Kekuasaan Adalah Candu

Oleh Abdul Muqni

Banyak pemikiran yang memadukan politik dan etika. Machiavelli justru memisahkan secara tegas. Filsuf muda yang lahir di Florens Italia menempatkan etika dalam comberan, itu sebabnya para ahli politik berpendapat Machiavelli adalah guru yang mengajarkan politikus melakukan segala cara untuk mencapai tujuan.

Dalam politik tidak ada “kewarasan”, yang ada “Kegilaan” antara kewarasan dan kegilaan harus dilihat dari kacamata konsep filsafat sebagai dualisme bukan sebagai dualitas.

Narasi yang disajikan dalam politik bagaikan alunan musik yang mengasyikkan,melenakan dan menggetarkan naluri agar tersaji dalam imajinasi serta tersimpan dalam memori, meski para penguasa saling caci, saling hina, berdusta dan menjual harga diri, rakyat bangsa tetap mencintai, tetap memilih, namun kecintaan rakyat kepada penguasa tidak diikuti dengan kepercayaan.

Kekuasaan itu seperti opium dari pohon papaver somniverum, getah dari pohon ini mempunyai daya memabukkan dan membius karena berkhasiat mengurangi rasa nyeri dan merangsang imajinasi. Kalau ada kebohongan dan janji dari para penguasa karena karakter utama penguasa melenakan dan memabukkan maka penguasa suka mengabaikan dan mangkir dari janji-janjinya.

Kekuasaan yang diperebutkan dengan cukong dan uang haram dikenal dengan kekuasaan level morfin. Pada level ini ibarat opium yang dilukai dengan cara digores pada pohonnya sehingga mengeluarkan getah kental warna putih. Ini disebut opium mentah. Opium mentah ini bisa diproses secara sederhana hingga menjadi candu siap konsumsi. Bila getah ini di ekstrak lagi akan menghasilkan Morfin. Para cukong yang ikut bermain menentukan penguasa sama halnya pentas kekuasaan diisi dengan candu selevel morfin. Tingkat kerusakannya sangat parah, jika level opium penguasa hanya menggunakan sistem pemasaran untuk “menjual dirinya” akan tetapi pada level morfin kekuasaan mengikutsertakan para cukong untuk meraih kekuasaan.

Kekuasaan jenis heroin, morfin yang di ekstrak lebih lanjut akan menghasilkan heroin. Level ini Kekuasaan direbut dan diisi oleh para preman. Cara premanisme digunakan untuk mencapai tujuan. Premanisme politik tumbuh dalam pelbagai wujud, kekuasaan pada tahap ini sudah memasuki fase transaksional, Jual beli dan perselingkuhan antara Pemodal dan Penguasa.

Secara pragmatis, Machiavelli berpendapat, kekuasaan harus diraih dengan pelbagai cara. Tak peduli harus memakai trik yang paling kotor sekalipun. Dan jika kekuasaan sudah di genggaman, patut dipertahankan dengan kekuatan. Machiavelli berpendapat kekuasaan harus dijaga dengan metode ‘medis’. Setiap perlawanan dianggap sebagai virus wajib dimatikan. Ketimbang luka menyebar, anggota tubuh yang terinfeksi mesti diamputasi.

Dinamika Kekuasaan itu candu, terlihat jelas dalam politik Indonesia, di mana Joko Widodo yang terpilih sebagai presiden untuk memimpin Republik Indonesia periode kedua adalah dengan bergabungnya Gibran Rakabuming sebagai kader PDIP. Ini diterjemahkan oleh pengamat politik sebagai ancang-ancang pada pilkada serentak 2020 sebagai Walikota Solo, walaupun PDIP sudah punya calon sebagai walikota solo untuk tahun 2020, ini belum final, karena politik itu sangat dinamis, hari ini bisa jadi sebagai “rival” besok sebagai “Kabinet”.

Pun demikian Bobby Nasution Menantu Jokowi juga mengisyaratkan maju sebagai Kandidat Pilkada Kota Medan yang sudah mendapat restu Jokowi, dan itu wajar karena Kekuasaan itu candu bisa menggoda siapapun. Anwar Ibrahim dan Mahatir Muhammad bisa berbagi jatah sebagai Perdana Menteri setelah menumbangkan kepemimpinan Najib Razak. Di Yogyakarta sedang terjadi pertarungan di internal Raja, di mana HB X sedang menyiapkan putrinya Pambayun sebagai “The next leader” meski ada pertentangan dari kolega, karena dari garis nasab putri bukan dari Laki-Laki.

Banyak sekali contoh contoh kekuasaan itu membuktikan sebagai Candu. Karena itu sebagai rakyat mari kita melakukan aktifitas kita sehari hari, dan lupakan politik, dalam politik tidak ada idealisme apalagi Kewarasan.

KOMENTAR FACEBOOK