Anggota Dewan Abdya: Masjid Pusat Kegiatan Umat

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Aceh Barat Daya (Abdya), Ikhsan menyebutkan, kehadiran masjid tidak hanya digunakan sebagai tempat melaksanakan acara-acara ritual agama seperti mendirikan salat lima waktu semata.

Namun, masjid sebagai tempat suci sebenarnya juga menjadi pusat kegiatan umat dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Hal tersebut diungkapkan Ikhsan saat memberikan materi tentang bagaimana menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan umat dalam kegiatan pelatihan khatib dan imam besar yang diselenggarakan oleh Dinas Syariat Islam Propinsi Aceh yang bekerja sama dengan Dinas Syariat Islam Abdya di Aula Khana Pakat, Kecamatan Blangpidie, Kamis (17/10/2019).

“Sebenarnya masjid itu bukan hanya digunakan untuk ritual agama seperti melaksanakan salat lima waku. Tetapi masjid juga memiliki fungsi yang lebih luas, untuk pendidikan, kegiatan dakwah dan kegiatan-kegiatan sosial lainnya,” jelas Ikhsan.

Di zaman rasulullah, kata Ikhsan, masjid juga dijadikan sebagai tempat menyusun strategi perang dan pusat perpolitikan umat.

“Maka seharusnya para imam dan khatib harus memiliki semangat dalam memakmurkan masjid serta melaksanakan kegiatan-kegiatan keumatan agar masyarakat terpikat hatinya dengan masjid,” ujarnya.

Sebagai baitullah, sambung Ikhsan, masjid juga tidak hanya dijadikan sebagai sarana untuk berzikir, namun Rasululah juga memungsikan masjid sebagai tempat pendidikan, tempat perdamaian dari sengketa, menerima utusan atau tamu, sebagai tempat untuk berdakwah, tempat untuk amal sosial santunan, tempat berlindung pada saat perang.

“Pada zaman nabi, masjid juga mampu melahirkan tokoh-tokoh yang sangat besar jasanya dalam pengembangan bidang keisalaman di seluruh dunia di antaranya Abu Bakar, Umar, Usman dan Ali,” ulas Ikhsan di hadapan para peserta yang terdiri dari imum chik dan dai muda.

Selain itu, sebut Ikhsan, masjid sebagai salah satu tempat untuk siraman rohani atau spiritual dari umat islam dalam mengatasi kebimbangan dan bahkan ketika ada masalah yang besar menimpanya. Kumandang azan dari muadzin juga sebagai tanda atau kabar untuk kaum muslim segera beranjak untuk mengambil air wudu, dan diperintahkan juga untuk menjawab setiap kalimah azan sedang berkumandang.

Selain itu, juga sebagai sarana pendidikan disiplin untuk selalu patuh tepat waktu dalam segala aktivitas, sedangkan kewajiban salat lima waktu agar umat selalu ingat Allah meskipun dalam keadaan sibuk bekerja atau beraktifitas mengejar dunia seperti yang dijelaskan dalam Alquran Surat Thaha ayat 14.

“Maka dari itu masjid menjadi tempat yang sangat tepat menghilangkan keraguan dan kegaluan yang kita alami. Zaman sekarang orang berjuang untuk mendapatkan ketenangan bahkan berbagai alternatif dilakukan agar lebih bahagia, akan tetapi tempat yang dituju bukan masjid justru tempat wisata dan berbagai macam hiburan dunia, sedangkan Allah sudah menjanjikan ketenangan itu didalam masjid,” jelasnya.

Selain sarana mendekatkan diri kepada Allah, Ikhsan juga mengatakan, masjid juga berperan atau bisa digunakan untuk pendidikan dan pengajaran. pada zaman Rasulullah, sambung Ikhsan, masjid sebagai salah satu pusat aktivitas kehidupan umat, di masjid tersebut diberikan pelatihan dakwah dan selanjutnya dikirim ke pelosok daerah untuk menyebarkan ajaran yang sudah disampaikan di masjid.

“Masjid pada saat itu juga untuk mengajarkan puisi-puisi ruhiyah atau keimanan yang mengagungkan nama Allah dan Rasulallah hingga lahirlah penyair yang hebat Hasan Bin Tsabit. Maka tidak heran jika zaman dahulu masjid begitu krusial perannya,” papar politisi muda Partai PAN itu.

Meskipun sepeninggal rasulullah, para sahabat meneruskan perjuangan beliau dengan tetap memfungiskan masjid sebagai pusat perkembangan ilmu-ilmu islam.

“Untuk saat ini, masjid besar yang menjalankan aktifitas pendidikan dan pengajaran islam seperti Universitas Al-azar Kairo, sebelum berkembang besar seperti saat ini perjalanan awal Universitas tersebut dari masjid Al-Azar yang didirikan pada masa Fatimiyah. Pada masa nabi juga dilakukan di masjid Nabawi sebagai kegiatan sosial dengan dibangun beberapa tenda sebagai tempat memberikan santuanan kebutuhan pangan kepada orang-orang tidak mampu,” tutur alumnus Markas Dakwah Al-Ilmi Negeri Iman dan Hikmah di San’a, Yaman itu.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK