Aceh Butuh “Jembatan” yang Mampu Menembus Jantung Kekuasaan

Muslahuddin Daud, Ketua DPD I PDIP Aceh. Foto: Muhajir Juli/aceHTrend

ACEHTREND.COM, Banda Aceh- Dunia politik di Aceh terhenyak, ketika Muslahuddin Daud, memilih berkiprah di Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), sekaligus ditunjuk sebagai Ketua DPD I Aceh. Muslahuddin yang dikenal sebagai pakar resolusi konflik dan praktisi pertanian, tiba-tiba terjun ke politik dan memilih partai yang tidak populer di Aceh.

Kepada aceHTrend, Kamis (10/10/2019) Muslahuddin Daud mengatakan, ada beberapa hal yang menyebabkan dirinya memilih PDIP sebagai pilihan politik dalam rangka mengabdikan diri membangun Aceh.

Dipilihnya PDIP karena partai tersebut saat ini merupakan partai pemenang pemilu. Kekuatan mereka di pusat penentu kebijakan sangatlah kuat. Sudah dua kali pemilu Aceh tidak memiliki perwakilan yang mampu menembus jantung kekuasaan pemerintah. Wakil-wakil yang dikirim oleh rakyat ke Senayan, justru banyak yang tidak mampu membangun komunikasi dengan Pemerintah Pusat. Hal ini bisa dilihat dari tidak berkembangnya advokasi tentang Aceh di tingkat Pusat. Salah satu penyebabnya adalah tidak adanya utusan rakyat yang berasal dari PDIP.

Di sisi lain, di PDIP Aceh juga tidak memiliki figur yang cukup capable yang bisa ditawarkan kepada rakyat dalam 10 tahun ini. Di tengah pragmatisme politik dan black campaign yang merajalela, beban PDIP Aceh semakin berat. Citra anti Islam dan anti perdamaian Aceh, dilekatkan kepada partai berlogo kepala banteng moncong putih tersebut. Fitnah-fitnah politik yang demikian, membuat PDIP di Aceh semakin terperosok.

Ketika ditunjuk sebagai Ketua DPD I PDIP Aceh, Muslahuddin sudah menyusun rencana kerja jangka menengah. Ia mulai membangun infrastruktur partai mulai dari tingkat kecamatan hingga propinsi. pembenahan dan penyegaran dilakukan di semua daerah.”PDIP adalah partai besar. Punya kuasa besar di tingkat Nasional. Ini harus dapat kita pergunakan untuk membangun Aceh,” ujar Muslahuddin.

Saat ini, ada ketidaksinambungan antara Aceh dan Pusat. Oleh kondisi demikian, Muslahuddin memilih tidak tinggal diam. Dia akan bekerja keras membuka jalan, agar ke depan rakyat Aceh menaruh kepercayaan kapeda kader-kader terbaik PDIP di Aceh, untuk menjadi penghubung antara Aceh dan Pusat melalui Senayan.

“Aceh membutuhkan jembatan yang mampu menembus jantung kekuasaan. Jembatan itu hanya dimiliki oleh PDIP Aceh, karena kami adalah kader PDIP di Aceh. Kami memiliki akses langsung,” katanya.

Di tingkat kader, Muslahuddin akan melakukan pembinaan tersistematis bagi anggota PDIP. Ia akan menjalankan partai tersebut di Aceh secara profesional. Ke depan, PDIP di Aceh bukan saja memiliki pengurus yang mengakar, tapi juga mampu melahirkan calon-calon pemimpin Aceh yang memiliki kapasitas, integritas dan terhubung dengan pusat kekuasaan Republik Indonesia dan memiliki wawasan politik internasional.

“Pembenahan itu sedang dan akan terus kami lakukan. Doakan saja semoga berhasil seperti yang kami rencanakan,” imbuhnya.

KOMENTAR FACEBOOK