Generasi Muda Aceh Dinilai Krisis Panutan

ACEHTREND.COM, Blangpidie – Seiring perkembangan zaman, kultur masyarakat Aceh pada umumnya dan Aceh Barat Daya (Abdya) khususnya kian berubah. Perubahan itu pun amat terasa pada tatanan moralitas sosial generasi muda. Seakan-akan tidak ada lagi dinding pemisah antara pergaulan generasi muda dengan generasi tua, sehingga menyebabkan krisisnya sosok panutan bagi generasi muda atau sering disebut generasi milenial.

Pernyataan itu disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Kabupaten (DPRK) Abdya, Ikhsan, saat bincang-bincang dengan aceHTrend, Rabu (23/10/2019).

 “Contoh kecilnya di saat orang tua hari ini sudah mulai berani meminta rokok kepada mereka-mereka adik-adik masih duduk di bangku belajar. Bahkan tidak ada sebuah larangan atau teguran. Tentu ini merupakan sebuah kemunduran moralitas yang kita alami sekarang ini,” ungkap Ikhsan.

Alumnus Markas Dakwah Al-Ilmy Sana’a Yaman tersebut mengatakan, krisisnya panutan terhadap generasi muda hari ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain gersangnya pengetahuan agama dalam memberikan contoh yang baik bagi generasi muda. Selain itu, juga disebabkan oleh minimnya kontrol orang tua terkait pergaulan anak dalam lingkungan sehari-hari.

“Dulu, saat ada anak-anak yang masih dalam pendidikan merokok sembarangan, pasti ada yang menegur, meskipun anak itu bukan bagian dari keluarganya. Artinya, rasa saling peduli itu sangat kental di masyarakat kita. Namun budaya itu kini sudah memudar seiring waktu berjalan, seakan-akan saat ada anak yang merokok sembarangan, itu tidak lagi menjadi tanggung jawab bersama, malahan terjadinya pembiaran. Tentu ini adalah keanehan yang kita dapatkan sekarang ini,” ujar Ikhsan.

Di sisi lain kata Ikhsan, semua orang tua menginginkan anak-anak mereka menjadi anak yang saleh dan saliha. Namun terkadang, harapan orang tua tersebut tidak sesuai dengan yang mereka harapkan, sebab antara harapan dengan contoh yang diberikan sangat berbanding terbalik dengan realita yang ada.

“Orang tua adalah madrasah pertama bagi anak-anak mereka, karena pendidikan pertama itu berawal dari rumah (informal). Di saat seorang ayah berharap anak mereka salat, tentunya orang tua terlebih dahulu harus mengerjakannya sebagai contoh bagi anak-anak mereka,” jelasnya.

Di faktor lain, sambung Ikhsan, krisisnya panutan terhadap generasi muda juga disebabkan tidak mendukungnya lingkungan sosial (nonformal). Sebab, kebanyakan dari orang tua memilih acuh terkait pergaulan generasi muda.

“Contoh lain saat adanya siswa bolos sekolah dan berkeliaran di lingkungan masyarakat. Jarang kita dapati orang-orang tua kita yang menegur mereka. Padahal itu merupakan tanggung jawab kita bersama dalam memberikan perhatian kepada mereka. Padahal tugas orang tua itu tidak cukup mengantarkan anaknya sampai ke pintu gerbang sekolah, namun mereka juga harus bekerja sama dengan guru dalam melakukan pengontrolan terhadap siswa,” papar Ikhsan yang sebentar lagi akan mengisi Komisi D DPRK Abdya bidang Pendidikan.

Maka, kata Ikhsan, akibat kurangnya kepekaan lingkungan, terutama orang tua terhadap genersi muda, juga sangat berimbas terhadap pendidikan anak di sekolah–sekolah (formal). Malahan sering terjadinya pemukulan, diskriminasi, dan kriminalisasi kepada guru.

“Orang tua, lingkungan masyarakat dan guru merupakan orang yang memiliki peranan penting dalam menyukseskan dunia pendidikan. Maka oleh sebab itu, para guru harus mendapatkan dukungan penuh dari orang tua dan masyarakat, sebab jangan gara-gara guru bertindak sedikit, orang tua langsung marah bahkan sampai ke tingkat pemukulan guru. Tentunya kita berharap kejadian-kejadian seperti itu bisa terhindar dari kabupaten kita ini,” harap Ikhsan.

Dirinya berpesan agar orang tua dan lingkungan masyarakat benar-benar menempatkan posisi mereka pada wilayah-wilayah kewibawaan, sehingga generasi muda dapat mengambil contoh dan bisa dijadikan sebagai panutan dalam menjalani kehidupan sehari-sehari.

“Kita berharap orang tua unuk kembali menumbuhkan sikap saling peduli terhadap generasi muda, sebab jika orang tua tidak lagi memiliki rasa kepekaan terhadap lingkungan dan tidak lagi memberikan contoh yang baik, maka kita khawatir generasi muda akan bertindak serampangan karena tidak ada lagi panutan yang harus mereka contoh. Artinya, mereka juga tidak lagi menaruh rasa hormat dan keseganan terhadap orang tua. Maka oleh sebab itu, mari kita bekali dan kita bentengi anak-anak kita dengan pondasi agama agar mereka menjadi anak-anak yang berbakti kepada orang tua dan berguna untuk umat dan bangsa,” pungkas Ikhsan.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK