DEA, Dayah Tempat Mewujudkan Mimpi & Idealisme

Santri DEA yang diasuh oleh teungku Nasruddin bin Ahmad di Gampong Beunyot, Juli, terlihat sedang mengadakan kegiatan. Foto: ist

Jalanan baru saja dibasahi kiriman dari langit. Hawa langsung terasa sejuk ketika memasuki km 10 jalan lintas Bireun – Takengon. Kami berbelok arah memasuki jalan yang lebih kecil di sebelah kanan. Lalu terlihat sebuah pintu gerbang dari besi tua yang sudah miring. Sepertinya sengaja dibiarkan karena jika hendak ditutup rapi, mungkin butuh tenaga dua sampai tiga orang agar tampak kokoh kembali. Di balik gerbang itu, terbentang dua ruas bekas pijakan ban mobil yang tampak seperti sungai kecil, tergenang hujan yang baru sekejap berhenti.

Terus ke depan dan mulai terasa bagai menyingkap sebuah tabir, rerumputan yang terpotong rapi layaknya lapangan bola kaki terbentang luas dan di ujung sana tampak gedung seperti asrama atau ruang kelas. Suasananya mengundang untuk masuk lebih jauh. Pepohonan yang dijaga dengan baik berderet setelah persimpangan masuk ke beberapa bangunan di sebelah kiri jalan.

Tidak ada petugas security, kelompok anak-anak usia sekolah sedang bermain di beberapa sudut sambil tertawa riang. Mereka pakai peci dan sama sekali tidak terganggu dengan kedatangan kami. Hanya melihat sekilas dengan senyum. Seorang pria dewasa berdiri di pinggir jalan lingkar, sepertinya seorang guru atau ustaz. Kami turun menyapa dan menyampaikan maksud kedatangan. Dengan sangat ramah jempol kanannya menunjuk ke arah samping kanannya, ke sebuah rumah kecil dengan kontruksi beton, seperti juga gedung lainnya.

Dipandu sampai di depan rumah dan kedatangan kami diberitahu. Tuan rumah berpaling melihat ada yang datang ketika dia sedang sibuk membetulkan handycraft air mancur yang terbuat dari bambu di belakang garasi rumah. Kami disambut dengan hangat dan ramah. Beliau adalah pimpinan di sana, di sebuah boarding school yang diberi nama Dayah Entrepreneur Aceh Darussalam (DEA), hanya belasan menit dari kota Bireun. Masih dalam kecamatan Juli.

Foto: ist.

DEA adalah sebuah pengecualian! Dari namanya yang menabalkan entrepreneur tentu saja dayah ini sedang membangun mimpi besar, sebesar mimpi pimpinannya. DEA mencetak generasi siap tampil dengan skill yang kompetitif. Masih dalam masa didik, anak dari keluarga kurang mampu langsung diberi kesempatan untuk terlibat dalam kelompok kerja ASD Farm dengan teknik pertanian mutakhir yang digarab di lahan luas yang tersedia di sana.

Tapi itu penopang. Program inti dari DEA adalah menerapkan sistem ajar yang aplikatif, tidak monoton, dan tidak terikat dengan pola ajar yang biasa diterapkan sesuai kurikulum-kurikulum sekolah pada umumnya. Ada dua jenjang pendidikan, SLTP dan SMK yang keduanya dikembangkan sesuai dengan konsep DEA dengan sistem belajar kreatif. Meskipun beberapa hal tetap mengikuti standar nasional.

Soal bahasa misalnya, DEA tidak mensyaratkan peserta didik untuk berbicara dwibahasa, Arab-Inggris di hari-hari tertentu. Dalam percakapan sehari-hari mereka bebas untuk berbicara dalam bahasa apa saja. Tapi mereka belajar kedua bahasa tersebut dengan cara yang unik mengikuti sebuah modul yang modern. Anak-anak tidak diajarkan untuk bisa berbicara tapi bisa berbahasa Arab-Inggris. Ibarat mengajarkan cara menggunakan kunci untuk membuka sebuah kotak, dan anak-anak didik akan akan menjelajah sendiri seluruh isi dalam kotak tersebut.

DEA dirancang dengan imajinasi yang tinggi, menawarkan sebuah pola didik yang tidak biasa untuk hasil yang luar biasa. Itu bukan mimpi. Saya masih ingat, belasan tahun sebelumnya, sosok ini pernah mengatakan kepada saya; “Buatlah sebuah mimpi, lalu cita-citakan, dan mulailah mengatur tahapannya.” Dia mencontohkan suatu saat kita bisa saja membeli sebuah pesawat. Mimpikan, lalu rancang apa yang diperlukan untuk mencapai itu, buat tahapannya dari sekarang, dan jaga komitmen.

Menjaga komitmen adalah yang tersulit. Tapi sosok ini membuktikannya dengan menolak peluang yang sangat terbuka untuk menjadi seorang gubernur. Menepi dari politik dengan teratur. Memilih mendirikan Acheh Strategic Development (ASD) Foundation untuk membangun Aceh dengan konsep microfinance yang menyasar ibu-ibu rumah tangga untuk membantu pendapatan keluarga.

ASD memberikan pelatihan dan pembiayaan kegiatan ekonomi skala kecil mengadopsi Grameen Bank yang dicetus Muhammad Yunus di Bangladesh. Setiap dinamika selalu ia lihat ke titik persoalan, esensi. Buktinya hari itu, dari setiap topik yang kami bahas ia selalu kembali ke esensi. Meninggalkan retorika yang berseliweran yang mempengaruhi banyak orang.

Untuk Aceh, ia mempunyai cara pikir dan jalannya sendiri yang tidak mengharuskan semua orang tau. Pemikiran bagaimana seharusnya Aceh selalu terbangun ketika ia mulai bangun setiap paginya. Aceh telah menjadi bagian dari jiwanya. Namun ia tidak mau muluk-muluk. Memilih gaya hidup sederhana dan melakukan sesuatu dengan cara-cara yang sederhana pula. Tapi ia menyata.

Zulkifli, salah seorang dari kami meminta pandangan karena ia baru saja dilantik sebagai anggota DPRK Aceh Utara dengan semangat perubahan yang masih menyala bersamanya. Secara spontan ia mendapat jawaban bahwa kemungkinan idealisme tidak akan punya tempat di gedung seperti itu. Tapi setidaknya ia punya kesempatan untuk berbuat. Terus berusaha untuk yang terbaik.“Jika ingin mempertahankan idealisme, di sini tempatnya.” Kalimat ini memberi gambaran bagaimana sosok ini mempertahankan komitmennya.

Penulis (kiri) dan Teungku Nasruddin bin Ahmad (ketiga dari kiri). Nasruddin adalah ulama sekaligus politikus yang kini menepi demi membangun fondasi pendidikan untuk generasi Aceh. (Ist)

Tgk. Nasruddin Ahmad adalah sosok yang luar biasa. Ia selalu menguasai setiap topik pembicaraan, sehingga dua jam tanpa terasa kami lalui tanpa jenuh. Di depan kami terhidang kopi LeParte dengan sensasi kenikmatan yang luar biasa, diramu dari biji kopi asli Arabica Gayo yang merupakan produk organik. Kopi LeParte merupakan sayap bisnis ASD yang sudah mengikuti festival kopi tingkat internasional.

Silaturrahmi hari minggu itu memberi pesan yang sangat jelas kepada kami bahwa untuk merubah Aceh harus dimulai dengan berbuat sesuatu secara nyata dan siap mengenyampingkan retorika yang terlalu muncul di permukaan, karena bisa jadi sebagian besar dari retorika itu adalah kepentingan. Seperti mendung yang sangat tebal sedang mencoba menyelimuti kami sore hari itu. Seakan dalam beberapa detik hujan deras akan mengguyur, tapi sampai kami tiba di kota Bireuen hujan belum juga turun. Dan kami kembali dengan membawa tetesan madu yang sangat berharga.

KOMENTAR FACEBOOK