Banteng Muda dari Serambi Mekkah

Muslahuddin Daud, Ketua DPD I PDIP Aceh. (Ist)

Oleh Muhajir Juli

Terpilihnya Muslahuddin Daud sebagai Ketua DPD I PDIP Aceh, menghentak jagad politik di Serambi Mekkah. Banyak yang tidak mengira bila putra Aceh yang sudah mendunia itu akan memilih partai yang memiliki keterikatan genetik dengan Partai Nasional Indonesia (PNI) yang didirikan oleh Bung Karno di masa perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Selama ini, Muslahuddin telah menunjukkan eksistensinya, ikut membangun Aceh, baik melalui kerja-kerja nyata pembangunan yang ia lakoni dengan berbagai lembaga internasional, hingga pikiran-pikiran yang ia tuliskan dalam berbagai artikel di mass media. Hingga detik artikel ini ditulis, Muslahuddin terus berpikir dan bertindak untuk mencapai salah satu mimpinya yaitu terwujudnya Aceh yang maju.

Begitu ditunjuk sebagai Ketua DPD I PDIP Aceh Muslahuddin segera bergerak cepat. Bersama tim melakukan pembenahan internal. Termasuk merancang pola kaderisasi dan program yang dapat menghubungkan kembali PDIP dengan rakyat Aceh.

Tugas Muslahuddin dan kader PDIP di Aceh tentulah tidak mudah. Sebagai partai besar, mereka kadung dicitrakan negatif di Aceh. Anti Islam, anti perdamaian dan segala macam, dicampakkan ke wajah mereka. Padahal semua tahu, sebagai pemenang pemilu, mereka adalah partai besar yang didukung oleh mayoritas umat Islam yang ikut pemilu. Hal ini bisa dilihat dari persentase raihan suara yang diperoleh.

Segenap upaya Muslahuddin dalam melakukan pembenahan di internal dan citra keluar, belumlah dapat diuji. Tapi tokoh muda ini sudah harus bergegas. 2024 tidak lama lagi, bila diukur dengan meteran politik. Banyak “ranjau” yang harus dipindahkan dari jalan. Banyak “jembatan” yang harus dibangun, banyak “sungai” yang harus ditata ulang.

Sebagai intelektual yang memiliki gagasan brilian, Muslahuddin tentu memiliki daya pikat luar biasa bagi dunia politik di Aceh. Hingga saat ini dari kalangan kaum muda di dunia politik Aceh, baru dia yang terlihat pantas dan layak menjadi pemimpin Aceh untuk selanjutnya. Selebihnya adalah pemain lama.

Tapi, Muslahuddin tidak boleh tergoda. Dia harus paham politik tipe Aceh. Pileg dan Pilpres 2019 haruslah menjadi pelajaran penting bagi Aceh, betapa banyak orang yang datang memuji, justru bermain dua kaki, dan di hari H, memilih berseberangan dengan apa yang sedang Muslahuddin perjuangkan.

Banyak perangkap yang disediakan, dan Muslahuddin akan dipanggil untuk masuk ke dalamnya dengan segenap puja dan puji. Banteng muda Serambi Mekkah ini harus memahami itu.

Aceh masih bermasalah. Seorang diri, Muslahuddin tidak akan mampu mengubah Aceh. Ia butuh dukungan. Untuk mendapatkan dukungan, ia harus mampu membesarkan PDIP di Aceh. Minimal di Pileg 2024, PDIP Aceh berhasil mendapatkan enam kursi di DPRA, 23 di DPRK dan minimal 1 kursi DPR RI. Itulah jembatan yang bisa dipergunakan olehnya untuk memuluskan semua cita-citanya untuk membangun Aceh.

Muslahuddin adalah banteng muda. Punya talenta, dan punya energi. Kelemahan kaum muda hanya satu, cepat terlena oleh pujian. Cepat terpesona oleh rayuan. Padahal puja-puji dan rajuan, kerapkali mengandung sianida yang dapat menghentikan laju oksigen di dalam aliran darah.

Muslahuddin harus besar, seiring dengan besarnya PDIP di Aceh. Tidak ada yang tidak mungkin. []

KOMENTAR FACEBOOK