Mengapa Nova Menghindari Bireuen?

Nova ketika ikut panen perdana singkong di Aceh Jaya. Foto: Humas Aceh.

Oleh Muhajir Juli*

Beberapa kegiatan besar di Kabupaten Bireuen yang digelar oleh Pemerintah Aceh, tidak dihadiri oleh Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah. Terakhir ia tidak datang membuka Aceh International Percussion Festival (AIPF) 2019. Di sisi lain, di Aceh Jaya, dia justru hadir pada acara panen perdana singkong di sebuah pondok pesantren.

NOVA Iriansyah, bukan orang asing di Bireuen. Minimal sejak Pilkada Aceh 2017, ia kerap hadir di Bireuen. Berfoto dengan siapa saja dan hadir pada acara apapun yang ia ikut diundang di dalamnya. Ketika ia menjadi tandem Irwandi Yusuf, Nova bahkan dielu-elukan oleh rakyat Bireuen sebagai teknokrat cum politikus yang memiliki visi dan gagasan besar. Sangat cocok dengan Irwandi yang visioner dan gerak cepat.

Tapi, kemesraan itu memang terlalu cepat berlalu. Belum terlalu lama Irwandi menjadi Gubernur Aceh, ia dicokok Komisi pemberantasan Korupsi (KPK) melalui Operasi Tangkap Tangan (OTT). Fondasi politik di lingkar Irwandi pun goyah. Banyak para pemodal yang belum sempat mengambil untung, bahkan banyak pula yang belum balik modal.

Nova ditunjuk sebagai Plt Gubernur Aceh, menjalankan tugas-tugas kegubernuran yang selama ini dilaksanakan oleh agam batat. Lingkar politik pun berubah. Pemodal yang hanya mengikat diri pada Irwandi pun rontok. Politik memang kejam. Jasa takkan abadi diingat. Karena pusaran kepentingan pragmatis sangat kencang bertiup. peta pun perubah. Banyak yang harus menelan ludah. Tak sedikit yang berpesta pora atas perubahan kondisi.

***

Nova adalah tipikal pejabat yang gemar melakukan perjalanan ke sana ke mari. Dengan motor gedenya, ia touring ke berbagai belahan Aceh, dalam rangka menjalankan tugas kegubernuran, cum menyalurkan hobinya melibas jalanan dengan Harley Davidson yang harganya miliaran Rupiah itu.

Dibalut dengan jaket tebal, sepatu boots mahal, serta aksesoris lainnya, Nova pun menjelma menjadi rider parlente.

Tidak, lagi-lagi tidak. Tulisan ini tidak hendak mengkritik perihal Nova yang gemar touring dengan motor gedenya. Itu hak Nova selaku individu. Itu hak dia sebagai pemimpin di negeri yang kaya ini. Sudah sepatutnya dia bergaya parlente, agar marwah daerah ini ikut terangkat. Nova tipikal pemimpin visioner, ia tahu cara menjaga marwah, ia tahu cara menjaga citra. Pemimpin yang baik di daerah yang kaya tidak boleh terlihat sederhana. Karena ini menyangkut harga diri 5 juta rakyat Aceh. Harga diri indatu.

Hal yang menjadi pertanyaan penulis, mewakili rasa penasaran beberapa rakyat yang “kurang kerjaan” di Bireuen–anggap saja demikian– mengapa Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah seakan-akan menghindari Bireuen. Bilapun terpaksa harus melaluinya, ia tidak lagi singgah. Ada apa gerangan? Padahal beberapa kegiatan besar level propinsi digelar di Bireuen. Seperti Lomba Keterampilan Siswa (LKS) SMK se-Aceh. Terakhir AIPF 2019. Nova tak datang untuk membuka acara tersebut.

Pertanyaan ini tentu saja wajar. Karena ke belahan kabupaten yang lain, Nova kerapkali hadir. Dengan motor gedenya, diiringi para dendayang yang juga kaya raya dan menunggangi motor gede, mereka mengaspal ke mana saja, bahkan sampai ke pelosok Aceh. Ke gunung-gunung, ke rimba-rimba. Bahkan untuk sekedar hadir melakukan panen perdana ubi kayu.

Seperti pada Kamis, 17/10/2019) Nova Iriansyah hadir pada panen perdana singkong di Ponpes Darun Nizham, Tanoh Anoe, Aceh Jaya. Ia ikut ambil bagian mengangkat pohon singkong dengan buah yang tidak begitu besar, dari tanah.

“Meunyo u luwa Bireuen, sampoe khauri peusunat aneuk mit, Plt geutem jak,” ujar beberapa orang Bireuen, ketika sedang ngopi di Bireuen.

Celetuk yang tidak sepenuhnya salah. Karena mereka melihat bukti. Beberapa event besar di Bireuen, Nova hanya mengirimkan perwakilan. Tapi di tempat lain, ia justru hadir tanpa sungkan.Walau kegiatan itu tidak begitu besar. Kegiatan yang seharusnya bisa diwakilkan kepada asisten, atau bisa diwakili langsung oleh kepala dinas. Atau bisa diwakili langsung oleh camat atas nama bupati, bupati atas nama gubernur.

Timbul pertanyaan, mengapa Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, terkesan menghindari Bireuen? Adakah luka di sana? Adakah terlalu aib bila ia singgah dan hadir membuka event-event besar di Bireuen?

Bila ia menjawab bahwa dirinya tidak alergi kepada Bireuen, lalu mengapa akhir-akhir ini ia hanya mengirim orang lain untuk membuka kegiatan level propinsi di Bireuen?

Ada apa?

KOMENTAR FACEBOOK