Rektor Unsyiah: Kita Tertinggal Karena Tak Memahami Al-Quran

Rektor Universitas Syiah Kuala (Unsyiah) Darussalam Banda Aceh Prof. Dr. Ir. Samsul Rizal, M.Eng. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Saat ini tidak satupun negara Islam di dunia yang menjadi negara hebat. Negara-negara besar yang maju di bidang sains dan mencapai kemakmuran justru negara-negara non Islam. hal ini karena kelemahan orang Islam sendiri, bersebab tidak lagi memahami isi kandungan kitab suci Al-Quran.

Demikian disampaikan oleh Rektor Universitas Syiah Kuala Profesor Dr. Ir. Samsul Rizal, M. Eng., Sabtu (5/10/2019) malam, pada acara silaturahmi di Rumoh Aceh Tibang, yang satu komplek dengan Green House aceHTrend.

Di depan sejumlah tamu yang terdiri dari anggota DPRA, kepala dinas dan para dosen Unsyiah dan UIN Ar-Raniry, Prof Samsul Rizal menyebutkan, dekadensi ilmu pengetahuan umat Islam, termasuk di Aceh, karena tidak mampu lagi memahami isi Al-Quran, yang merupakan gudangnya ilmu pengetahuan.

“Bila kita uji, mayoritas orang Aceh pasti bisa baca Quran. Tapi apakah mereka memahami makna yang terkandung di dalamnya? Tentu saja tidak. Padahal Quran adalah gudangnya ilmu penegtahuan,” ujar Rektor Unsyiah.

Ia menyebutkan juga, mengapa Albert Einsten yang merupakan Yahudi, bisa menemukan berbagai hal dengan disiplin ilmu fisika yang ia punyai, karena ia tidak berhenti mencari. Ilham-ilham yang ia dapatkan selalu dicatat dan kemudian diteliti dengan sungguh-sungguh. Sehingga kemudian berhasil menemukan berbagai teori yang berguna bagi perkembangan ilmu pengetahuan.

“Allah tidak pernah membedakan antara muslim dan non muslim dalam hal pengetahuan. Allah akan memberikan kepada siapapun yang terus menerus mencari. Karena orang-orang itu tidak berhenti mencari maka merekalah yang mendapatkannya,” ujar Samsul Rizal.

Tentu, untuk mengembalikan kejayaan Islam belumlah terlambat. Ia mengajak segenap stakeholder sampai ke pimpinan gampong, untuk mulai merencanakan dan menghidupkan kembali meunasah sebagai tempat untuk mempelajari Quran.

“Meunasah-meunasah di Aceh yang dulunya bukan saja sebagai tempat shalat, tapi juga sebagai tempat belajar, mari kita hidupkan kembali fungsinya,” ujarnya.

Ia juga menghimbau kepada keuchik-keuchik di seluruh Aceh untuk memberantas anak putus sekolah. Dengan dana desa yang sudah mencapai 1 miliar per gampong, harus dialokasikan juga untuk beasiswa bagi anak-anak yang tidak mampu menuntut ilmu karena keterbatasan ekonomi orang tuanya.

“Kalau ini tidak kita mulai dari sekarang, kapan lagi mau dilakukan. kalau ingin maju maka kita harus bersedia bergerak seirama. Unsyiah siap menjadi fasilitator. Hal paling kecil dapat kami lakukan adalah dengan program KKM yang di dalamnya ada kegiatan edukasi anak-anak di meunasah-meunasah. Tapi apa yang digerakkan oleh mahasiswa KKM harus dilanjutkan. Jangan sampai, habis masa KKM mahasiswa, selesailah pendidikan anak usia dini di meunasah,” katanya.