Wahai GAM, Apa yang Kurang Seumirah Berikan?

Teuku Murdani. dosen UIN Ar-Raniry, Banda Aceh.

Oleh T. Murdani*

Sudah menjadi rahasia umum kalau kita sudah lama di rantau ada rasa kuat ingin pulang ke kampung halaman. Apalagi kalau masih banyak sanak keluarga yang masih menetap di sana. Rindu kampung halaman dan bersua dengan keluarga beserta teman-teman semasa kecil menyatu dan menggerakkan hati dan jiwa raga untuk kembali ke kampung halaman.

Maka suatu hari saya pun merasakan hal yang sama dengan rasa sangat ingin kembali ke desa di mana saya dilahirkan dan dibesarkan sewaktu kecil dahulu. Memang jarak tidaklah begitu jauh antara Banda Aceh dan Nisam Antara. Tetapi karena berbagai macam kesibukan, hampir tidak sempat terfikir untuk kembali ke sebuah gamponng yang penuh dengan memori sewaktu kecil dahulu.

Gampong itu bernama Seumirah, merupakan sebuah gampong di pegunungan kecamatan Nisam Antara, dulunya tergabung dalam kecamatan Nisam. Sebagai generasi ke dua dari Gampong Seumirah sangat banyak kenangan yang sulit sekali terlupakan dari berbagai kisah di Seumirah. Kebanyakan penduduk Seumirah adalah pelarian dari tentara DI/TII. Pelarian di sini bukan maksudnya melarikan diri dan berkhianat terhadap perjuangan, tetapi lari dari kejaran aparat penegak hukum ketika perjuangan DI/TII ditumpas.

Konon menurut cerita orang tua, para tokoh sentral Aceh Merdeka (AM) sebelum berubah Namanya menjadi Gerakan Aceh Merdeka (GAM) sekelas Wali Neugara Teungku Muhammad Hasan Di Tiro, bermarkas di Gampong Seumirah dan bergerilya di Kawasan Nisam, sebelum keluar negeri.

Ketika babak baru pemberontakan Aceh dimulai, tidak sulit bagi para pejuang GAM untuk mencari dukungan dari Gampong Seumirah. Para penduduknya yang rata-rata mantan pejuang DI/TII dan AM masih sangat setia dengan perjuangan. Buku-buku hikayat kegemilangan Aceh di masa kesultanan merupakan buku bacaan favorit bagi anak-anak di Gampong Seumirah. Mereka membaca atau dibacakan sebelum tidur.

Tidak mengherankan jika selama Aceh dalam status Daerah Operasi Militer (DOM) sampai 2003, Seumirah merupakan salah satu kawasan basis terkuat GAM saat itu. Seumirah dan gampong-gampong sekitar lainnya sudah pernah merasakan merdeka selama kurang lebih tiga tahun. Kala itu semua aturan hukum, pengadilan, administrasi; dari plat mobil sampai buku nikah yang digunakan berdasarkan Undang-Undang Aceh. Kalau ada anggota masyarakat yang berpergian ke Krueng Geukueh tidak jarang sambil bercanda Tentara Indonesia menanyakan pasport di pos-pos pemeriksaan.

Nisam Antara telah memberikan berbagai keperluan untuk perjuangan, mulai dari harta sampai kepada putra-putrinya untuk berjuang. Walaupun tidak sampai kepada titik kemerdekaan, tetapi telah mengantarkan sejumlah orang yang pernah bersembunyi dan bergerilya di Nisam Antara ke kursi panas baik legislatif maupun eksekutif.

Kini setelah empat belas tahun perdamaian Aceh yang ditanda tangani oleh para pemimpin GAM di Helsinki, Finlandia, banyak sudah para alumni Nisam Antara menjadi pejabat negara nan silih berganti, namun sayangnya Nisam Antara, khususnya Gampong Seumirah masih seperti dulu kala.

Ketika saya meninggalkan Gampong Seumirah pada tahun 1986, Nisam Antara masih tergabung dalam kecamatan Dewantara. Rumah-rumah warga masih terbuat dari papan alakadarnya, pasar dan kedai masih berkonstruksi kayu, dan jalan cuma pengerasan dari batu. Tidak jarang bila hujan, mobil dan sepeda motor tidak bisa lewat karena berlumpur dan licin.

Kini karena rindu yang tidak tertahankan tahun 2019 saya kembali dan ternyata Nisam Antara, khususnya Gampong Seumirah alhamdulillah tidak banyak berubah, sehingga tidak sulit bagi saya untuk mengenang kisah-kisah masa kecil dahulu. Hanya beberapa rumah yang berdinding beton, kedai di Seumirah masih berkontruksi kayu, hanya beberapa saja yang berkonstruksi beton. Yang sangat menyesakkan dada adalah jalan ternyata masih seperti dulu. Malah lebih rusak ketika saya tinggalkan karena kini banyak batu-batu besar yang sudah menonjol di jalan.

Dalam hati kecil saya berkata, sudah tiga periode alumninya berkuasa, yang pertama malah putramu sendiri. Sudah beberapa utusan mewakilimu di legislatif. Tetapi nasibmu belum berubah. Sambil mendesah saya bertanya, “apakah memang sudah tertulis di Lauhil Mahfudh, kalau jalan di Gampong Seumirah tidak akan pernah diaspal?”.

Apakah masih kurang pengorbananmu selama konflik Aceh berkecamuk? Apakah penderitaanmu selama konflik tidak ada yang mencatat untuk sekedar diberikan penghargaan semisal dengan pembangunan jalan aspal saja?

Ataukah kini saatnya berpaling ke lain hati, agar pengembanganmu lebih baik dari nasibmu dulu dan sekarang. Perasaan kecewa ini tidak dapat dibendung kala mengingat pengorbanan warga Gampong Seumirah dalam mengumpulkan pajak, menyedikan makanan, memberi perlindungan dan mengizinkan putra-putrinya untuk berjuang bersama Gerakan Aceh Merdeka. “Tidak jarang ketika mengantarkan makanan ke markas GAM, malah dituduh cuak atau mata-mata,” kenang seorang warga kala itu.

Ternyata memang pernyataan orang tua Aceh dulu “di laot sapue pakat, didarat laen keunira” terbukti ampuh. Memanglah sifat manusia itu pelupa dan ada juga yang pura-pura lupa. Tetapi yang jelas, kerinduan masyarakat Gampong Seumirah, Nisam Antara untuk sejahtera sepertinya masih jauh panggang daripada api.

Jelas kalau hanya berbicara sangat mudah, tetapi sangat sulit untuk mempraktekkannya. Berjanji itu sangat gampang, tetapi ternyata sangat sulit untuk menempatinya. Haruskah kutunggu konflik baru untuk menulis semua bicaramu di atas kertas agar terbukti apa yang telah kau bicarakan. Haruskah kutunggu pemilu yang akan datang untuk kubuat surat hitam di atas putih, agar kau tidak melupakan lagi janji-janji mu…?
Atau sebaiknya kita lupakan saja apa yang pernah terjadi dan memilih jalan masing-masing untuk kebaikan bersama.

Canberra, Australia, 01 Oktober 2019

*)Penulis adalah putra Nisam Antara, mahasiswa program Doktor dalam bidang International Development, Fakultas Art & Design, University of Canberra, Australia, teuku.murdani@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK