Beras Lagi, Kapan Makan Ayam?

Zulfikar Halim Lumintang, SST.

Oleh : Zulfikar Halim Lumintang, SST.*

Unggas merupakan salah satu hewan ternak yang dimanfaatkan daging, telur dan bulunya. Oleh karena itu, unggas menjadi salah satu hewan pemasok protein hewani ke dalam tubuh manusia. Unggas dalam hal ini ayam, masih menjadi barang konsumsi yang bisa menjangkau seluruh tingkatan pengeluaran rumah tangga. Ayam pedaging masih menjadi santapan rumah tangga dengan pengeluaran menengah ke atas. Sedangkan telur ayam yang dihasilkan oleh ayam petelur masih bisa dijangkau oleh rumah tangga dengan pengeluaran menengah ke bawah.

Kandungan daging ayam juga sangat dibutuhkan oleh manusia, utamanya masyarakat Indonesia. United States Department of Agriculture (USDA) atau Departemen Pertanian Amerika Serikat merilis kandungan dari daging ayam adalah sebagai berikut:

Protein, satu potongan paha ayam dengan berat 85 gram, mengandung protein sebesar 21 gram. Sedangkan dada ayam mengandung 25 gram protein. Kebutuhan asupan protein yang disarankan per harinya adalah 46 gram untuk wanita dan 56 gram untuk pria. Protein sangat penting untuk fungsi kekebalan tubuh, pertumbuhan sel, dan juga massa otot.

Lemak, satu porsi dada ayam mengandung 7 gram lemak total dan 2 gram lemak jenuh, ini merupakan 10% dari nilai harian yang direkomendasikan. Sedangkan paha ayam mempunyai lemak sebesar 13 gram lemak total dan 3,5 gram lemak jenuh per porsi. Ini merupakan 20% dari asupan harian yang direkomendasikan dari total lemak.

Kolesterol, dada dan paha ayam mengandung kolesterol yang moderat. Bagian dada dapat mengandung 70 mg kolesterol. Sedangkan paha ayam mengandung 80 mg kolesterol. Mengkonsumsi makanan tinggi kolesterol dan lemak jenuh dapat meningkatkan risiko penimbunan plak pada pembuluh darah yang dapat menyebabkan penyakit jantung koroner dan stroke. The American Heart Association merekomendasikan batasan asupan kolesterol per hari sebesar 200 mg untuk orang berpenyakit jantung koroner.

Dengan kandungan gizi tersebut, daging ayam sangat dibutuhkan bagi masyarakat Indonesia. Utamanya bagi masyarakat dengan pengeluaran rumah tangga menengah ke bawah. Dengan jumlah penduduk miskin sebanyak 9,41% per Maret 2019. Indonesia harus tetap memperhatikan kebutuhan gizi penduduk miskin tersebut. Selama ini pemerintah sudah menerapkan kebijakan Raskin atau Rastra. Namun, kebijakan itu dirasa belum cukup. Karena hanya memenuhi kebutuhan karbohidrat para penduduk miskin. Apalagi para penduduk miskin didominasi oleh para petani. Sehingga kebijakan Raskin atau Rastra dirasa percuma, karena mereka bisa memproduksi beras sendiri. Akan lebih baik jika ada pembagian daging ayam gratis bagi rakyat miskin tiap satu atau dua bulan sekali. Agar mereka juga bisa menikmati daging ayam dan kebutuhan gizinya juga terpenuhi.

Pada tahun 2018 Badan Pusat Statistik (BPS) merilis data bahwa, dari 394 perusahaan yang aktif dan memenuhi syarat perusahaan diperoleh data sebagai berikut: 129 perusahaan melakukan kegiatan pembibitan unggas, 265 perusahaan merupakan usaha budidaya unggas. Sama halnya dengan tahun-tahun sebelumnya sebagian besar perusahaan merupakan perusahaan yang berbentuk PT/CV/Firma (97,72 persen), kemudian yayasan (1,27 persen), BUMN (0,76 persen), dan koperasi (0,25 persen). Jumlah pekerja selama tahun 2018 sebanyak 18.242 orang, yang terdiri atas 12.947 orang pekerja tetap dan 5.295 orang pekerja honorer.

Produksi perusahaan ayam bibit selama tahun 2018 adalah final stock (DOC) sebanyak 374.300 ribu, ayam bibit induk sebesar 1.205 juta ekor, dan ayam bibit nenek sebesar 81.341 ribu ekor. Produksi perusahaan budidaya ayam petelur selama tahun 2018 sebesar 120.686 ton telur. Produksi perusahaan budidaya ayam pedaging selama tahun 2018 adalah sebanyak 70.262 ribu ekor ayam pedaging. Populasi ayam bibit pedaging pada 31 Desember 2018 sebanyak 7,4 juta ekor. Menurut golongan produktivitas, 69,61% sudah berproduksi, 27,49% dari ayam bibit diantaranya belum berproduksi, dan 2,9% sudah tidak berproduksi lagi. Populasi final stock ayam petelur pada 31 Desember 2018 sebanyak 8,35 juta ekor. Menurut golongan produktivitas, 15,8% dari ayam bibit diantaranya belum berproduksi, 78,54% sudah berproduksi, dan 5,65% sudah tidak berproduksi lagi.

Pengeluaran perusahaan peternakan unggas pada tahun 2018 sebanyak 7,05 triliun rupiah yang terdiri dari pengeluaran pakan 57,87%, pengeluaran lainnya 5,09%, upah pekerja 21,95%, sedangkan untuk pengeluaran listrik dan air, obat-obatan, serta bahan bakar dan pelumas masing-masing sebesar 4,12%, 3,23%, dan 1,09%. Populasi ayam bibit petelur pada 31 Desember 2018 sebanyak 4,97 juta ekor. Menurut golongan produktivitas, 22,99% dari ayam bibit diantaranya belum berproduksi, 76,01% sudah berproduksi, dan 0,99% sudah tidak berproduksi lagi. Dengan produktivitas tersebut, nyatanya masih belum bisa memenuhi kebutuhan nasional. Pemerintah membuka kran impor telur dan daging ayam untuk menutupinya. Oleh karena itu, pemerintah sebaiknya melakukan kebijakan seperti penambahan modal kepada para peternak ayam pedaging dan petelur, karena hal tersebut akan meningkatkan kesejahteraan para peternak. Daripada harus bersaing dengan telur dan daging ayam impor.

*)Penulis merupakan Statistisi Ahli Pertama BPS Kabupaten Kolaka, Provinsi Sulawesi Tenggara.

KOMENTAR FACEBOOK