Ini Jalur Tikus Masuknya Narkoba ke Aceh

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kepala Badan Narkotika Provinsi Aceh Brigjen Pol Faisal Abdul Nasser mengatakan, sebanyak 80 persen peredaran narkoba di Indonesia masuk melalui Aceh. Ia menyebutkan, terdapat 29 jalur tikus yang tersebar di sepanjang pantai timur Aceh di jalur Selat Malaka menjadi pintu masuk narkoba ke Aceh dari Eropa, Cina, Malaysia, Thailand, Vietnam, dan lain-lain.

“Pantai yang ada di pesisir timur Aceh mulai dari Pidie ke Bireuen itu merupakan yang terpanjang kedua di dunia, di sini terdapat 29 pintu tikus yang bisa digunakan untuk menyelundupkan narkoba,” ujar Faisal dalam kelas ke-75 Forum Aceh Menulis yang dibuat di Aula Dinas Koperasi dan UKM Aceh, Selasa (15/10/2019).

Adapun titik-titik yang menjadi jalur tikus tersebut tersebar di Kota Langsa meliputi Kuala Langsa, Alur Dua (Sarah Teube, Bugem, dan Rantau Selamat). Di Aceh Tamiang tersebar di Kecamatan Seruway (Lubuk Damar, Pusung Kapai, Sungai Kuruk, dan Paya Udang), Kecamatan Bendahara (Teluk Kemiri, Paya Raja, dan Bandar Baru), Kecamatan Sungai Yu (Telaga Muku dan Bandar Khalifah), Kecamatan Manyak Payed (Raja Tuha, Ds Meurandeh, dan Sp Oyok).

Selanjutnya tersebar di Aceh Timur mencakup Matang Nibong, Peureulak, Kuala Leuge, Kuala Bugak, Ame Bu Tuha, Kuala Simpang Ulim, TPI Idi Rayek, Lhongsa Madat, dan Kampung Abeuek.

Di perbatasan antara Kabupaten Aceh Tamiang dengan Kabupaten Langkat, Sumatera Utara juga terdapat dua jalur tikus, yaitu Serang Jaya Hulu dan Serang Jaya Hilir.

“Pelabuhan tikus digunakan sebagai jalur masuk kapal-kapal kecil yang sulit dijangkau pengawasan petugas,” katanya.

Modus barang yang sering diselundupkan biasanya berupa bawang, gula, dan kebutuhan pokok lainnya. Kapal-kapal pengangkut barang tersebut nantinya akan dijemput oleh kapal lain sebelum masuk pelabuhan tikus. Tujuannya untuk menghilangkan jejak barang titipan narkotika. Di sinilah kata dia banyak nelayan-nelayan Aceh sering menjadi korban dengan iming-iming upah besar sehingga tanpa sadar terlibat dalam jaringan sindikasi peredaran narkoba.

BNN Pusat bersama BNN Provinsi Aceh dalam dua tahun terakhir ini telah menyita sebanyak 3,6 ton sabu-sabu. Faisal menjelaskan, dalam 1 kg sabu mampu merusak hingga 4 ribu individu. Ditambah lagi harga jual sabu termurah di Aceh mulai dari Rp25 ribu hingga Rp150 ribu. Sehingga yang mengonsumsi sabu-sabu di Aceh bukan saja orang dewasa, melainkan juga anak-anak.

“Aceh ini sudah lampu merah narkoba, faktanya 1 dari 100 pelajar di Aceh sudah kena narkoba, dengan tingkat prevelensinya mencapai 1,7-2,2 persen,” ujarnya.

Khusus di Aceh kata dia, telah terjadi salah kaprah di mana para bandar narkoba bisa bebas hidup bermasyarakat bahkan dianggap sebagai dermawan karena sering menyumbang dan membantu masyarakat. Bahkan kata dia, hanya di Aceh yang terdapat seorang ASN berani menyelundupkan sabu-sabu.

Kondisi itu kian diperparah dengan masyarakat yang semakin permisif sehingga narkoba kian marak masuk ke kampung-kampung dan menyasar mangsa-mangsa baru. Tak jarang pelakunya malah perangkat desa yang seharusnya mengayomi masyarakat.[]

KOMENTAR FACEBOOK