sejumlah kasus, suami harus berbagi pendapatan yang kecil dengan seluruh isterinya. Akhirnya uang, makanan dan kebutuhan lain bagi masing-masing menjadi lebih sedikit.”

Kemiskinan

Konvensi PBB tentang Pengentasan Segala Bentuk Diskriminasi pada Perempuan menyebutkan bahwa poligami seharusnya tidak dianjurkan dan dilarang karena tidak ada kesetaraan dalam perkawinan semacam itu dan memiliki dampak emosi dan keuangan yang negatif terhadap perempuan dan anak-anak.

Namun perilaku kaum pria memiliki isteri lebih satu sudah terjadi selama berabad-abad, dengan mengatakan mereka memerlukan keluarga besar untuk membantu pekerjaan pertanian dan memastikan keturunan jika anak mereka meninggal atau isteri sebelumnya mandul.

Faktor tradisi juga memainkan peran penting karena ada pandangan bahwa keluarga besar merupakan kebanggaan, lambang kemakmuran dan status sosial tinggi dan melindungi kaum perempuan di masyarakat yang melarang mereka memiliki sumber daya seperti tanah.

Biro Statistik Kenya mencatat hampir 43 persen rumah tangga poligami adalah rumah tangga miskin, dibandingkan dengan 27 persen warga miskin di perkawinan monogami.

Biro ini mencatat 46 persen rumah tangga miskin terjadi pada perempuan yang suaminya memiliki isteri baru dan tinggal terpisah.

‘Seks untuk Bertahan Hidup’

Ketika sebagian besar perempuan Kenya lebih miskin dari kaum lelaki, ibu tunggal kesulitan menyediakan makanan, biaya pendidikan dan kesehatan atau keamanan bagai anak-anak mereka.

Akibatnya, anak mereka rentan terkena penyakit mulai dari malaria hingga kurang gizi, putus sekolah atau sudah bekerja. Mereka juga berisiko menikah dini, menjadi korban perdagangan seks dan kerja paksa.

“Ada banyak faktor yang menyebabkan anak-anak rentan, tetapi pengalaman kami memperlihatkan bahwa kemiskinan adalah faktor utama,” ujar Angela Nyamu, Direktur Terres Des Hommes.

“Bukti-bukti memperlihatkan bahwa struktur keluarga tidak berfungsi. Anak-anak dari orang tua tunggal lebih rentan dan bisa mendorong mereka menjadi korban eksploitasi.”

Mulai dari daerah kumuh hingga pinggir pantai Kenya, ribuan anak melakukan “hubungan seks untuk bertahan hidup” dengan imbalan sekantong gula, sepotong ikan atau tumpangan pulang ke rumah.

Dalam banyak kasus perilaku ini terkait dengan poligami.

“Ayah saya kawin lagi dan ibu, saudara saya harus keluar rumah,” ujar Monasha, 19, yang mulai bekerja sebagai pekerja seksual komersial di tempat wisata pantai Diani ketika berusia 15.

“Saya harus berhenti sekolah dan membantu di rumah. Saya mulai melakukan ini ketika tidak ada pekerjaan lain yang menghasilkan uang,” katanya kepada Yayasan Thomson Reuters.

Editor: Muhajir Juli
Sumber foto: AFP/Yasuyoshi Chiba.

KOMENTAR FACEBOOK