Bersiap Mengelola Ecotourism di Aceh, Disbupar Gelar workshop dan Field Trip

ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh– Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh menggelar pelatihan mengelola wisata alam dan pengemasan paket wisata ramah alam (eco tourism). Pelatihan kepariwisataan tersebut dilaksanakan mulai tanggal 7-9 Oktober 2019 yang bertempat di Kumala Hotel, Ulee Kareng, Banda Aceh dan lokasi wisata alam Brayeun, Aceh Besar.

Dalam pembukaan acara yang diikuti oleh 50 peserta tersebut, Ismail selaku Plt. Kabid Pengembangan Usaha Pariwisata dan Kelembagaan (PUPK) Disbudpar Aceh berharap agar peserta pelatihan dapat berinovasi lebih kreatif dalam pengemasan paket wisata alam.

“Pengemasan paket wisata alam harus lebih kreatif. Dengan demikian, wisatawan akan tertarik untuk membeli produk wisata tersebut. Sehingga, jumlah wisatawan yang berkunjung ke Aceh akan terus meningkat,” papar Ismail saat membuka acara.

Menurut Budi Santoso, Aceh memiliki potensi wisata alam yang luar biasa. Namun, harus dikemas dalam bentuk produk wisata yang lebih tertata, unik, dan menarik.

“Sejatinya wisatawan membeli produk wisata bukan potensi wisata. Oleh karenanya, butuh upaya dan kerja sama lintas pihak penggerak wisata di Aceh untuk mewujudkan hal ini. Terutama terkait penetapan travel pattern wisata alam di provinsi Aceh.”

Dalam mengemas produk wisata, ada empat hal penting yang harus dipahami oleh para pelaku wisata. Pertama, produk wisata mampu menopang keberlanjutan lingkungan hidup. Kedua, produk wisata memiliki nilai sosial yang melibatkan masyarakat setempat. Ketiga, produk wisata tersebut bernilai ekonomi, dan keempat, memiliki managemen dan aturan bagi para wisatawan.

Selayaknya yang dipaparkan oleh Agus Wiyono, salah seorang pemateri yang memberikan ragam materi selama pelatihan berlangsung.

“Tamu adalah raja, tapi kita harus menerapkan kode etik yang berlaku di wilayah setempat (kearifan lokal) juga. Jika tidak, kita akan hancur,” jelas Ketua East Java Ecotourism Forum tersebut.

Kemudian, adapun yang menjadi produk dari paket wisata alam yang harus diperhatikan ialah potensi alam, potensi budaya, kreativitas, atraksi masyarakat, dan fasilitas. Selain itu, dalam memilih produk untuk paket wisata, hal yang harus diperhatikan adalah atraksi dan keunikan dari produk tersebut.

Menariknya, pelatihan yang digelar selama tiga hari tersebut tidak hanya memberikan wejangan teori, namun juga praktik langsung (field trip) terkait tata cara pengemasan paket wisata alam di Lembah Brayeun, Leupung, Aceh Besar yang berpotensi menarik minat wisatawan, baik wisatawan lokal maupun mancanegara.

Menurut Riska Nanda, salah seorang peserta pelatihan bahwa program pelatihan tersebut sangat menarik dan juga edukatif. Dia juga berharap agar ke depan pelatihan ini menjadi lebih efektif.

“Banyak hal terkait wisata yang sebenarnya belum kita pahami bahkan luput dari perhatian kita selama ini. Melalui pelatihan ini banyak pengetahuan baru yang kita dapatkan dari para narasumber berpengalaman. Semoga ke depan pelatihan seperti ini menjadi lebih efektif. Sehingga, pascalatih terdapat monitoring dan evaluasi terhadap hasil dari pelatihan sehingga para peserta mampu mengemas produk wisata yang layak untuk dijual,” ucap salah seorang perwakilan dari Generasi Pesona Indonesia (GenPI) Aceh.[]

Editor : Ihan Nurdin