Melawan Stunting, Menuju Aceh Pintar

Oleh Khalidar*

Stunting merupakan istilah yang asing bagi masyarakat awam. Jikapun mereka mendengar atau membaca kata tersebut, tidak mengganggu alam pikirnya. Tidak terbayang tentang sesuatu yang buruk.

Akan tetapi lewat literasi yang dilakukan oleh media massa di Aceh, kata stunting kian akrab di telinga. Banyak orang yang kemudian terkejut, betapa selama ini sebuah istilah yang tidak mereka khawatirkan, termnyata sedang mengancam masa depan Aceh. 37% lebih anak-anak Aceh usia 2 tahun ke bawah mengidap stunting. Mereka yang mengalami stunting bukan saja terganggu pertumbuhan tubuh, tapi juga terganggunya perkembangan otak. Dengan fakta demikian, entah bagaimana nasib Aceh 30 tahun ke depan?

Stunting merupakan gangguan pertumbuhan kronis pada anak akibat kekurangan nutrisi dalam waktu lama. Sehingga berefek pada pertubuhan anak yang tidak stabil seperti lebih pendek dibanding anak seusianya, cenderung memiliki kemampuan belajar yang rendah dan lebih rentan terhadap penyakit.

Tak jarang kita mendengar bahwa anak-anak Aceh sering dianggap kalah saing dalam hal intelektual maupun dalam kompetisi lainnya. Sebenarnya pernyataan tersebut tidak sepenuhnya salah. Meskipun Aceh merupakan daerah yang mendapat keistimewaan dari Pemerintah RI, namun hanya dalam beberapa bidang saja Aceh telah menunjukkan keistimewaannya. Misalnya terkait kesehatan, Aceh justru masih jauh dari kata istimewa. Aceh tergolong daerah yang buruk dalam bidang ini, terbukti dengan predikat daerah ketiga terbesar yang mengalami stunting.

Sebenarnya apa yang menyebabkan Aceh menjadi daerah rawan stunting? Tentu pertanyaan tersebut tidak sulit untuk kita jawab. Bagaimana tidak, kemiskinan masih sangat tinggi di Aceh. Mengapa miskin, padahal Aceh kaya akan Sumber Daya Alam (SDA), jawabannya adalah Aceh kurang akan Sumber Daya Manusia yang bisa untuk mengelola SDA tersebut.

Hal inilah yang akhirnya membuat sebagian besar masyarakat Aceh kurang memperdulikan pola hidup. tak ingin hidup mewah, bahkan dalam mengkonsumsi makanan pun dianggap cukup ala kadarnya saja dengan istilah lain “perut kenyang hidup senang”. Tanpa memperdulikan gizi yang terkandung di dalam makanan atau minuman tersebut.

Tidak hanya pada anak-anak, sebenarnya stunting ini juga sangat dipengaruhi oleh ibu hamil atau menyusui, karena nutrisi yang dikonsumsinya akan berdampak pada bayi yang dikandung atau disusuinya.

Hingga kini, pemerintah terus berupaya untuk mengurangi stunting dengan mensosialisasikan tentang pola hidup sehat dan bahayanya stunting. Tidak hanya pemerintah, masyarakat yang telah sadar akan hal tersebut pun ikut terjun, misalnya mahasiswa, organisasi dan komunitas-komunitas.

Pertanyaan apakah hal tersebut dapat berhasil? Berhasil atau tidaknya perang melawan stunting, sangat tergantung dari kinerja pemerintah. Salah satu cara adalah, dengan tersedianya lapangan kerja yang kompetitif. Semakin kecil angka pengangguran, semakin besar harapan untuk keluar dari jerat kemiskinan. Semakin kecil angka kemiskinan, semakin besar peluang untuk berhasil melawan stunting. Kelak, bila perang ini berhasil kita menangkan, kita akan menuai generasi Aceh yang cerdas luar dalam.

*)Penulis adalah mahasiswa Prodi Komunikasi Penyiaran Islam (KPI), Fakultas Dakwah UIN Ar-Raniry.

Sumber ilustrasi: Manadobacarita.com

KOMENTAR FACEBOOK