Asal Mula Kata “Hiet Lahiet Lahoe” dalam Tarian Seudati

Tari seudati @tribunnews.com

ACEHTREND.COM, Sigli – Tarian seudati kini mulai dijadikan sebagai tampilan festival untuk menarik minat wisatawan ke Aceh. Seperti Festival Seudati yang baru saja usai dihelat di Kabupaten Pidie pada 21-23 Oktober 2019.

Kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinas dan Kebudayaan Pariwisata (Disbudpar) Aceh ini bertujuan untuk melestarikan seni budaya Aceh, salah satunya tari seudati yang merupakan warisan budaya tak benda Indonesia.

Seperti yang dikatakan oleh Kepala Disbudpar Aceh, Jamaluddin dalam sambutannya di malam pembukaan Festival Seudati di Sigli (21/10/2019), Pemerintah Aceh berencana mendaftarkan tarian seudati ke PBB untuk mendapatkan pengakuan Unesco. Jadi, masyarakat dunia tidak hanya kenal dengan tari saman saja yang ada di Aceh, tapi juga mengenal tari seudati sebagai warisan tak benda.

Jamaluddin juga menjelaskan bahwa tari seudati merupakan salah satu media dakwah melalui seni yang digunakan ulama dulu untuk menyebarkan ajaran Islam. Tarian ini awalnya berkembang di daerah pesisir Aceh yang kemudian menyebar ke seluruh pelosok di Aceh bahkan nusantara dan dunia.

Namun, apa sebenarnya makna dari kata tarian seudati tersebut? Berikut dijelaskan dalam buku PKA-II Pencerminan Aceh yang Kaya Budaya. Pada PKA-II tahun 1972, Kabupaten Pidie pernah menampilkan tarian seudati saat acara tersebut. Di dalam penjelasan buku tersebut dituliskan bahwa kata seudati berasal dari bahasa Arab “syahadatin” atau “syahadati” yang bermakna doa dan pengakuan.

Orang yang memeluk agama Islam, kewajiban pertama yang harus diucapkan ialah dua kalimat syahadat (pengakuan), yaitu mengakui bahwa tidak ada Tuhan selain Allah Swt dan Muhammad saw utusannya.

Tarian seudati mulanya bukanlah merupakan tarian, tapi sebuah upacara keagamaan yang dilaksanakan sambil duduk. Namun, seiring perkembangan zaman maka dijadikan seni sebagai alat dakwah dalam menyebarkan agama Islam dan dilakukan dengan berdiri.

Sedangkan menurut Muhammad Emtas dalam bukunya Suku dan Adat Aneuk Jamee di Aceh, kata “syahadatin” atau “syahadati” itu kemudian diubah menjadi kata seudati karena sudah menjadi bagian kesenian. Hal ini supaya tidak menjadi pertentangan di kemudian hari bagi generasi pendatang yang dapat merendahkan kalimah syahadat dan tidak melecehkan kaidah agama. Jadi, kata seudati itu sekarang tidak terkesan lagi sebagai ungkapan agama dan tidak merusak kaidah Islam.

Begitu pula kalimat “hiet lahiet lahoe” yang ada dalah syair seudati. Kalimat tersebut salah satu penggalan yang harus diungkapkan dalam tari seudati yang asal kalimatnya dari kalimah syahadat, yaitu “lailaha ilallahu.” Dikarenakan sudah menjadi salah satu ungkapan dalam tarian tersebut, agar jangan sampai merusak kesucian dan ketinggian kalimat syahadat maka diubah menjadi “hiet lahiet lahoe.”

Dalam buku tersebut juga dijelaskan menurut keterangan penulis dari sumber yang diwawancarainya, Syeh Hatta di Alue Paku, Sawang, Aceh Selatan bahwa tari seudati merupakan tari dakwah dalam upaya pengislaman masyarakat Aceh. Dalam syairnya diselipkan kalimat syahadat dan setelah masyarakat memeluk agama Islam, maka tarian tersebut terus berlanjut.

Seiring dengan perjalanan waktu, saat Aceh dalam situasi perang tari seudati dijadikan sebagai penyemangat orang yang berperang. Syeh Hatta mengungkapkan tari seudati ialah tari orang menang perang, dengan membunyikan ujung-ujung jari penuh kebanggaan, hati riang gembira, melompat ke sana kemari, mengungkapkan kata saling membanggakan, melantunkan syair-syair perdebatan sambil berdialog, merupakan sebuah ekspresi yang ditunjukkan saat pulang dari medan perang dengan membawa kemenangan.

Di zaman sekarang, tari seudati bukanlah sebagai alat dakwah dalam menyebarkan agama Islam atau untuk menyambut orang yang menang perang lagi. Masa itu sudah berlalu karena masyarakat Aceh mayoritasnya sudah beragama Islam dan situasi Aceh bukan lagi dalam masa konflik. Namun, sebagai generasi milenial tentu kita tidak boleh melupakan sejarahnya dan perlu mengetahui makna dari tarian seudati yang kini dijadikan festival untuk mempromosikan budaya Aceh ke masyarakat luar.[]

Editor : Ihan Nurdin