Donasi: Rumah Impian untuk Marzuki dan Cucunya

Marzuki bin Ismail, warga Gampong Pulo Kiton, Kota Juang. Gubuk yang dihuni bersama dua anak dan satu cucuknya, sudah tidak layak huni. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Rumah tak layak huni itu, kini sudah digantikan dengan deretan bata yang diikat dengan semen. Rumah yang luasnya tidak melebihi ukuran tipe 36, kini sudah berhenti dibangun. Para relawan masih membutuhkan sekitar 28 juta Rupiah untuk menyelesaikan rumah kecil untuk Marzuki yang sehari-hari bekerja sebagai tukang becak di Bireuen.

Pada lebaran Idulfitri, pada sebuah pertemuan yang tidak direncanakan di rumah Marzuki (60) warga Gampong Pulo Kiton, Kecamatan Kota Juang, Bireuen, hujan lebat tiba-tiba turun. Seketika gubuk yang berada di pinggir alur dalam itu, basah.

Marzuki dan dua anaknya yang sudah janda, bergegas mengambil ember di dapur dan menaruhnya di lubang-lubang atap daun rumbia yang tidak lagi layak digunakan. Atap yang sudah bocor cukup banyak. Bahkan ada atap yang hanya tinggal tulangnya saja.

Kondisi atap gubuk Marzuki. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Tak ada lagi lantai yang bisa digunakan untuk meletakkan pantat yang letih. Semuanya basah digenangi air.

Kasur segera digulung. Lemari ditutupi karpet lusuh. Perabotan rumah tangga yang terlihat sudah usang, ditutup dengan spanduk sisa kampanye pileg 2019.

Di bagian dapur, atap yang bocor sangat banyak. Air mengalir lancar dari lubang-lubang itu. Di bagian tempat ditaruh kompor, dipasangi tripleks bekas. Kuah yang sedang ditanak di atas tungku, bergelegak. “Sebentar lagi akan masak. jangan pulang dulu. Silahkan makan,” kata Nah (37) putri Marzuki yang sudah menjanda dan dikarunia seorang putra berusia empat tahun. Ia dan putranya juga tinggal di gubuk itu.

Satu jam kemudian, hujan reda. Seluruh bagian rumah terlihat basah. “Beginilah kondisinya sudah bertahun-tahun. Saya tidak memiliki uang untuk membangun rumah baru,” ujar Marzuki sembari merapikan ember-ember penuh air.

aceHTrend memperhatikan dengan seksama. Persoalan rumah tersebut bukan hanya atapnya yang bocor. Tapi seluruhnya sudah lapuk dimakan usia. Tiang-tiang kayu rata-rata sudah rapuh. Demikian juga dinding yang sudah lapuk.

***

aceHTrend memberitahukan kondisi tersebut ke beberapa grup WA, seperti Awak Droe Only (ADO), JBA Reborn dan juga personal-personal yang berpotensi menyumbang. Seorang pengurus ADO yaitu Teuku Yusra Darma, ikut menginisiasi melalui website kitabisa.com. Total dana yang sudah terkumpul sampai September 2019 senilai Rp 15 juta sekian. Semuanya sudah disalurkan. Seluruhnya sudah terserap untuk pembangunan rumah impian Marzuki.

Dari hitungan Fahmi (27) putra Marzuki yang sudah berumah tangga dan menjadi tukang pembangunan rumah tersebut, masih dibutuhkan sekitar 28 juta Rupiah, untuk menyelesaikan rumah tersebut.

“Sekitar 28 juta lagi. Itu sudah bisa dihuni,” ujar Fahmi. Dalam pembangunan rumah impian ayahnya itu, fahmi turun tangan. Ia mengikat sendiri semua bata yang sudah dipasang. Tapi karena ekonominya juga seret, ia mengambil ongkos, paling minimal. “Saya juga tidak punya uang. Kerja sehari untuk makan sehari. Kasihan juga melibat Bapak dan Kakak. Tapi saya juga tidak bisa berbuat banyak,” katanya, pada medio Juli 2019.

***
Marzuki bin Ismail, berusia sekitar 60 tahun, merupakan tukang becak motor yang sehari-hari mangkal di depan Rumah Sakit Umum dr. Fauziah. Di usia senjanya dia tetap harus bekerja mengumpulkan Rupiah, karena dia tidak memiliki keahlian lain. Juga tidak memiliki lahan selain tanah tempat gubuknya dibangun bersama istrinya puluhan tahun lalu. Istrinya sudah beberapa tahun silam meninggal dunia, setelah kalah melawan penyakitnya. Ketika hidup, sang istri yang biasa dipanggil Teh Syah, bekerja sebagai buruh cuci hingga usianya menjelang petang.

Perkembangan terakhir pembangunan rumah untuk Marzuki bin Ismail di Gampong Pulo Kiton, Kota Juang, Bireuen. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend.

Pendapatan Marzuki semakin ke sini, semakin tidak menentu. Becaknya sudah tua. Performanya tidak mendukung untuk dipaksa melaju terlalu lama di jalan raya. Seringkali masuk bengkel.

Selain itu, semenjak Pasar Induk Bireuen dipindahkan ke Gampong Cureh, pengguna jasa becak semakin menciut. Dia tidak bisa pindah pangkalan, karena di sanapun sudah ada tukang becak lainnya yang mengais rezeki lewat jasa transportasi.

“Becak juga sudah kalah saing dengan perubahan zaman. Rata-rata masyarakat sudah memiliki kendaraan pribadi. dari anak-anak usia SMP hingga orang tua, memiliki motor masing-masing,” ujar Marzuki. Dia tidak menyalahkan kondisi. Hanya dia saja yang gagal beradaptasi dengan perubahan.

“Tak tahu harus melakukan apa lagi. Ya sudah, saya bertahan saja dengan becak ini.” Soal penghasilan, dia hanya berujar “Kadang hanya cukup untuk isi bensin. Tapi begini juga, tetap ada untuk belanja makan sehari-hari. Tapi jumlahnya tidak banyak. Pendapatan per hari cukup untuk belanja paket sangat sederhana untuk satu hari,” kisahnya, Juli 2019.

***
Oleh pegiat sosial di media sosial, inisiasi untuk membangun rumah tersebut sudah dilakukan. Dana yang terkumpul seluruhnya sudah disalurkan untuk memulai pembangunan rumah tersebut. Terakhir ada transferan dari pengelola website Kitabisa.com sekitar empat jutaan. Total dana yang sudah terkumpul sekitar 15 juta lebih.

“Dari hitungan kami, masih butuh sekitar 28 juta Rupiah untuk menyelesaikan rumah ini,” ujar Fahmi.

Sudah dua bulan pembangunannya tidak dilanjutkan. Dana tersisa sekitar empat juta di rekening. Dengan dana tersebut, Fahmi belum melanjutkan pembangunan. “Kasihan kosennya. Ini musim hujan. Kalau terlalu lama diguyur hujan, akan rusak. Makanya pemasangan kosen belum saya lakukan. Kosennya saya simpan dulu,” katanya.[]

Note: Bagi saudara yang ingin menyumbangkan dana untuk mempercepat pembangunan rumah Marzuki, silahkan hubungi nomor WA: 085260249240 an. Muhajir Juli.

KOMENTAR FACEBOOK