Akademisi STAIN Meulaboh Ajarkan Menulis Karya Ilmiah untuk Siswa di Aceh Selatan

ACEHTREND.COM, Tapaktuan – Menteri Pendidikan RI telah menerapkan sistem zonasi sekolah di Indonesia. Hal ini sebagaimana tertuang dalam Permendikbud Nomor 51 tahun 2018.

Penerapan sistem zonasi sekolah ini banyak dikeluhkan oleh orang tua dan beberapa pengambil kebijakan daerah, karena telah membuat banyak sekolah menjadi kekurangan siswa.

Selain itu, mengingat karakter daerah di Indonesia berbeda-beda sehingga ada sekolah yang infrastruktur dan prasarana yang belum memadai.

Ditambah lagi mindset warga yang tak dapat diubah seketika, sehingga cenderung kaget dengan adanya sistem baru itu.

Namun menurut Menteri Pendidikan RI, Muhadjir Effendy, sistem zonasi akan memberikan akses yang setara kepada peserta didik.

Apa yang dikatakan Menteri Pendidikan tersebut, terbukti bahwa penerapan zonasi sekolah ini, ternyata telah mendorong banyak kepala sekolah dan dewan guru melakukan terobosan dan inovasi dalam rangka pengembangan sekolah mereka.

Berdasarkan informasi yang diterima aceHTrend, Kamis (10/10/2019), sejumlah sekolah di Aceh Selatan mulai getol dan serius menyikapi Permendikbud Nomor 51 tahun 2018 itu.

Menurut keterangan Kepala  SMAN 1 Meukek, Aceh Selatan, Irwadi, pihaknya baru-baru ini telah berinisiasi dan menggelar kegiatan pengembangan diri siswa, yaitu mendatangkan akademisi dan peneliti dari berbagai perguruan tinggi yang ada.

Hal ini, di samping akademisi dari perguruan tinggi itu bisa memberikan dorongan pada siswanya agar terlibat dalam kegiatan nasional, seperti Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI) juga diyakini mampu memberikan pengetahuan tentang penelitian dan menulis karya ilmiah.

Irwadi menjelaskan, kegiatan tidak saja digelar di SMA Negeri 1 Meukek yang dipimpinnya tetapi kegiatan yang sama juga digelar di SMA Negeri Unggul Tapaktuan dan SMA Negeri 1 Bakongan, Aceh Selatan.

Sebagai pemateri dalam pelatihan yang dilaksanakan dalam pekan (3-4-5/10/2019) kemarin tak tanggung-tanggung, ketiga sekolah tahap awal menghadirkan pemateri dari STAIN Meulaboh Aceh Barat, yaitu Muhajir Al-Fairusy.

Dosen dan kandidat doktor UGM Yogyakarta ini dalam kesempatan pelatihan mengingatkan siswa dan beberapa guru yang terlibat akan pentingnya pengetahuan menulis ilmiah, apalagi ini merupakan syarat untuk dapat terlibat dalam OPSI.

Olimpiade Penelitian Siswa Indonesia (OPSI), ungkap Muhajir Al-Fairusy, merupakan ajang bergengsi karya ilmiah nasional di tingkat remaja khususnya SMA. OPSI ini memperlombakan tiga bidang, sains teknologi, matematika dan rekayasa, serta sosial humaniora.

Muhajir menerangkan OPSI lahir pada tahun 1977 dengan nama kegiatan awalnya LPIR (Lomba Penelitian Ilmiah Remaja) hingga tahun 2008, dan tahun 2009 baru berganti nama menjadi OPSI.

“Sampai sekarang, OPSI merupakan wahana penting bagi pengembangan dan kompetisi bagi siswa SMA dalam ranah penelitian dan menyusun laporan ilmiah,” ulas Muhajir.

Sejak diadakan, kegiatan ini telah mendorong banyak siswa terlibat penuh untuk mengenal karya ilmiah dan memproduksi temuan inovasi yang tepat guna. 

Muhajir Al-Fairusy merupakan peneliti dan penulis sejumlah buku dalam perspektif sosial humaniora-antropologi, ia memberi beberapa langkah penyusunan karya ilmiah, menulis, dan mempublikasinya sebagaimana yang lazim dilaksanakan.

Menurutnya, penelitian dan publikasi ilmiah sudah seharusnya digalakkan dari sejak remaja, agar Indonesia dapat menjadi negara yang mampu menghasilkan manusia produktif dan berpikir secara ilmiah.

Muhajir menambahkan, kegiatan ini selain bentuk pengabdian insan kampus sekaligus bentuk kepedulian pada generasi remaja agar melek dalam penelitian.

Sementara itu, Kepala SMA Negeri 1 Bakongan, Aceh Selatan Safril mengatakan, kegiatan ini telah memompa semangat belajar siswa dalam menghasilkan karya ilmiah.

“Kegiatan semacam ini cukup penting dan akan membawa manfaat luas bagi siswa dan sekolah. Terutama dalam upaya memajukan kualitas pendidikan,” papar Safril.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK