Dua Desainer Aceh Pamerkan Karya di DC Fashion Week Washington

Cut Putri dan Welin @ist

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Pemerintah Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengirim dua desainer Aceh yang tergabung dalam Sisterly Community Aceh untuk mengikuti acara DC Fashion Week. Desiner Aceh yang menampilkan karyanya melalui acara fashion show yang diselenggarakan di Washington, DC tahun ini ialah Cut Putri Kausaria dan Welin Dwi Meiansari. Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Aceh mengharapkan dapat memperkenalkan dan mempromosikan budaya Aceh melalui hasil karya terbaik dari kedua desiner secara Internasional, sehingga Aceh dapat dikenal lebih mendunia.

DC Fashion Week merupakan acara fashion bergengsi tahunan yang sudah berlangsung selama 15 tahun berturut-turut di Washington DC, Amerika Serikat. Tahun ini, ajang bergengsi tersebut dilaksanakan pada tanggal 27-29 September 2019 di The Liaison Hotel, 415 New Jersey ave NW. Washington, DC 20001, yang diikuti oleh desainer dari beberapa negara di dunia dan desainer lokal Amerika Serikat Sendiri. Karya kedua desainer Aceh tersebut mampu mempesona para undangan yang hadir, yg terdiri dari para fashionista Amerika Serikat dan kalangan pecinta fashion lainnya dari berbagai belahan negara di dunia.

Saat ini busana muslim semakin populer dan sangat menarik perhatian berbagai  kalangan yang ada di dunia. Aceh sebagai satu-satunya provinsi di Indonesia yang menerapkan syariah Islam dengan mayoritas penduduk muslim terbanyak. Memanfaatkan momen ini untuk ikut meramaikan kancah industri fashion muslim di dunia dengan tetap mengedepankan budaya daerah Aceh sebagai identitas utama.

Pada event ini Cut Putri dan Welin menampilkan karya yang menerapkan motif-motif tradisional Aceh pada busana yang mereka rancang. Cut Putri Kausaria menampilkan keindahan bordir Aceh di atas Busana Rigata yang merupakan pakaian kasual khas Aceh khusus wanita yang telah dirilis sejak tahun 2017, serta busana Agaraja yang dikhususkan untuk para pria.

Dengan tema “The truth in The Dark”, Cut Putri menyampaikan pesan kepada dunia untuk dapat melihat keindahan budaya Aceh yang sebenarnya, yang berhasil melewati  masa-masa gelap yang pernah Aceh alami (tsunami dan konflik berkepanjangan). Di antara balutan kain hitam yang menjadi salah satu warna identitas Aceh, tampak liuk-liuk indah bordiran Aceh yang mempesona.

“Warna hitam bukan menyembunyikan keindahan, tapi justru memperjelas keindahan liuk bordiran itu sendiri, sama halnya seperti masa-masa gelap yang pernah Aceh alami, bukan malah menghilangkan keindahan budaya Aceh tapi malah memperkuat kehadiran budaya itu sendiri. Membuktikan bahwa kebudayaan Aceh tidak akan tergoyahkan, tidak akan luntur, bahkan mampu menembus segala zaman,” ujarnya melalui siaran pers, Kamis (17/10/2019).

Pada awal tahun 2019 Cut Putri merilis brandnya yang dikenal dengan nama GET-A, brand ini memproduksi  Rigata, Agaraja dan beberapa pakaian kasual lainnya seperti kemeja, celana, dan rok dengan tidak melupakan budaya Aceh di setiap sentuhan pakaiannya. Melalui partisipasinya dalam acara fashion week bergengsi ini, Cut Putri Berharap dapat menunjukkan keindahan budaya Aceh yang sebenarnya kepada dunia, membentuk image Aceh yang lebih bermartabat, tidak kalah dengan daerah lain di Indonesia, Bahkan mampu bersaing secara Internasional.

Sedangkan, Welin Dwi Meiansari mengangkat tema “Quantum” yang diterapkan melalui tenun songket Aceh, penggunaan tenun songket dan batik Aceh ini merupakan identitas Aceh yang memiliki sejarah serta bersifat timeless. Setiap kain tenun songket dan batik Aceh memiliki cerita pada setiap motif yang ada pada kain tersebut. Koleksi ini terinspirasi dari cerita pahlawan Aceh sehingga menggunakan warna yang berani dengan perpaduan karakter yang kuat.

Melalui karyanya, Welin ingin menunjukkan bahwa keindahan budaya Aceh tidak hanya untuk dinikmati oleh designer kelahiran Aceh saja, tapi juga seluruh designer di Indonesia Bahkan dunia juga bisa ikut membanggakan keindahan budaya Aceh. Welin juga telah mendirikan brand dengan menggunakan namanya sendiri sejak tahun 2016 melalui penjualan secara online di Surabaya dan kini pada tahun 2019 brand ini telah hadir di Banda Aceh secara offline. Harapan Welin dalam partisipasinya pada DC Fashion Week ini tenun songket dan batik Aceh dapat menarik perhatian dunia.

“Kebudayaan tidak hanya ada pada masa lalu saja, akan tetapi kebudayaan itu berulang seperti halnya tenun songket dan batik yang ada dari dulu hingga sekarang,” kata dia.

Bukan hanya membanggakan Aceh, partisipasi kedua desainer Aceh tersebut juga ikut membanggakan Indonesia. Selama acara tersebut berlangsung, tampak perwakilan dari KBRI Washington, DC ikut hadir dan memberikan dukungannya secara penuh, bahkan menyampaikan kebanggaannya  secara langsung dalam forum tersebut. Hal ini pun disambut baik oleh penyelenggara DC Fashion Week, penyelenggara pun berharap acara tersebut juga dapat mengeratkan hubungan diplomasi antar kedua negara.

Dinas kebudayaan dan pariwisata Aceh menjadikan acara ini sebagai bagian dari rangkaian program untuk mewujudkan Aceh  sebagai kota wisata Modest Fashion/Fashion Islami dimasa yang akan datang.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK