Dewan Dorong Pemerintah Aceh Hadirkan Pusat Rehabilitasi Narkoba

Anggota DPRA Amiruddin Idris @aceHTrend/Ihan Nurdin

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Anggota DPR Aceh, Amiruddin Idris, mendorong Pemerintah Aceh agar merealisasikan hadirnya pusat rehabilitasi bagi korban penyalahgunaan narkoba di Aceh. Kebutuhan pusat rehabilitasi narkoba di Aceh menurutnya sudah sangat mendesak dengan kenyataan Aceh saat ini sudah masuk daftar merah untuk peredaran narkoba.

“Kita mendorong agar lahirnya pusat rehabilitasi narkoba yang terintegrasi. Di sana nanti ada bimbingan agama, ada sarana olahraga, dan ada sarana kesehatannya juga,” ujar Amiruddin Idris dalam kelas ke-75 Forum Aceh Menulis yang mengangkat tema Seluk-beluk Bisnis Narkoba dan Dampak Buruknya terhadap Masyarakat Aceh, di Aula Dinas Koperasi dan UKM Aceh, Selasa (15/10/2019).

Ia mengatakan, tidak semua korban penyalahgunaan narkoba dilakukan upaya hukum dengan dijebloskan ke penjara, tetapi harus dipilah-pilah mana yang harus dipenjarakan dan mana yang harus mendapat rehabilitasi. Khusus untuk para pemakai, ia menyarankan agar direhabilitasi agar masa depannya tetap terjaga.

Lebih terperinci dijelaskan oleh Kepala Badan Narkotika Nasional Provinsi Aceh, Brigjen Pol Faisal Abdul Nasser yang mengatakan, jumlah narapidana kasus narkotika di Aceh saat ini mencapai 5.418 orang. Terdiri atas bandar sebanyak 3.746 orang dan pengguna sebanyak 1.672 orang.

Dari total 5,2 juta penduduk Aceh saat ini, jumlah pekerja terpapar narkoba sekitar 0,74 persen atau 38.493. Sedangkan di kalangan pelajar jumlah yang terpapar mencapai 69.066 orang.

Faisal sangat menyayangkan kondisi Aceh yang hingga hari ini belum memiliki pusat rehabilitasi narkoba yang berdiri sendiri. Ia menyebutkan, dari total 73.201 orang penyalahguna narkoba di Aceh, sejak 2014-2018 hanya mampu melakukan rehabilitasi rawat jalan melalui klinik pratama hanya 0,02 persen atau 1.350 orang.

Dan yang melanjutkan ke layanan pascarehab hanya 718 orang. Sementara sebanyak 275 orang yang terindikasi harus dirawat inap terpaksa dirujuk ke lembaga rehabilitasi lain untuk rawat inap, yaitu Rumah Harapan Aceh RSJ Banda Aceh, Balai Besar Rehabilitasi BNN Bogor, Loka Rehabilitasi BNNP Sumut di Deli Serdang, Loka Rehabilitasi BNNP Kepri di Batam, Loka Rehabilitasi BNNP Lampung di Kalianda dan beberapa lembaga rehabilitasi milik swasta yang ada di Provinsi Aceh maupun di luar Aceh.

“Contohnya di Kabupaten Pidie, dari total 2.516 orang yang sakit jiwa sebesar 80 persennya karena narkoba,” kata Faisal.

Oleh karena itu, BNNP Aceh terus melakukan sosialisasi pencegahan penyalahgunaan narkoba berbasis kearifan lokal melalui program-program edukatif seperti saweu masjid, saweu sikula, saweu gampong, dan sebagainya.

“Karenanya kita berupaya bagi pemakai pertama jangan kita tahan, kita rawan jalan saja. Kalau ditahan, umpanya empat tahun dia di sana, belum tentu jadi baik lagi, pendidikan jadi terganggu, masa depannya rusak,” ujarnya.[]

KOMENTAR FACEBOOK