94 Tahun Syekh Yusuf Al-Qaradhawy

Ahmad Arif

Syekh Yusuf Al-Qaradhawi telah memasuki usia ke-94 tahun. Mantan presiden Persatuan Ulama Internasional itu telah enam kali berkunjung ke Indonesia. Baginya, Indonesia merupakan salah satu negara yang selalu dicintainya, senantiasa dirindukannya, dan menyematkan harapan besar agar lebih berperan besar dalam percaturan umat dunia.

“Indonesia negeri muslim terbesar di dunia. Indonesia tidak memiliki masalah dengan negara-negara Islam lainnya. Oleh karena itu, Indonesia mempunyai kesempatan dan kekuatan untuk bertindak sebagai mediator dalam masalah konflik di berbagai negeri Islam,” ujarnya saat berkunjung ke Indonesia atas undangan presiden SBY pada tahun 2007 lalu.

Sosok Al-Qaradhawy

Al-Qaradhawy lahir di Shaft Thurab, sebuah desa kecil di Mesir pada 9 September 1926. Di usianya yang masih belia, 10 tahun, ia telah hafal 30 juz Alquran. Ia melalui sekolah dasar hingga atas di Ma’had Thantha. Meraih gelar sarjana dari Fakultas Ushuluddin Universitas Al Azhar dengan nilai summa cum laude pada tahun 1952. Gelor doktor baru bisa diraihnya 20 tahun kemudian (1972) dari Al Azhar, karena ia berseberangan dengan rezim masa itu.

Sejak masih duduk di bangku SMP, Al-Qaradhawy telah aktif dalam gerakan al ikhwan al muslimun (IM) dan sempat berinteraksi langsung dengan pendirinya, Asy-Syahid Imam Hasan Al Banna. Pada tahun 1949, di usianya ke-23, Al-Qaradhawy dipenjara oleh rezim Raja Faruq. Tujuh tahun kemudian (1956), ia kembali dipenjara usai meletusnya revolusi Juni di Mesir. Tak lama setelah itu, ia dicekal pemerintah negaranya sendiri. Dengan berat hati ia pindah ke Qatar hingga memperoleh kewarganegaraan negeri penghasil minyak terbesar di dunia itu.

Al-Qaradhawy memiliki tujuh anak. Empat putri dan tiga putra. Salah seorang putrinya memperoleh gelar doktor fisika dalam bidang nuklir dari Inggris. Putri keduanya memperoleh gelar doktor dalam bidang kimia juga dari Inggris, sedangkan yang ketiga masih menempuh S3. Adapun yang keempat telah menyelesaikan pendidikan S1-nya di Universitas Texas Amerika. Anak laki-laki yang pertama menempuh S3 dalam bidang teknik elektro di Amerika. Yang kedua belajar di Universitas Darul Ulum Mesir. Sedangkan yang bungsu telah menyelesaikan kuliahnya pada fakultas teknik jurusan listrik.

Dilihat dari beragamnya pendidikan anak-anaknya tersebut, kita bisa membaca sikap dan pandangannya terhadap pendidikan modern. Dan hebatnya lagi, Al-Qaradhawy tidak membedakan pendidikan yang harus ditempuh anak-anak perempuannya dan anak laki-lakinya. Dari tujuh anaknya, hanya satu yang belajar di Universitas Darul Ulum Mesir dan menempuh pendidikan agama. Sedangkan yang lainnya, mengambil pendidikan umum dan semuanya ditempuh di luar negeri. Ia menolak pembagian ilmu secara dikotomis. Baginya, semua ilmu bisa islami dan tidak islami, tergantung kepada orang yang memandang dan mempergunakannya. Pemisahan ilmu secara dikotomis itulah yang telah menghambat kemajuan umat Islam.

Isham Hilmi Talimah, Sekretaris pribadi Al-Qaradhawy sejak seperempat abad lalu membuat catatan bersambung dengan tema Ma’Al-Qaradhawy (bersama Al-Qaradhawy) yang dipublikasi dalam akun facebooknya dan kemudian dimuat oleh Aljazeera.com mulai 17/7/2019. Isham menuturkan, Al-Qaradhawy mempunyai ingatan yang luar biasa. Ia hafal semua nomor-nomor telepon sahabat, keluarga, dan instansi-instansi penting di Mesir dan Qatar, sehingga tidak butuh yellow paper yang memuat nomor-nomor tersebut. Bahkan, Al-Qaradhawy pernah menegur Isham, karena mengganti judul tulisan Asy-Syahid Hasan AlBanna. “Saya pernah membaca tulisan tersebut dalam Koran Ikwanul Muslimin pada tahun 1947. Judulnya bukan seperti yang kamu tulis,” ujar Al-Qaradhawy sembari menyebutkan judul sebenarnya.

Ulama Ensiklopedis

Al-Qaradhawy, menurut Hajriyanto Y Thohari (2007) merupakan gambaran ulama ensiklopedis, ulama paripurna, ulama par excellence! Karya-karyanya lebih dari 130 buku, hampir meliputi seluruh aspek ilmu-ilmu keislaman. Persoalan yang dibahas dalam buku-bukunya sedemikian lengkapnya, mulai persoalan-persoalan keagamaan yang klasik dan klise sampai ke problem-problem keislaman kontemporer yang paling aktual yang tengah dihadapi umat Islam.

Bukunya Hadyul Islam Fatwa Mu’ashirah yang diterjemahkan menjadi Fatwa- Fatwa Kontemporer (Penerbit Gema Insani Pers, Jakarta) sebanyak tiga jilid, masing-masing jilidnya hampir setebal 1.000 halaman. Buku ini disusun dalam bentuk jawaban atas pertanyaan-pertanyaan kontemporer yang diajukan oleh umat Islam dari seluruh penjuru dunia, mulai dari soal fikih sampai soal-soal politik atau pemerintahan.

Al-Qaradhawy menulis buku soal ekonomi, Daurul Qiyam wal Akhlak fi Iqtishodi ‘lislamy sampai soal Teologi Kemiskinan, Musykilatu ‘l-Faqr wa Kaifa Alajaha l-islam. Ia juga menulis buku Al-Siyasah Al-Syar’iyah, persis seperti judul magnum opus-nya Ibn Taimiyah. Dalam buku ini, dia menanggapi pandangan politik kaum liberalisme Islam seperti “Al-Islam wa Ushulu ‘l-Hukm”, karya Ali Abdurraziq, dan “Min Huna Nabda’ buku Khalid Muhammad Khalid yang sangat kontroversial.

Unik dan Istimewa

Syekh Al-Qaradhawy adalah ulama dan pemikir Islam yang unik sekaligus istimewa. Keunikan dan keistimewannya itu tak datang secara tiba-tiba. Melainkan, setelah melalui proses panjang hingga saat ini. Ia mempunyai metodologi khas dalam menyampaikan risalah Islam. Karena metodologinya itulah ia bisa diterima oleh timur dan barat sebagai pemikir yang selalu menampilkan Islam secara moderat, ramah, dan santun. Kapasitasnya itulah yang membuatnya kerap menghadiri pertemuan di berbagai negara Eropa dan Amerika sebagai representasi Islam.

Dalam bidang pemikiran dan dakwah, Al-Qaradhawy menempati posisi vital dalam kebangkitan gerakan Islam kontemporer. Karya-karyanya telah mengilhami kebangkitan Islam modern yang moderat. Waktu yang dia habiskan dalam berkhidmat kepada risalah terakhir (Islam) melalui ceramah, merespons problematika keumatan di berbagai belahan dunia menjadikannya sebagai sosok besar di banyak negara, khususnya dalam pergerakan Islam kontemporer. Setiap karyanya telah diterjamahkan ke banyak bahasa dunia, termasuk Indonesia.

Al-Qaradhawy bukan tipe ulama yang begitu popular, terus berbelok menjadi politisi atau maju sebagai calon presiden. Bukan politikus berjubah ulama, atau ulama yang sok kritis berjubah oposisi. Dia tidak pernah memberikan justifikasi atau legitimasi teologis kepada rezim pemerintah, tetapi juga tidak pernah sok kritis sebagaimana oposisi. Dia lurus saja pada pandangan-pandangannya tanpa dipengaruhi oleh kedekatan atau kejauhannya dengan rezim.

Al-Qaradhawy seorang yang sederhana dan moderat dalam bersikap. Tapi, meski moderat, bukan berarti dia lembek perihal jihad. Pandangan-pandangan jihadnya tetap kokoh dan ghirrah-nya terhadap perjuangan Islam luar biasa kuat. Bahkan, di usianya yang telah senja, ia menghasilkan karya monumental berjudul, Fiqhul jihad, setebal 1.439 halaman yang berusaha meluruskan stigmatisasi buruk terhadap jihad.[]

Penulis adalah Pendiri Rumah Baca Aneuk Nanggroe (RUMAN) Aceh

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK