Kolom: Pemimpin Tanpa Huruf “n”

Hendra Syahputra (Ist)

Oleh Dr. Hendra Syahputra

LANGIT sore Kota Banda Aceh mulai terlihat mendung, sebagian birunya tak tampak karena terpapar kabut asap. Kota berjulukan Koetaradja ini juga terkena dampak asap yang mengganggu sebagian aktivitas masyarakat.

Sore itu, saya bersiap-siap menuju Pulau Weh, Sabang. Saya dijadwalkan presentasi untuk sebuah konferensi internasional keesokan harinya. Dari Pelabuhan Ulee Lheue, saya menggunakan Kapal Cepat Bahari Express. Hanya mengeluarkan uang sebesar 80 ribu rupiah, saya pun memiliki tiket naik kapal itu.

Pukul 16.30 Wib, kapal cepat yang saya tumpangi mulai meninggalkan Pelabulan Ulee Lheue. Perjalanan menempuh waktu 45 menit. Sangat cepat. Di dalam lambung kapal, saya duduk di salah satu seat di kelas ekonomi. Tapi tempat duduk hanya saya gunakan untuk meletakkan tas yang berisi pakaian dan perlengkapan pribadi. Sementara ransel dan kamera saya bawa kemana saya pergi.

Saya memilih naik ke lantai tiga kapal. Duduk di dek belakang. Hamparan luas lautan mulai terlihat ketika kapal mengarungi lautan sangat gesit, meski gelombang kecil menyertainya.

Dalam perjalanan kapal ekspres tersebut, saya mengisi waktu luang dengan membaca buku. Tentu saja setelah berdoa dan membaca beberapa hafalan surat Alquran yang menenteramkan jiwa. Saya baca buku berjudul “Telents Mapping” yang diterjemahkan artinya menjadi Pemetaan Bakat. Buku ini sangat bagus. Isinya mengupas 34 sifat produktif yang dimiliki manusia.

Salah satu ulasan buku tersebut adalah bagaimana seharusnya setiap orang mengenal dirinya sendiri, sebelum ia mengenal banyak orang. Bagaimana harusnya setiap manusia mampu memimpin dirinya sendiri dulu, baru kemudian memimpin orang banyak.

Saya sitir salah satu ulasan buku ini: ada orang yang memahami dan mengetahui dirinya sejak dini, namun banyak orang yang tidak memahami dan mengetahui diri. Di bawah tulisan judul buku itu tertera sebuah judul kecil “inspirasi untuk hidup lebih asyik dan bermakna”.

Empat puluh lima menit tidak terasa, saya tuntas membaca buku itu. Kami sampai di Pelabuhan Balohan, Sabang. Setelah mengurus barang saya naik ke bus yang menjemput saya beserta rombongan. Duduk kembali di bangku belakang, dekat dengan sumber air conditioner, membuat cepat mengantuk dan tertidur.

Dalam tidur menuju lokasi penginapan, saya seperti membayangkan isi buku yang saya baca di kapal cepat tadi. Hm.., mengenal diri sendiri. Saya seperti berhenti dalam dua kata itu. Terlihat seperti gampang dilakukan, tapi bukan pula sesuatu yang gampang dipraktekkan. Kenapa?
Karena banyak orang yang tidak mengenal dirinya sendiri dengan baik, lalu sudah (terlanjur) terlibat dalam pekerjaan dan kegiatan yang melibatkan orang banyak. Buku tadi ingin mengatakan kepada saya dan kita, mengenal diri sendiri juga bermakna keterbukaan kepada diri. Dalam pembuka buku, si penulis mengungkapkan sebuah kalimat yang memiliki makna yang sangat dalam :

“Ada orang yang beruntung karena mengenal dirinya, namun banyak orang yang tidak beruntung karena abai akan dirinnya. Ada orang yang terbuka pandangannya karena mau mengambil pelajaran, namun banyak yang menutup pandangan dan tidak mau mengambil pelajaran.”

Yang sangat saya ingat setelah membaca buku ini adalah makna kekuatan dari sebuah keterbukaan menjadi penting. Tentu saja bukan hanya untuk mengenal diri sendiri dengan baik, tetapi juga “berjihad” untuk mengambil pelajaran hidup sebagai manusia.

Mengenal diri sendiri adalah bagian bagian pelajaran memimpin diri sendiri. Kenapa? Karena memimpin diri sendiri sebuah pekerjaan “hebat” dalam proses kepemimpinan, sebelum kita bisa memimpin orang lain.
Memimpin layaknya proses mengemudi, di mana banyak aturan dan rambu-rambu yang harus dipatuhi untuk menyelamatkan banyak penumpang yang dibawa di belakangnya. Logikanya, para “penumpang” terkadang tidak peduli dengan siapa yang duduk di depan (pengemudi). Sebagai orang yang duduk di belakang, mereka pasrah saja menyerahkan bagaimana perjalanan akan dilakukan. Duduk sebagai penumpang dan menyerahkan semua keputusan yang diambil oleh seorang pemimpin (driver). Meski dalam perjalanan sang driver belum tentu sepenuhnya bisa mengambil dan menghasilkan keputusan yang terbaik untuk dirinya dan orang lain. Lebih menyedihkan bila keputusan yang dibuat akan menyusahkan dan membebankan orang lain.

Lalu saya membayangkan, sosok orang-orang yang menjadi pemimpin. Betapa berat dan penuh tantangan. Tentu saja jika pemimpin itu pekerja keras, bukan sekedar pemimpin tanpa huruf “n” (baca: pemimpi), banyak hal bisa dilakukannya. Dalam proses ini tentu saja ada hal istimewa yang dibutuhkan setiap orang yang belajar memimpin diri sendiri, yaitu mengalah.

Mengalah adalah sebuah kecerdasan dari seorang pemimpin. Mengapa? karena satu hal (lagi) yang tergolong hadiah yang bernilai cukup mahal dan harus kita berikan kepada orang lain adalah kesabaran dan mengalah.

“Kita” mungkin sering merasa sulit melakukan hal ini. Namun mengalah, dengan ketulusan yang ikhlas adalah sebuah bentuk kerja keras yang tak semua orang bisa melakukannya meskipun kerja keras itu bernilai mulia, tak hanya di mata manusia namun juga di mata Allah.

Sayangnya, mengalah, bukanlah urusan mudah untuk dilakukan. Terlebih bila pelakonnya tidak memiliki kedewasaan dan kematangan emosi yang belum terbangun dengan baik. Jikapun dilakukan, yang sering terjadi adalah keinginan untuk mempertahankan ego dan selalu tak ingin berada di pihak yang kalah.

Serangan kekalahan, tidak selalu bisa ditangkis oleh orang-orang yang tidak punya jiwa pemimpin, meski ia pernah bermimpi menjadi bijaksana. Ia bisa menyembunyikan rencana “curang” yang ia rancang terhadap orang lain, dengan alibi pribadi, orang lain tak akan mengetahuinya. Namun bila setiap pribadi “bercermin” dengan benar, tentu akan bisa melihat dengan bersih bagaimana congkaknya diri sendiri, bagaimana curangnya kita terhadap orang lain? Tentu itu jauh dari urusan menemukan diri sendiri.

Pemimpin yang tidak hanya kuat bermimpi, tentunya sangat mengerti ia hanya akan ‘survive’ melalui banyak orang yang ia pimpin. Bukan ‘power over’ tetapi lebih ‘power through’ terhadap orang yang ia pimpin.

Dalam kenyataan hidup, kita menghadapi kondisi yang cepat berubah, keadaan yang semakin kompleks dan membingungkan. Dalam kondisi ini pemimpin yang mampu menciptakan suasana terbuka, penuh pendapat dan komunikasi yang jujurlah yang akan mampu menyusun kekuatan, dan enerji dalam kapasitas penuh. Tidak separuh hati.

Pemimpin dalam keadaan sepenuh hati, akan siap dalam kondisi ini. Ia akan menjelma menjadi sosok yang matang dalam memimpin, dan gesit mengembangkan kemampuan pengikutnya, lembut dalam merespek diri dan orang lain, serta jujur secara rasional maupun emosional. Hanya dengan cara ini, para pengikut bisa memberi kontribusi nyata dan memiliki semangat yang kuat, meski masalah sering terjadi serta sosok seperti ini selalu berinisiatif untuk memecahkan masalah. Ia mengubah diri dan menjelma menjadi problem solver.

Semua pemimpin Insya Allah pasti memiliki hasrat untuk mengubah dirinya. Hasrat itu tentu tidak bisa hanya dilakukan melalui training atau pendidikan singkat terkait pengembangan diri semata. Lebih dari itu, sejatinya semua pribadi pemimpin yang ingin mengubah diri harus punya framework yang jelas. Seperti sebuah perjalanan yang sudah diuji dalam tahapan proses yang tidak singkat.

Salah satu dari hal itu adalah mengalah dan mengembangkan kemampuan mendengar yang hebat. Ini insight penting bagi pemimpin dalam mengubah hal tak menarik menjadi sesuatu yang lebih simpatik. Mengalah membutuhkan kecerdasan sebelum diimplementasikan. Orang yang bisa menjalani ini tentunya orang yang telah lulus mengenal dirinya sendiri, tanpa deadline.

Untuk bisa mengenal diri sendiri, setiap pribadi butuh cermin, seperti apa? Cermin yang bersih sehingga mampu melihat refleksi setiap diri dengan baik. Ini adalah proses mengamati diri yang luar biasa. Ini akan mengarahkan kita pada keterbukaan dan kesungguhan. Kesungguhan untuk memimpin dan tidak sekedar kesungguhan bermimpi.

Keterbukaan dan kesungguhan melakukan suatu kebaikan memang butuh perjuangan. Dan itu bukan pekerjaan mudah. Tapi saya yakin, Insya Allah kita (saya, dia, anda dan mereka) sudah mencobanya. Mencoba mengenal diri kita sendiri sebelum memimpin orang lain. Setelah itu, kita bisa memulai menjalani peran kita di muka bumi ini dengan baik dan enjoy. Mari belajar menjadi pemimpin. Seorang pemimpi dengan hurup n []

Penulis adalah Alumnus Program Penguatan Kapasitas Pemimpin Indonesia yang diselenggarakan oleh Lemhanas, Kemenristekdikti dan Kementrian Kemaritiman Tahun 2018. Alumnus Program Cendikia Kemenristekdikti 2019. Kini sedang menerima amanah sebagai Ketua Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Ar-Raniry, Banda Aceh. E-mail; hsyahputra@gmail.com. Pengasuh kolom Titik Temu.

KOMENTAR FACEBOOK