Masjid dan Sikap Menunda Shalat

Oleh M. Farhana Rizky*

Kita maklumi, masjid merupakan tempat ibadah umat Islam. Eksistensi masjid, khususnya di Aceh sangatlah hebat. Bagaimana tidak, di setiap kemukiman, warga setempat berlomba-lomba mendirikan bangunan suci tersebut. Keindahannya pun luar biasa.

Namun, kali ini, penulis ingin menyentil sedikit tentang problematika kita sebagai hamba Allah yang -seakan- tak menghiraukan tujuan esensi dari masjid itu sendiri.

Permasalahan yang kita hadapi saat ini yaitu sepinya masjid dari jamaah. Bahkan, masjid terkesan bak bangunan yang megah lagi mewah tetapi tak berpenghuni. Kenapa bisa demikian? Apa yang sedang terjadi pada diri kita, atau apakah ini bukti real dari dekatnya kiamat? Wallahu ‘alam.

Penulis merasa heran dengan sikap kita yang dengan mudahnya lewat lalu-lalang di depan masjid, sedangkan waktu shalat sudah masuk dan bahkan azan sudah dikumandangkan. Kita tega lewat begitu saja tanpa ada rasa bahwa Allah swt sedang me-miscall kita tapi dengan mudahnya kita me-reject panggilan dariNya.

Oleh karena itu, beragam alasan pun muncul; “nanti saja shalatnya, kan bisa di rumah, lagian waktunya masih panjang juga.” Apa sebegitu berharganya waktu kita sehingga kita tak tega menyisihkan waktu sedikit untuk meramaikan jamaah di masjid dan memenuhi panggilanNya?!

Sedangkan, di sisi lain, ada banyak ganjaran dan tekanan dari Rasulullah Saw terkait menunda-nunda shalat. Rasulullah bersabda:

“Sesungguhnya siapa saja yang suka menunda nunda shalatnya, baik lelaki maupun perempuan , maka Allah Swt akan memberinya 15 siksaan, yaitu: enam siksaan di dunia, tiga siksaan di hari kematiannya,tiga siksaan di dalam kubur, tiga siksaan di hari kiamat ketika di bangkitkan dari dalam kubur. Di antaranya yaitu, Allah swt akan menghilangkan keberkahan rezekinya, mati dalam keadaan sangat terhina, Allah swt akan mempersempit kuburnya, mendapat ganjaran dengan hisab yang sangat pedih.”

Apakah pernyataan dari Rasulullah ini tidaklah cukup untuk kita sebagai tekanan agar shalat di awal waktu? Sabda Rasulullah ini adalah perintah keras buat kita untuk tidak menunda-nunda shalat.

Menurut hemat penulis, masjid tidak hanya dijadikan untuk tempat ibadah shalat saja, namun masjid juga bisa dijadikan sebagai tempat untuk menjalin keakraban ukhuwah islamiyah.

Selain itu, bangunan suci itu juga bisa dijadikan tempat untuk menenangkan hati yang lagi berkecamuk tak karuan, dan juga bisa dijadikan tempat merunding masalah yang ada dalam desa ataupun di jadikan tempat majelis taklim masyarakat.

Bisa disimpulkan bahwa selain untuk bertaqarrub kepada Allah, masjid juga merupakan poros utama keberlangsungan ukhuwah islamiyah kaum muslimin.

Akhir kata, terkait dengan shalat, pepatah Aceh mengatakan,

“Seumbahyang suboh bek ateuh kaso seumbahyang luho bek ateuh honda.
Seumbahyang asa bek peutrep-peutrep Sembahyang meugreb bek sampo insya.”

Dalam satu riwayat, dikatkan: “Apabila jamaah subuh di masjid ramai seperti jamaah ketika shalat Jumat, maka di ketika itulah Islam bangkit kembali seperti masa kejayaannya.” _Wallahu ‘alam_

*Mahasiswa semester 1, Sekolah Tinggi Ilmu Syariah (STIS), Ummul Ayman, Meurah Dua, Pidie Jaya.

KOMENTAR FACEBOOK