Hantu Legendaris Dalam Budaya Masyarakat Aceh

Ilustrasi

Hantu atau dalam istilah kebudayaan Aceh disebut burōng merupakan jenis mahkluk gaib berbentuk mayat hidup terbungkus kain kafan. Bila berjalan kakinya tidak menjejak tanah, tetapi melayang-layang beberapa sentimeter di atas permukaan tanah. Suaranya seperti suara wanita menangis sedih. Di Aceh, suara burōng dikenal dengan bunyi “meu ‘i-‘i” (tersedu sedan).

Demikian penjelasan akademisi IAIN Ar-Raniry Husaini Ismail, dalam bukunya: Burōng, Suatu Analisa Historis Fenomenologis dan Hubungannya Dengan Animisme, Dinamisme, dan Hinduisme Dalam Masyarakat Islam Aceh, terbitan Erlangga, 1990.

Pada bab 2 buku tersebut, Husaini Ismail menulis: Makhluk aneh ini sering bergentayangan pada malam hari, terutama pada malam Jumat. Inilah sebabnya setiap malam Jumat semua rumah penduduk tutup sehabis shalat Magrib, karena takut akan gangguan makhluk halus tersebut.

Hal menarik lainnya yang dikupas oleh Husaini Ismail adalah, burōng yang bergentayangan itu memiliki misi menambah jumlah calon pengikut yang kelak akan dijadikan sebagai anggota baru, yang juga akan bertugas menakut-nakuti manusia dan kemudian mencari calon anggota baru.

Terkait itu, Husaini menulis: Untuk menambah jumlah burōng, sasaran serangannya diarahkan kepada semua wanita hamil, wanita bersalin (Aceh: madeueng), dan anak-anak yang baru lahir sampai lepas susuan. Apabila serangannya tersebut berhasil (mangsanya mati), maka lahirlah burōng-burōng baru sebagai generasi penerus.

Di masa penjajahan Belanda, cerita-cerita tentang hantu di Aceh, membuat kaum penjajah ketar-ketir. Dikutip dari Liputan6.com, dituliskan oleh Letnan H Aars, dalam sebuah buku berjudul Tjerita-Tjerita Dari Negeri Atjee, yang diangkatnya berdasarkan cerita Letnan JP Schoemaker, seorang pengarang asal Belanda yang menulis buku Hikajat Prang di Edi.

Di buku Tjerita-Tjerita Dari Negeri Atjee setebal 73 halaman yang terbit pada 1891 itu, Letnan H Aars menaruh kisah hantu tersebut pada halaman pertama, dengan judul Tjerita Deri Satoe Setan.

“Tempo tjerita ini, tidak berbrapa djaho dari Kota Radja, ada satoe benteng. Maka benteng ini sekarang soedah di rombaq. Tempo waqtoe tjerita ini kelilingnya itoe, melajinkan ada rawah-rawah sadja,” tulis H Ars dalam pembuka bukunya.

Berikut ini beberapa hantu legandaris yang hidup di dalam kebudayaan masyarakat Aceh:

1. Burōng Tujöh

Burōng tujöh adalah hantu yang seluruhnya berjenis kelamin perempuan. Jumlahnya tujuh dan berpakaian seperti kuntilanak dalam mitologi Jawa. Syarat menjadi burōng tujöh haruslah perempuan yang meninggal ketika melahirkan.

korps hantu tersebut biasanya bergerak di atas pukul 00.00 WIB dan mendatangi rumah-rumah yang ada wanita baru melahirkan. Hantu ini, menurut keterangan beberapa syaman (semacam dukun, tapi tugasnya hanya untuk mengobati orang kerasukan-pen) dibangkitkan oleh seorang dukun dari kuburan-kuburan umum di kampung.

Grup hantu ini sempat mendominasi kisah-kisah seram di Aceh di bawah tahun 90-an. Setelah kemajuan era di Aceh dan semakin banyak generasi Aceh yang bersekolah tinggi, kisah-kisah gangguan korps hantu tersebut semakin jarang terdengar.

2. Burōng Tuleueng

Hantu berupa kerangka yang berjalan di malam hari di tengah-tengah kampung yang sepi. Kehadiran hantu ini sering diawali dengan suara tak-tuk, berupa bunyian benda keras yang mengenai batu jalanan. Tidak jelas jenis kelamin hantu tersebut. Karena tidak satu pun yang bisa menunjukkan identitas asli burōng tuleueng. Mungkin hantu jenis ini serupa dengan intelijen yang sedang menjalankan misi sangat rahasia.

3. Burōng Meu-aneuk

Hampir serupa dengan korps burōng tujöh, berjenis kelamin perempuan dan berpakaian seperti kuntilanak. Tapi ketika melaksanakan misi kehantuan di malam hari, bergerak sendiri, terbang ke sana-kemari sembari mengganggu perempuan yang baru melahirkan. Burōng ini, menurut hikayat para syaman, berasal dari perempuan yang meninggal dunia karena melahirkan.

4. Nek Rabi Tanjong dan Pocut Siti

Kedua hantu perempuan ini sangat legendaris di Aceh Besar. Berasal dari arwah yang bangkit menuntut balas setelah hamil di luar nikah dan dibunuh oleh kekasihnya. Ciri khas seseorang yang kesurupan arwah Nek Rabi Tanjong adalah pada permintaan sesaji. Khusus untuk yang kesurupan arwah Pocut Siti, akan selalu meminta kuah gulai kambing berbulu seribu.

5. Arwah Halimah Jurang Seunapet

Hantu yang ini termasuk makhluk halus yang lahir pada milenium kedua. Muncul pada tahun 2014, setelah ditulis oleh seorang blogger dalam blog burongtujohblogspot.com.

Dalam cerita itu dikisahkan bila di masa lampau ada seorang gadis bernama Halimah yang diperkosa oleh beberapa pemuda dan kemudian dibunuh. Jasadnya ditanam di sebuah jurang di bawah jembatan Seunapet, Kecamatan Lembah Seulawah, Aceh Besar. Hantu yang termasuk kelas milenial tersebut sempat diperbincangkan oleh publik Aceh setelah muncul pertama kali di blog tersebut.[]

KOMENTAR FACEBOOK