Prof Farid: Kita Harus Hormati dan Menjaga Wali Nanggroe

Profesor Farid wajdi Ibrahim. Foto: acehTrend/Muhajir Juli

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Profesor Farid Wajdi Ibrahim, Sabtu (5/10/2019) malam, mengajak seluruh orang Aceh untuk menghormati Wali Nanggroe. Karena keberadaan Wali Nanggroe merupakan salah satu bentuk kekhususan Aceh yang didapat setelah perjuangan panjang Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dalam rangka membangun kembali marwah Aceh yang telah lama hilang.

Hal tersebut disampaikan bekas Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Ar-Raniry, pada acara silaturahmi di Rumoh Aceh Tibang, yang satu komplek dengan Green House aceHTrend.

Pada kesempatan itu, Prof Farid mengatakan, selama ini salah satu penyakit orang Aceh adalah gemar sekali meremehkan orang-orang dan lembaga yang sejatinya sebagai penjaga marwah Aceh itu sendiri.

Teungku Hasan Tiro, yang kemudian memilih membangun gerakan perlawanan terhadap Republik Indonesia, sejatinya merupakan sebuah gerakan perlawanan untuk membangun kembali harga diri orang Aceh yang telah hancur.

“Sebagai orang Aceh, seharusnya kita memperlakukan Wali nanggroe dengan pengormatan yang setinggi-tingginya. Bila perlu kita angkat beliau di pundak kita. Karena keberadaan wali Nanggroe merupakan salah satu upaya kita semua untuk membangunkan kembali marwah Aceh,” ujarnya.

Prof Farid juga mengatakan tentang Teungku Daud Beureueh, yang sangat disegani oleh pihak luar, tapi justru dicaci maki di Aceh dengan beragam cerita kontroversial.

Dia menceritakan, dulu, ketika Indonesia tidak diakui oleh dunia, lewat Daud Beureueh, dunia harus mengakui keberadaan Indonesia. Karena satu-satunya daerah yang belum berhasil diduduki secara penuh oleh Belanda adalah Aceh. Sebagai pemimpin, Abu Daud tampil menyelamatkan Indonesia, sehingga dunia harus mengakui Indonesia sebagai sebuah negara yang sah.

Pengaruh Daud Beureueh bahkan melebihi Soekarno. Setiap ada pejabat penting negara luar datang ke Indonesia, orang pertama yang mereka tanyakan adalah Daud Beureueh. Bukan Soekarno. Karena pengaruh besarnyalah, sehingga kemudian ada yang bersiasat untuk mengabungkan Aceh dengan Sumatera Utara. Tujuannya hanya satu, untuk menghilangkan pengaruh Daud Beureueh.

“Ini terus saja terjadi. Orang-orang hebat putra Aceh dicaci maki oleh orang Aceh sendiri. Misal Ali Hasjmy. Beliau diakui oleh dunia luar, tapi justru di Aceh, koran-koran menulis hal yang tidak baik untuk beliau,” ujarnya lagi.

Dia berharap, ke depan perilaku tersebut harus diubah. Karena kehebatan Aceh juga sangat tergantung pada seberapa orang Aceh mampu menghargai pemimpinnya. []

KOMENTAR FACEBOOK