Amrina Habibi: Setiap Hari Ada Satu Anak yang Dilecehkan

@aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Aceh menyelenggarakan pelatihan peningkatan branding berperspektif gender untuk pengurus Forum Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak (PUSPA) Aceh Keumala Hayati dan kabupaten/kota. Kegiatan ini berlangsung selama dua hari di Hotel Mekkah, Banda Aceh, Kamis-Jumat (3-4/10/2019).

Kabid Pemenuhan Hak Anak DPPPA Aceh, Amrina Habibi mengatakan seiring dengan berkembangnya teknologi informasi dewasa ini, tantangan dan dinamika yang dihadapi perempuan khususnya di Aceh juga semakin kompleks.

“Misalnya berdasarkan peta kemiskinan Aceh hari ini sebagai provinsi termiskin di Sumatera, maka yang paling miskin adalah perempuan. Ketika perempuan miskin, maka berbagai peluang yang menjadikan perempuan sebagai kelompok marjinal/korban semakin besar,” ujar Amrina Habibi dalam sambutannya saat membuka kegiatan tersebut, Kamis (3/10/2019).

Hal ini bisa terjadi akibat pola asuh di keluarga yang tidak seimbang dan posisi tawar perempuan yang lemah, sehingga berimbas pada banyaknya anak-anak yang menjadi korban. Amrina mencontohkan, setiap tahun pihaknya mampu mendokumentasikan atau menangani kasus-kasus terkait kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 1.500-an kasus.

“Pada kasus anak, yang paling banyak terjadi korban pada kategori kekerasan seksual. Setiap hari setidaknya ada satu atau dua anak di Aceh yang dilecehkan bila mengambil dari analisa angka 571 kasus kekerasan seksual pada anak yang ditangani dinas dalam setahun,” ujar Amrina.

Secara matematis angka itu menurut Amrina bisa dikatakan kecil, tetapi dari sisi dampak secara psikologis sangat membahayakan karena itu menyangkut dengan masa depan anak tersebut. Untuk di Aceh kata Amrina, kasus yang banyak terjadi meliputi kekerasan dalam rumah tangga dan kekerasan seksual.

Untuk mengurangi angka tersebut, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak secara khusus memiliki program 3+ dengan upaya menghentikan kekerasan terhadap perempuan dan anak, menghentikan perdagangan perempuan dan anak, menghentikan kesenjangan ekonomi perempuan, dan menghentikan kesenjangan politik untuk perempuan.

Karena itu, kegiatan ini menurut Amrina penting dilakukan supaya antarpihak yang terlibat bisa saling berkolaborasi dan bersinergi untuk memublikasikan kegiatan-kegiatan yang berkaitan dengan pemberdayaan perempuan dan Anak. Dalam hal ini bagaimana menjadikan isu-isu perempuan dan anak ini bisa dipahami oleh publik sehingga menjadi fokus bersama.

Pelatihan ini menghadirkan dua narasumber, yaitu Budi Hartono dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak, dan dosen UIN Ar-Raniry Arif Ramdan. Diikuti oleh 20 peserta yang terdiri atas pengurus PUSPA dan mitra media.[]

KOMENTAR FACEBOOK