DPRA Baru, Masalah Lama

@aceHTrend/Taufan Mustafa

Oleh Muhajir Juli

Senin (30/9/2019) 81 anggota DPRA hasil pemilihan legislatif 2019 dilantik sebagai wakil rakyat. Ada yang benar-benar baru, ada pula yang sudah lama. Ada yang sudah 10 tahun, ada yang baru mengawali tahun pertama.

Kursi Partai Aceh (PA) kian menyusut, walau mereka masih mayoritas. Banyak yang dikenal vokal kini sudah tidak ada lagi. Mereka tergerus zaman. Yang baru datang dengan segenap harapan.

Di media sosial seperti Facebook, ucapan selamat memenuhi linimasa selama dua hari ini. Foto-foto yang dilantik dibagikan oleh banyak orang. Banyak harapan yang kemudian disematkan kepada mereka. Termasuk harapan agar anggota DPRA idealis. Para pengharap itu beragam. Banyak pula para pemain anggaran yang selama ini berada di balik panggung. Mereka tetap menyuarakan agar anggota DPRA yang baru dilantik, harus idealis. Dunia memang lucu.

Anggota DPRA yang baru dilantik untuk periode 2019-2024, masih saja harus bergelut dengan masalah lama di Aceh. kemiskinan, ketimpangan ekonomi, ketimpangan kesehatan, Aceh yang minim pendapatan asli daerah, Aceh yang krisis lapangan kerja, serta kewenangan Aceh yang tak kunjung tuntas diberikan oleh Pemerintah Pusat.

Satu-satunya yang baru untuk 2019 adalah, APBA 2020 diketuk palu pada September 2019. Hanya itu saja.

Berharap anggota DPRA menjalankan fungsinya 100 persen, tentu saja tidak bisa. Tidak akan pernah bisa. Mereka sampai ke gedung itu tidak gratis. Minimal 3 miliar Rupiah per satu kursi. Untuk menyogok rakyat agar memilih mereka. Tanpa disogok, jangan harap akan dipilih. Bahkan lomba sogok menyogok pun telah memakan korban sesama kompetitor.

Tahun-tahun pertama, anggota parlemen tentu harus berpikir tentang paket yang dikelola untuk mengembalikan modal yang sudah dihabiskan. Tahun kedua, mulai harus berpikir untuk memberikan imbal atas jasa yang diberikan oleh donatur ketika pemilu. Tahun ketiga dan keempat, harus mengumpulkan keuntungan. tahun kelima, mulai berpikir untuk rakyat, menjadi Robin Hood dalam berbagai kegiatan sosial.

Kita semua merasakan, bila pileg 2019 bukanlah pemilu yang sehat. Bukan hanya pemain baru, para incumbent pun harus membeli suara rakyat. Rakyat memaksa calon wakilnya untuk menyuap mereka. Rakyat tak peduli walaupun incumbent telah membangun apapun sesuai kebutuhan rakyat. Pemilih kita (rakyat Aceh) telah memilih jalan pragmatis.

Di tahun kedua para agen akan mulai berteriak. Pendemo akan mulai berteriak. “Rakyat” akan mulai berteriak. Tapi teriakan itu tidak akan mendapatkan perhatian serius. saya meyakini itu. Sesuatu yang sudah dibayar, tidak perlu lagi untuk dilayani lebih lanjut. Semua sudah lunas di musim pemilu.

Sedangkan masalah kita, ke depan semakin bertambah. Semoga saja anggota DPRA yang ada, menyisakan perhatian untuk kepentingan bangsa, seberapapun mereka harus berusaha keras mengembalikan modal yang terlampau besar untuk mendapatkan satu kursi sebagai “wakil rakyat”.

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK