Lada, Beaulieu, dan Nasib Kopi Gayo

@hello sehat

Oleh Afridany Ramli*

Seorang pelayar sekaligus pedagang dari Perancis pada abad ke-17 pernah bertolak belakang dengan Sultan Iskandar Muda. Konon, harga lada yang semakin mahal membuatnya bingung harus bagaimana melobi Sang Raja untuk mendapatkan lada dengan harga yang murah. Beberapa kali ia berhasil menipu raja. Namun, akhirnya pelayar itu harus membeli lada secara sembunyi-sembunyi setelah raja menolak menjual lada padanya. Si pelayar akhirnya marah dan membuka aib serta bobrok raja dengan cara menulis rasa kecewanya pada Sultan.

Dalam sebuah sumber, pelayar itu bernama Augustin de Beaulieu. Dia lahir di Perancis tahun 1589, pernah berlayar ke Afrika tahun 1612, berlayar ke nusantara dua kali, tahun 1616 dan 1619, dan meninggal tahun 1637. Dia juga seorang patriot yang mempunyai sebuah visi tentang peran bangsanya (Perancis) di percaturan dunia. Setelah pulang dari pelayarannya ke Aceh, dia menyusun sebuah rencana demi pembinaan jaringan perdagangan Perancis di Asia.

Pada waktu Beaulieu singgah di Aceh, orang Eropa sudah mendapat kedudukan kuat di nusantara. Orang portugis sudah menduduki Malaka sejak tahun 1511, tetapi mereka dilarang berdagang di Aceh. Jika pun mereka berdagang maka harus membayar pajak yang tinggi di Aceh. Tentu saja saat itu Kerajaan Aceh sudah mencapai puncak kejayaannya dengan penobatan Sultan Iskandar Muda tahun 1607. Orang asing tidak dibolehkan berdagang, malah tidak mudah diberi izin dalam perdagangan. Kalau pun terjadi hubungan dagang maka raja akan turun sendiri melakukan negosiasi dengan pihak luar dengan cara mengikat kontrak dengan pedagang Eropa.

Tapi, Beaulieu yang cerdik berhasil mengangkut ladanya dengan muatan kapal penuh ke Perancis. Ia memusatkan perhatiannya pada ekspedisinya, yaitu dengan cara membeli dalam jumlah yang besar. Di samping mengumpulkan lada, ia secara metodia mencatat berbagai informasi tentang Pulau Sumatra. Beberapa di antaranya bahkan dia beli sebagai budak tebusan yang telah beberapa tahun tinggal di Aceh, itu dilakukannya terhadap orang Portugis yang dijumpainya.

Selain berdagang membeli lada, Beaulieu dikenal dekat dengan kalangan Kerajaan Aceh. Ia mendeskripsikan di dalam bukunya mengenai semua kehidupannya di istana. Bahkan tidak sedikit tulisannya menyentuh tingkah polah raja sehari-hari. Anehnya, raja lebih senang menjamunya setiap kali ia datang ke istana. Perjamuan hidangan dan tarian disuguhi di depannya. Namun, untuk persoalan izin raja memiliki prinsip tertentu yang membuat Beaulieu mengurungkan niatnya untuk menguasai perdagangan jenis lada ini, yang sangat menguntungkan bagi bangsa Prancis. Ia mendapat untung empat kali lipat setelahnya.

Dalam konteks zamannya Beualieu memimpin tiga kapal besar untuk tujuan berlayar. Sampai ke Banten untuk membeli lada. Ketika berada di Aceh Beualieu ditemani seorang syahbandar khusus kepercayaan dari istana. Kala itu, dalam sekali angkut Beualiue dapat membawa pulang sampai 8.000 pon (4 ton) lada dari pasar. Sultan menjual lada dengan harga yang sangat tinggi, mencapai 54 real per bahar.

Jika mereka menawarkan dengan harga 40 real misalnya, sultan menolak dengan tegas. Kalau perlu menyuruh orang meminta Beaulieu menyerahkan batu zamrud. Atau Beualieu akan merengek-rengek pada raja. Terkadang pada kondisi demikianlah ia bersikap membangun pasar gelap, dan membelinya pada rakyat di luar pantauan raja. Ia akan bisa mendapat harga yang lebih murah dan menguntungkan. Cara picik yang dilakukan oleh Beaulieu untuk menipu raja adalah dengan cara menulis surat palsu, dan jika pun terjadi perselisihan mereka pun rela menjarah dan memerangi. Begitulah perjalanan singkat Beualieu dan perdagangannya membeli lada-lada di Aceh.

Belakangan ini, sebagaimana media memberitakan bahwa kopi di Gayo mengandung zat kimia. Adapula yang berpendapat itu adalah bagian dari fitnah terhadap kopi Gayo. Semua itu cenderung membuat citra kopi Gayo di mata bisnis turun secara drastis. Maka, tak dapat disangkal bahwa bisnis selalu berirama. Naik turunnya harga sebuah mata barang memiliki efektivitas yang beragam.

Nah, di sini berangkat dari sebuah pengalaman. Bisnis antara Kerajaan Aceh dengan Eropa tak pernah terjadi pembarteran. Kecuali dalam bentuk pembayaran berupa dengan menggunakan mata uang yang sah, berupa emas. Raja tak sungkan-sungkan menolak jika mereka membeli dengan mata uang perak sehingga dapat dipastikan bahwa dalam proyek bisnis, baik lada, maupun kopi, bergantung kepada pihak pebisnis. Bukan pada produktivitas yang sejatinya dapat memperoleh izin sortir.

Hasil kopi sebelum dibeli dipilih terlebih dahulu oleh si pembeli. Maka, jika tak sesuai patokan, muncullah bermacam-macam versi hasil tawaran yang merujuk pada kualitas kopi. Tujuan dan alasan pembeli adalah untuk mendapati harga yang terjangkau dan kebutuhan pasar yang signifikan. Semoga di sini, kita berharap tidak terjadi perang dagang melewati proses kopi. Perlu kita ketahui, di sinilah letak kekecewaan Beaulieu terhadap raja karena sulit mendapati lada, sedangkan di pasar dalam negerinya barang sedang ditunggu dan dibutuhkan oleh rakyatnya.

Sebagaimana telah dilihat dan untuk lebih jelasnya, di dalam perdagangan internasional, tipu muslihat, percakapan segi tiga, dan segi empat menjadi adegan penting di dalam perdagangan, baik perdagangan kopi maupun lada yang pernah diperankan Beaulieu. Tapi,  bagaimanakah perjalanan kopi sampai ke dusun Afrika? Semua pebisnis kopi pasti mengetahuinya. Kopi sangat dibutuhkan sebagai pengganti minuman bercampur kimia lainnya.

Jadi tak ayal, jika hari ini kopi Gayo akan diteliti ke tingkat lebih lanjut. Sebab seperti kita ketahui bahwa selama ini kopi merupakan komoditas yang membawa pengaruh besar pasar global dunia. Dari contoh-contoh dan pengalaman di atas kita dapat menyimpulkan, khususnya segala macam untuk jenis rempah di Aceh yang dibutuhkah oleh pasar dunia, selalu berakhir dengan kekeliruan. Padahal sejatinya, rempah serta palawija di Aceh sangat berharga. Para pedagang telah menelusuri hasil produktivitas petani Aceh tak kalah saing dengan pasar dunia. Melainkan dapat mendominasi kebutuhan pasar. Tetapi, terkadang selalu bernasib sama seperti yang pernah dilakukan Beualiue di Aceh.[]

Penulis adalah novelis asal Sigli

KOMENTAR FACEBOOK