Tentang Perempuan, Puan & Mega

Puan Maharani (kiri) dan Megawati. Foto: ist.

Oleh Muhajir Juli

Puan didapuk sebagai Ketua DPR RI. Perolehan suara PDIP pada Pileg 2019 telah mengantarkan partai banteng moncong putih itu sebagai pemenang. Kini ia menjadi sosok penting. Gen Taufik Kiemas yang mengalir di dalam darahnya melengkapi sirah bila telah menyamai raihan Megawati, yang merupakan ibu cum ketua di partainya.

Tulisan ini bukan saja tentang Puan (Puan Maharani), tapi juga tentang Megawati dan Taufik Kiemas. Karena puan dan dua tokoh penting itu tidak bisa dipisahkan. Mereka adalah orangtuanya Puan, sekaligus mentor politik. Juga atasan Puan di partai. Walau kini Taufik sudah tiada, tapi jejak pikirannya ada di Puan, demikian harapan saya.

Ketika PDIP memutuskan menunjuk Puan Maharani Nakshatra Kusyala sebagai Ketua DPR RI, Selasa (1/10/2019) dunia politik Indonesia terkejut. Debat kusir pun terjadi di pelbagai media sosial. Ada yang setuju, ada pula yang tidak. Argumen-argumen agama pun dipergunakan. Padahal dalam konteks negara demokrasi seperti Indonesia, banyak cendekia Islam yang sepakat bila perempuan tidak mengalami halangan secara syariat untuk menjadi pemimpin, konon lagi hanya sebagai Ketua DPR RI, yang setiap keputusannya adalah kesepakatan bersama. Kolektif kolegial.

Di tengah kontroversi, Puan menjadi perempuan pertama yang duduk sebagai Ketua DPR RI. Pecah telur! demikian Puan menyebutnya. Proses politik telah melahirkan sejarah baru. Sekali lagi, pecah telur!

***
Saya belum menemukan alasan yang tepat mengapa Megawati menolak bersalaman dengan Ketua Umum Partai NasDem Surya Paloh. Perempuan putri Bung Karno itupun menolak bersalaman dengan AHY, putra SBY. Mega mengabaikan keduanya seakan-akan dibatasi tirai imaginer untuk tidak melihat keduanya. Penolakan ini, mengulang kisah ketika Mega “memboikot” SBY tempo dulu. Mungkin, Mega marah kepada kedua politikus itu, yang level kemarahannya sama ketika ia kecewa kepada SBY.

Mega merupakan politikus gaek Indonesia. Putri Soekarno yang tumbuh besar di tengah gejolak revolusi itu adalah simbul perlawanan terhadap Orde Baru ketika rezim Soeharto sangat kencang mencengkeram dunia politik Republik Indonesia, yang konsep dasarnya Indonesia pernah ditulis oleh Tan Malaka, tokoh Partai Murba yang kecil itu, yang akhirnya dibunuh karena bertentangan arah pandang politik dengan sesama pejuang kemerdekaan.

Saya lagi-lagi harus mengakui tidak tahu mengapa Mega “marah” kepada SP dan AHY. Tentu saja ada “luka” yang tidak dijelaskan. Sebagai makhluk politik, banyak kalangan yang menyayangkan sikap Mega. Tapi Mega selalu menunjukkan ketidaksukaan secara terbuka. Ia tidak malu-malu menggambarkan secara utuh ketidaksukaannya dalam bentuk tindakan nyata.

***
Taufik Kiemas, di masa hidupnya selalu menjadi hub antara Megawati dengan tokoh di luar PDIP. Semacam diplomat, demikianlah bekas Ketua MPR RI itu bekerja. mengawal karier politik Megawati yang jatuh bangun hingga mampu menjadikan PDIP sebagai partai sangat besar di Indonesia.

Taufik selalu bersedia menjadi pelapis. Ia menolak menjadi matahari kembar. Megawati selalu menjadi satu-satunya matahari di dalam karier politik mereka. Tentu itu tidak mudah. Apalagi ketika Mega menjadi Presiden ke-5 RI. Sebagai lelaki, sekaligus sebagai suami, tentu menjadi orang yang lebih tidak berpengaruh ketimbang istri, bukanlah sesuatu yang mudah. Butuh kematangan psikologi untuk melaluinya. Taufik berhasil melalui itu. Hingga kembali ke pangkuan Ilahi Rabbi, Taufik tidak lebih besar dari Mega.

Demikianlah, dua perempuan itu, Puan dan Mega, terus didampingi oleh lelaki yang nyaris tidak pernah menunjukan raut wajah masam di depan publik. Lelaki yang tenang itu mampu menempatkan diri sebagai refrigerator untuk kedua perempuan yang ia cintai. Merawat dan menjaga mereka, tanpa harus membekukan keduanya di dalam freezer.

***
Kini, Puan dan Mega telah berada di level tertinggi politik Indonesia. Akankah mereka berdua mampu menjadi pemain politik yang unggul tanpa didampingi Taufik?

Akankah Puan dapat mengganti posisi ayahnya sebagai pelapis? Ataukah ia akan memilih jalan sendiri menjadi lebih besar dari ibunya? Ataukah, sebagai ibu sekaligus ketua, Megawati akan membesarkan Puan sebagai pengganti dirinya?

Politik trah memang lebih rumit dipahami ketimbang politik dalam demokrasi yang lebih cair. Semoga ada kejutan-kejutan baru di hari depan.

Penulis adalah CEO aceHTrend.

KOMENTAR FACEBOOK