Jadi Sektor Basis, KEK Arun dan KIA Ladong Berpotensi Gerakkan Ekonomi Warga

Dosen Ekonomi Pembangunan Fakultas Ekonomi Unsyiah Dr. Abdul Jamal, SE, M.Si. @aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Syiah Kuala, Dr Abdul Jamal, SE, Msi mengatakan, kondisi Aceh saat ini sudah sangat kondusif dan aman, sehingga sangat terbuka untuk melakukan investasi. Salah satu indikatornya kata dia, warga masih bebas mondar-mandir di jalan hingga subuh tanpa perlu merasa takut.

Hanya saja bagaimana pemerintah meningkatkan promosinya untuk meyakinkan calon investor bahwa Aceh sudah aman untuk berinvestasi. Di samping itu, pemerintah juga perlu meyakinkan masyarakat agar terbuka untuk itu.

“Artinya, bukan karena mereka tidak bekerja di situ kemudian harus mengganggu investasi yang ada,” ujarnya.

Selama ini kata Jamal, masih sering terdengar ungkapan buya krueng teudong-dong, buya tamong meuraseuki. Opini itu menurutnya harus dihilangkan karena bila berbicara mengenai kemakmuran suatau daerah itu artinya ada uang yang masuk ke daerah tersebut. Dengan begitu masyarakat setempat juga bisa merasakan kemakmuran. Jadi jangan langsung merasa alergi ketika ada orang luar yang ingin membuka usaha atau investasi di Aceh.

“Kita jangan hanya berharap ketika investasi terhadap suatu sektor itu ada, lantas kita harus bekerja di situ? Saya rasa tidak mesti begitu, tetapi kita bisa dengan cara lain. Dalam istilah ekonomi regional itu, ketika sektor basis itu berkembang maka nanti akan muncul sektor sektor nonbasis lainnya,” ujar Wakil Dekan I FEB Unsyiah tersebut kepada aceHTrend, Senin (30/9/2019).

Bila sektor basis atau leading sector ini berkembang, secara tidak langsung akan mendukung pertumbuhan sektor lain yang akan menampung kemampuan masyarakat di bidang tertentu. Di sinilah masyarakat bisa mengembangkan kreativitasnya walaupun tidak terlibat langsung dalam sektor basis tadi.

Kehadiran Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Arun dan Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong bisa menjadi sektor basis yang memiliki prospek positif ke depan. Pemerintah perlu mendorong supaya kedua kawasan ini terus bergerak karena berpotensi menyerap lapangan kerja yang besar.

Ia mencontohkan, para pekerja yang bekerja di kawasan itu misalnya, tentunya memiliki kebutuhan-kebutuhan yang tersedia di luar kawasan. Pemenuhan kebutuhan tersebut oleh masyarakat sekitar tentunya akan mendatangkan penghasilan bagi mereka. Dalam istilah ekonomi disebut dengan trickle down effect.

“Munkin kalaupun itu tidak terjadi secara penuh, polarisasi itu pasti terjadi, paling tidak walau pun  tidak terjadi 100 persen, 40 persen pasti ada. Jadi, jika dibandingkan tidak sama sekali atau nol yang kita terima, kan lebih bagus ada yang 40 tadi,” ujarnya.

Ia berharap KIA Ladong dan KEK Arun bisa terwujud sebagaimana yang telah direncanakan. Para investor harus diberikan kesempatan untuk berinvestasi di Aceh dan masyarakat juga harus terbuka.

“Saya tetap optimis dampak positif dengan hadirnya KEK Arun dan KIA Ladong sangat besar, tentunya ekonomi rakyat akan bangkit. Walaupun seperti yang saya katakan tadi bagi masyarakat yang tidak memiliki keahlian dalam lingkungan itu tapi dia memiliki keahlian lain yang dapat men-support kebutuhan-kebutuhan yang ada di dalam,” ujarnya.

Jamal menyarankan pemerintah dan instansi terkait untuk meningkatkan sosialisasi. Pemerintah harus mempunyai semangat menyakinkan investor bahwa masyarakat di Aceh sangat welcome, dan soal keamanan sudah tidak ada masalah lagi. Hal lain yang perlu diperhatikan pemerintah adalah soal pembebasan lahan dengan masyarakat sehingga tidak terjadi masalah. Pemerintah menurutnya perlu memberi pemahaman kepada masyarakat akar rumput akan pentingnya investasi untuk Aceh.

Aceh juga memiliki SDA yang luar biasa seperti minyak, gas, emas, perak, batu bara, aluminium, dan kekayaan alam lainnya. Di sinilah Aceh perlu menggandeng pihak lain untuk bekerja sama, di samping terus mempersiapkan SDM lokal yang andal.

Namun belakangan ini menurutnya juga sering muncul penolakan-penolakan dari masyarakat Aceh sendiri terhadap hadirnya investor di Aceh, baik investasi di segi pertambangan dan industri lainnya di Aceh.

“Bagi masyarakat Aceh sendiri menganggap bahwa orang Aceh hanya menjadi penonton ketika orang luar mengeruk hasil kekayaan Aceh yang kemudian dibawa keluar. Masyarakat Aceh dianggap bagaikan istilah kata (buya krueng tedong-dong, buya tamong meraseuki). Tentunya kesalahan dari pemaknaan kata tersebut juga akan menghambat kemajuan dan kemakmuran untuk Aceh sendiri,” katanya.

Terakhir, ia mengatakan bahwa pemerintah daerah harus memiliki pandangan jauh kedepan untuk memprediksi kebutuhan sektor pendidikan ke depan yang menyesuaikan kondisi di Aceh saat ini.

“Jadi kita harus mulai mendidik dari sejak sekarang supaya kekayaan alam di Aceh harus bisa kita kelola sendiri ke depan, dengan dimulai dari sekarang secara bertahap dan terus menerus melakukan pembenahan,” kata Jamal.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK