Kolom: Swafoto

Jokowi dan Prabowo berswafoto. Keduanya tersenyum lebar. Di belakang mereka berdua, berjejer – menurut informasi – wartawan yang meliput istana. Mereka juga tersenyum. Tidak kalah lebar, bahkan. Saya tidak tahu, apakah senyuman mereka seirama dengan senyuman Jokowi dan Prabowo. Senyum kedua rival ketat ini, bisa jadi karena ada titik temu pembicaraan. Yang kita baca di media, bahwa Gerindra siap masuk dalam gerbong koalisi Jokowi. “kami siap membantu, kalau dibutuhkan,” ujar Prabowo dalam pernyataannya di muka pers.

Perjumpaan ini, menurut salah satu pihak melegakan. Menurut pihak yang mengatakan itu lega, karena Indonesia aman. Tidak lagi gontok-gontokan, karena politik. Ramai-ramai sekarang menyerukan, “Sekarang, mari kita tatap masa depan baru Indonesia. Lihatlah masa depan Indonesia. Indonesia yang makmur, bahagia dan maju.” Seruan yang disampaikan karena pertemuan dua rival itu.

Saya semakin tidak mengerti, sebenarnya, ada apa di balik pertemuan politik demikian. Kalau mau disederhanakan, karena yang berjumpa adalah dua politisi, maka yang dibicarakan adalah hal-hal politik. Tidak mungkin bicara arisan.

Terus, apa yang dibicarakan?

Kita akan dengan mudah menjawab, “kursi menteri!” Atau, “deal-deal lain, yang tidak terlihat,” sebab, seperti yang sudah-sudah, kita memang kemudian, setelah Pemilu, berjarak dengan politik.
Akan tetapi mari letakkan itu di satu sudut. Ada hal penting yang harus kita sampaikan dua rival, yang kembali bersahabat itu, yaitu, bagaimana nasib kain kebangsaan yang kini terkoyak-koyak karena perpolitikan, terutama sejak tahun 2014. Apakah selesai dengan swafoto itu. Apakah dianggap selesai dengan barter kursi di kabinet.

Bagaimana dengan kebencian yang kini bak palu godam, menghancurkan apapun yang ada di hadapan. Tidak perduli apakah itu pada keluarga, perkawanan, ideologi, keagamaan atau kebangsaan. Atau, dari hasil survey pasca pilpres, keterbelahan ekstrim di tengah masyarakat atas pilihan politiknya. Keterbelahan yang mengkhawatirkan. Bahkan semakin merisaukan. Keterbelahan itupun karena memilih mereka berdua yang berswafoto itu. Bukan karena hal lain.

Akibatnya, kini di depan mata, kita melihat, pertunjukan kekerasan berseliweran tanpa henti. Bahkan yang lebih mencengangkan kini, kekerasan disambut dengan sorak sorai kegirangan. Empati menjadi hal langka.

Siapa yang akan mengambil tanggung jawab akan hal itu. Atau semuanya lenyap saja, tanpa bekas. Atau memang benar, seperti anggapan selama ini, bahwa kita memang bangsa cepat pelupa. Sekaligus, cepat terombang-ambing dengan segenap hal-hal baru lainnya.

Oleh karena itu, sebagai jalan keluar, seharusnya, perjumpaan keduanya, Jokowi-Prabowo adalah lebih dari persoalan pembicaraan politik, walau hal tersebut, merupakan sebagai titik awal. Keduanya, harus berani mengambil sebuah sikap moril dan juga politik, untuk menyelesaikan ambruknya tatanan berkebangsaan kita sekarang ini. Tanpa itu, pertemuan keduanya tidak memiliki makna apapun.

Foto: Ist

KOMENTAR FACEBOOK