Teknologi Informasi Kian Canggih, Perang Pun Berevolusi

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kepala Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN), Letjen TNI (Purn) Hinsa Siburian menjelaskan bila saat ini dunia telah diliputi konflik kepentingan terkait perebutan potensi pasar serta sumber daya oleh berbagai negara maju beserta sekutunya. Hal ini menimbulkan berbagai efek negatif di negara berkembang seperti Indonesia. Negara maju tak segan menggunakan segala cara untuk menanamkan pengaruhnya di negara sasaran.

Hal itu disampaikan Hinsa Siburian saat memberikan kuliah umum di Aula FKIP Unsyiah yang bertema “Peran Perguruan Tinggi dalam Cyber Security di Era Revolusi Industri 4.0”, Senin (7/10/2019).

Hinsa juga mengingatkan, bahwa kemudahan teknologi juga memiliki risiko dan ancaman, karena dapat digunakan oleh berbagai negara untuk memenangkan persaingan global. Di titik itulah, perang sebagai bentuk puncak persaingan antarnegara turut berevolusi.

“Peperangan kini tidak hanya terkait dengan kontak fisik dengan senjata konvensional, peperangan telah berkembang menjadi perang siber atau informasi yang berbasis pada penggunaan teknologi informasi dan komunikasi,” ucapnya.

Hinsa menjelaskan, selain menyerang infrastruktur kritikal, kini serangan siber juga menyasar objek yang lebih krusial dengan akibat yang lebih fatal. Perang siber memiliki daya tembus dan daya rusak yang lebih berbahaya. Karena menyasar pola pikir individu sehingga motivasi dan perilakunya berubah.

Menurutnya, setiap saat Pancasila dibombardir dengan peluru siber dalam bentuk informasi hoaks, konten provokatif, serta opini penyesatan yang dirancang untuk memicu radikaslisasi dan konflik sosial yang berujung pada kerusuhan serta disintegrasi bangsa. 

“Serangan siber hanya bisa dibendung jika seluruh komponen bangsa menyadari akibat fatal serangan ini pada kedaulatan bangsa Indonesia. Jadi semua pihak termasuk perguruan tinggi harus berkomitmen untuk berkontribusi aktif sesuai dengan peran dan kemampuannya masing-masing,” ucapnya.

Sementara itu, Rektor Unsyiah Prof Samsul Rizal, dalam sambutannya mengatakan, kuliah umum ini bertujuan agar akademisi Unsyiah mendapatkan gambaran yang komprehensif terkait seluk beluk keamanan siber nasional. Di mana informasi ini diperoleh secara langsung dari BSSN selaku pemegang keamanan siber nasional.

Samsul berterima kasih atas kesediaan Kepala BSSN untuk berbagi pengetahuannya kepada mahasiswa Unsyiah. Mengingat perkembangan teknologi saat ini telah mengubah pola komunikasi manusia.

“Media sosial kini dikuasai oleh pihak luar, artinya data pengguna juga dimiliki mereka. Tantangan ke depan ialah bagaimana kita dapat bersaing dengan mereka dalam kemajuan teknologi untuk menyongsong visi generasi emas Indonesia 2045,” ujar Samsul.

Selain itu, kemajuan teknologi ini harus diimbangi dengan aspek keamanan yang menjadi tugas dan fungsi oleh BSSN. Oleh karena itu Samsul menekankan agar generasi muda, khususnya mahasiswa untuk lebih  bijak dalam menggunakan internet dan sosial media.

“Karena kelak anak cucu kita akan melihat sendiri melalui jejak-jejak digital, mengenai siapa orang tuanya dahulu,” ucapnya.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK