“Aceh yang Berbingkai Syariat Islam Kenapa Kita Kotori dengan Sabu”

Kepala BNNP Aceh Brigjen Pol Faisal Abdul Nasser. @Serambi Indonesia

ACEHTREND.COM, Banda Aceh – Kepala Badan Narkotika Provinsi Aceh Brigjen Pol Faisal Abdul Nasser mengatakan telah terjadi salah kaprah di Aceh, di mana para bandar narkoba bisa bebas hidup bermasyarakat dan dianggap sebagai dermawan karena mereka sering menyumbang dan membantu masyarakat.

“Untuk yang ada di Aceh ini saya katakan ini data, bukan karena cuap-cuap, bisa saya pertanggungjawabkan dengan hukum. Di Aceh ini sudah salah kaprah karena ada satu pembiaran, para bandar itu juga berani hidup di tengah masyarakat, malah sampai menyumbang, dan saya sudah keliling Indonesia dari Papua, Kalimantan, Medan, Aceh inilah yang paling ‘hebat’ di mana ada seorang ASN berani memasukkan sabu sampai 48 kilogram,” ujar Faisal dalam kelas ke-75 Forum Aceh Menulis yang dibuat di Aula Dinas Koperasi dan UKM Aceh, Selasa (15/10/2019).

Besarnya penghasilan yang didapat dengan terlibat dalam jaringan sindikasi narkoba tersebut kata Faisal membuat banyak orang jadi tergiur. Tak terkecuali dari kalangan oknum Aparatur Sipil Negara yang notabenenya merupakan pengayom masyarakat.

“Bangsa mana yang berani begitu? Ada di Aceh,” ujarnya lagi.

Faisal mengatakan para bandar narkoba di Aceh bisa bebas berkeliaran dan tidak ada penindakan. Ia mencontohkan, salah seorang bandar narkoba bernama Jali yang sudah meninggal dunia dan begitu dihormati, punya helipad sendiri, dan tidak pernah ditindak. Bahkan Freddy Budiman yang telah dihukum mati pun awalnya bermain di Aceh.

Vonis hukuman mati bagi terpidana narkoba yang ada di Aceh sejauh ini juga belum ada yang dilaksanakan. Yang mengherankan kata Faisal, ada yang sudah divonis hukum mati malah bebas setelah diajukan banding.

Adapun jumlah terdakwa kasus narkotika tuntutan pidana mati tahun 2018 di Kejari Aceh Utara terdapat 7 terdakwa, dan Kejari Aceh Timur terdapat 12 terdakwa, satu di antaranya mengajukan banding.

“Kalau yang barang buktinya sudah 25 kilogram ke atas itu hukumannya mati. Mereka hidup pun nggak akan berhenti karena sudah terbelit dengan sindikasi narkoba. Dia berada di sel itu pun hanya pindah kamar saja,” kata Faisal.

Kehidupan sosial masyarakat yang semakin permisif memperparah kondisi tersebut. Ia mencontohkan, di tingkat tatanan desa misalnya, tak jarang para perangkat desa justru ‘merangkap’ sebagai jaringan peredaran narkoba.

“Ketika ada yang tahu sebagai penyalah guna narkoba, janganlah ngomong-ngomong itukan saudara kita. Akhirnya narkoba marak ke kampung-kampung,” katanya.

Di Aceh kata dia, sindikasi narkoba sudah sangat kompleks seperti terdapat bandar, penjemput, kurir, tukang transfer uang, hingga pengedarnya. Dari 73 kartel narkoba yang ada di Indonesia, dua di antaranya terdapat di Pidie Jaya.

“Itu lengkap semua ada di Aceh. Bahkan ada bandar yang keluar dari tahanan dia tidak merasa tersisih di masyarakat karena dia rajin menyumbang untuk masjid, meugang, atau kebutuhan kampung.”

“Aceh yang berbingkai syariat Islam seharusnya bebas narkoba. Orang yang bersyariat diberikan Allah kemakmuran, kenapa kita kotori dengan sabu-sabu,” kata Faisal.[]

KOMENTAR FACEBOOK