Membangun Perdamaian Melalui Literasi Keluarga

Oleh Mahlianurrahman*

Tidak dapat dipungkiri, dengan kehadiran globalisasi yang semakin maju, banyak dari generasi muda saat ini mengalami interaksi dan bahkan hubungan kerja dengan orang-orang dari latar belakang yang berbeda. Oleh karena itu sangat perlu mempersiapkan anak muda yang mencintai perdamain sejak usia dini.

Menghormati perbedaan agama, sosial, ekonomi, penampilan fisik, kemampuan, dan minat adalah aspek penting dalam menciptakan iklim lingkungan yang damai baik di rumah, di sekolah maupun di masyarakat. Perdamaian adalah komitmen yang mengakar pada prinsip-prinsip kebebasan, keadilan, kesetaraan, dan solidaritas diantara semua manusia dan keharmonisan manusia dengan lingkungan. Damai adalah milik manusia yang paling berharga.

Deklarasi Perserikatan Bangsa Bangsa pada tahun 1998 menyatakan bahwa budaya damai adalah seperangkat nilai, sikap, tradisi, cara hidup menolak kekerasan dalam segala bentuk dan mengatasinya melalui dialog dan negosiasi. Menjunjung tinggi prinsip-prinsip keadilan, demokrasi, toleransi, solidaritas, kerja sama, keanekaragaman budaya, pemahaman antar bangsa, etnis, agama, budaya, dan antar individu.

Budaya damai harus dibangun sejak dari keluarga, anak akan belajar menghormati orang lain dan melindungi yang lemah. Namun, orang tua mesti hati-hati, karena keluarga bisa menjadi tempat anak belajar kebencian, prasangka buruk, dan kekerasan. Perdamaian dapat dikatakan telah tercipta jika warga memiliki sikap dan perilaku tolong-menolong, saling menghargai, menyayangi, tidak saling curiga, bertetangga dengan baik, membela yang teraniaya, dan menghormati perbedaan pendapat.

Indonesia merupakan salah satu bangsa yang banyak memiliki keanekaragaman, baik budaya, suku, adat, hayati, bahasa, maupun agama. Perdamaian akan tercipta jika sejak dini anak telah memiliki sikap saling menghargai dan menerima keberadaan orang lain.

Keberadaan keanekaragaman semestinya tidak membuat hubungan interaksi antara sesama menjadi terpecah. Jika ditelusuri lebih mendalam, banyak anak sekarang yang mudah marah dan menghina temannya, memiliki rasa dendam, senang bersilat lidah dan berat untuk memaafkan atau meminta maaf.

Berdasarkan data Podes periode tahun 2011-2018 jumlah desa/kelurahan yang menjadi ajang konflik massal cenderung meningkat, dari sekitar 2.500 desa pada tahun 2011 menjadi sekitar 2.800 desa/kelurahan pada tahun 2014, dan kembali meningkat menjadi sekitar 3.100 desa/kelurahan pada tahun 2018. Hal ini harus menjadi perhatian bersama dalam menyelesaikan permasalahan tersebut.

Pola asuh

Keluarga adalah pusat perubahan Indonesia dan orang tua sebagai teladan, panutan, pemberi semangat, pembentuk karakter anak, dan sumber cahaya utama dalam menerangi pengetahuan anak. Orang tua memiliki tanggungjawab penuh dalam menjadikan anak agar mampu menjaga perdamaian ditengah-tengah masyarakat melalui pola asuh yang benar. Anak akan lebih banyak belajar perilaku damai dari cara orang tua berbicara, merespon tantangan, dan melihat masalah. Sebagai orang tua, tentu perlu mencontohkan kebaikan, saling pengertian, dan memiliki sikap empati kepada sesama.
Jika orang tua mencontohkan intoleransi dan agresi, tentu anak akan belajar untuk tidak toleran dan agresif. Jika anak mendapatkan kehidupan yang adil, tentu secara tidak langsung anak telah belajar tentang keadilan. Jika seorang anak hidup dengan persahabatan, tentu secara tidak langsung anak telah belajar untuk menemukan cinta di dunia.

Membangun budaya damai bertujuan untuk mengajarkan anak untuk berpikir kritis.
Anak akan belajar dengan baik ketika anak terlibat langsung dalam proses. Namun, faktanya tidak sedikit tindak kekerasan didapatkan oleh anak di dalam keluarga. Banyak penelitian yang membuktikan bahwa hingga 80 % anak menghadapi hukuman fisik di rumah dan sepertiganya dilakukan mengunakan benda.

Organisasi kesehatan dunia memperkirakan bahwa 150 juta anak perempuan dan 73 juta anak laki-laki di bawah umur 18 tahun mengalami kekerasan seksual. Jika seorang anak hidup dengan kritik, ia belajar untuk menghukum. Jika seorang anak hidup dengan permusuhan, ia belajar untuk berkelahi. Jika seorang anak hidup dengan toleransi, ia belajar untuk bersabar. Membangun budaya damai seharusnya tidak lagi menjadi pilihan.

Orang tua sangat berperan besar dalam membantu anaknya untuk belajar, orang tua merupakan guru pertama di dalam keluarga. Berinteraksi dengan anak adalah suatu hal terpenting yang harus dilakukan, sehingga dapat membantu anak lebih optimis dan lebih sukses di lingkungan. Anak sangat membutuhkan kesempatan bersama orang tuanya. Ketika anak menghabiskan waktu bersama orang tua dan mendapatkan perhatian yang dibutuhkan, tentu anak akan merasa lebih aman dan anak akan memiliki rasa percaya diri yang lebih tinggi.

Ketika anak tahu bahwa orang tuanya peduli terhadap masa depan anak, maka anak cenderung belajar lebih keras di sekolah, anak akan memiliki sifat kepribadian yang lebih positif, dan memiliki respon yang lebih baik dalam berhubungan dengan teman-temannya. Keterlibatan keluarga adalah sebagai prediktor penting dalam keberhasilan akademik anak dan keberhasilan dalam berinteraksi sosial dan memiliki kemampuan berinteraksi sosial yang baik.

Program literasi

Literasi keluarga adalah salah satu kekuatan dalam membentuk kepribadian anak. Penanaman kepribadian yang baik harus dilakukan sejak dini, terutama penanaman rasa persatuan dan kesatuan sebagai anak bangsa. Kepribadian yang baik generasi bangsa akan menentukan arah kehidupan bangsa Indonesia di masa yang akan mendatang. Melalui literasi, nilai-nilai pancasila harus ditanamkan sejak kecil.

Literasi keluarga memiliki peran dalam membangun budaya damai pada anak, terutama pada anak usia dini. Literasi keluarga merupakan salah satu proses yang menentukan kepribadian bangsa. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan keluarga dalam membangun budaya damai pada anak melalui literasi, di antaranya adalah dengan menanamkan pada anak nilai-nilai multikultural, menghargai segala bentuk perbedaan pendapat, dan menjadi penengah ketika terjadi konflik yang berkaitan dengan suku, agama, dan ras. Membimbing anak agar mampu menempatkan persatuan, kesatuan, sebagai kepentingan bersama. Mengembangkan persatuan Indonesia atas dasar Bhinneka Tunggal Ika. Memelihara ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Orang tua dapat menerapkan literasi pada anak dengan berbagai cara, misalnya dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk mendengarkan orang tuanya membaca tentang konsep perdamaian, saling bercerita dengan melihat gambar-gambar, mendiskusikan hasil bacaan, dan memberikan hadiah kecil atau pujian setelah anak membaca. Anak yang membaca lebih dari sekali dalam sehari akan memiliki dampak positif yang substansial pada pengetahuan dan karakternya.

Melalui literasi, orang tua tidak hanya akan berhasil membangun pengetahuan anak. Namun, berhasil membangun budaya damai. Anak yang sukses bukanlah anak yang mendapatkan hasil penilaian paling tinggi, melainkan anak yang jujur, saling menghormati, kreatif, pandai bergaul, toleransi, memiliki sikap nasionalisme dan mampu menjaga perdamaian antar sesama. Sudah saatnya keluarga bergerak menyusun program literasi agar terciptanya perdamaian ditengah-tengah masyarakat.

*)Merupakan relawan Bintang Sekorong Aceh Selatan. Dapat dihubungi adalah Rahmanklut@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK