Menghalau Hoaks dengan Hadih Maja

Kasus dipenjaranya mendiang Arswendo Atmowiloto pada tahun 1990-an barangkali sulit dilupakan oleh sebagian masyarakat Indonesia kala itu. Kasus ini bermula ketika Arswendo membuat poling pembaca di tabloid Monitor (grup Kompas) mengenai tokoh paling populer di Indonesia. Hasil poling itu mengejutkan memang, Soeharto yang kala itu menjabat sebagai Presiden Indonesia menempati urutan pertama. Sedangkan Nabi Muhammad saw sebagai nabinya umat Islam menempati urutan ketiga.

Hasil poling ini mendapat protes dari umat Islam yang digerakkan oleh ormas Islam. Tak berhenti sampai di situ, kasus ini melebar ke mana-mana sehingga mulai tersiar hoaks bahwa Kompas merupakan akronim dari “Komando Pastur”, dan majalah HAI singkatan dari “Hancurkan Agama Islam”. Arswendo pun mengaku salah dan meminta maaf kepada umat Islam. Sebagai konsekuensinya, dia pun dibui selama lima tahun (Gol A Gong, 2019: 9).

Kejadian itu barangkali bisa disebut sebagai salah satu kisah hoaks paling “awet” di Indonesia. Lebih dari dua puluh tahun setelah peristiwa itu terjadi, masih saja ada orang-orang yang menyebutkan akronim tersebut ketika menyebut nama surat kabar Kompas.

Hoaks yang diterjemahkan sebagai “kabar bohong” tentu tak sesederhana seperti bohongnya seorang anak yang mengaku-ngaku telah mengerjakan PR-nya. Hoaks ibarat senyawa merkuri yang masuk ke dalam jaringan tubuh dan merusak organ-organnya secara perlahan, tetapi sistematis. Pada akhirnya organ tersebut tak berfungsi lagi. Begitu pula dengan hoaks yang berpotensi merusak hubungan antarindividu, antarkelompok, bahkan hubungan antarnegara.

Sebagaimana contoh di atas, isu-isu SARA memang sangat mudah digoreng dan laku dijual sebagai hoaks. Gurih dan kriuk. Tumbuh subur di negara kita yang gemah ripah loh jinawi. Negara yang menjadi rumah bagi seperempat miliar individu. Satu-satunya negara terluas di dunia yang memiliki hingga 17 ribu pulau lebih, memiliki sekitar 700 bahasa daerah, dan 300 suku yang mendiami wilayahnya dari Sabang dan Merauke. Sebuah negara yang memiliki keberagaman agama, suku, etnis, bahasa, budaya, dan adat istiadat. Di satu sisi ini menjadi nilai lebih bagi Indonesia. Di sisi lain, bila tak pandai-pandai dikelola justru bisa menjadi bibit-bibit konflik.

Direktorat Jenderal Aplikasi Informasi Kementerian dan Komunikasi pernah merilis, bahwa 81 persen dari 91,8 persen hoaks yang bermuatan konten isu sosial dan politik terkait dengan isu SARA. Kondisi ini sangat memprihatinkan. Sangat rentan bagi Indonesia yang rakyatnya sangat majemuk. Mudah sekali diadu domba. Mudah terkotak-kotak.

Ya, siapa pun, normalnya akan bereaksi ketika agama dan kepercayaannya diusik. Namun, bagaimana cara menanggapi keterusikan itu menunjukkan tingkat kematangan sikap dan cara berpikirnya. Sebagai individu yang hidup di sebuah negara dengan kekuatan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal yang kuat, sudah sepatutnya pula kita menggunakan cara-cara berbasis kearifan lokal untuk menghalau hoaks.

Salah satu pemicu tingginya persebaran hoaks di masyarakat bisa disandingkan dengan rendahnya budaya literasi kita. Dewasa ini literasi tak bisa lagi dimaknai sebagai hanya sebatas memiliki kemampuan menulis atau membaca sesuatu yang tersurat saja. Lebih jauh dari itu, literasi dewasa ini harus dipahami sebagai sesuatu yang mampu membangkitkan kreativitas, produktivitas, dan mampu membaca sesuatu yang tersirat dari lingkungan di sekitar kita.

Individu yang memiliki tingkat literasi tinggi umumnya lebih memiliki rasa percaya diri, bisa mengambil keputusan, bertanggung jawab, dan mampu berpikir kritis, sehingga tidak mudah terkecoh dengan kabar-kabar yang belum diketahui kebenarannya. Tak mudah terprovokasi. Literasi juga tak melulu hanya didapat dari buku-buku berisi teks, tetapi juga dari kekayaan konten kearifan lokal kita yang tak kasat mata, tetapi justru sangat substansial.

Dalam tatanan masyarakat Aceh misalnya, ada sebuah kearifan lokal yang disebut dengan hadih maja, yakni perkataan atau peribahasa yang mengandung unsur-unsur filosofis yang bertujuan untuk memberikan nasihat, peringatan, penjelasan, perumpamaan, bahkan sindiran halus sebagai pedoman dalam menjalani kehidupan bermasyarakat.

Para orang tua terdahulu lazimnya menasihati anak-anaknya dengan ungkapan-ungkapan hadih maja yang secara tak langsung turut merangsang proses berpikir si anak. Misalnya, ketika anaknya ingin merantau maka nasihatnya bisa berbunyi “ta meuen ngon apui tutong, ta meuen ngon ie bulut, ta meuen ngon sikin teusie. Melalui hadih maja ini sebenarnya orang tua ingin menasihati supaya anak-anaknya tidak salah bergaul dengan nasihat kiasan melalui perumpamaan “apui/api“, “ie/air“, dan “sikin/pisau“. Bila si anak melanggar nasihat orang tuanya, sebagai konsekuensinya dia bisa “tutong/terbakar“, “bulut/basah“, dan “teusie/tergores“.

Hadih maja ini selalu kontekstual dengan kondisi terkini dalam sistem sosial kemasyarakatan. Bahkan, bila dikaitkan dengan konteks hoaks, ada beberapa hadih maja Aceh yang menurut penulis cukup relevan.

Sebagai contoh, ungkapan “sulet keu pangkai, kanjai keu laba“. Kalimat ini bermakna kalau kita menjadikan sulet atau bohong sebagai pangkai atau modal, maka yang akan kita petik sebagai labanya adalah kanjai alias apes atau sial. Saat ini banyak sekali orang yang menjadikan “sulet” sebagai modalnya. Entah itu untuk mencari sensasi, popularitas, menjatuhkan lawan, atau mencari keuntungan ekonomi.

Contoh paling segar dalam ingatan kita ialah kasus Ratna Sarumpaet yang menjadikan kebohongan sebagai “pangkai“. Namun, ujung-ujungnya dia menjadi “kanjai” alias apes karena hoaks yang dibuatnya justru mengantarkan dia ke dalam jeruji besi. Oleh karena itu, melalui hadih maja di atas, masyarakat Aceh telah diajarkan untuk menghindari tipu-menipu atau berbohong sebagai perilaku tidak terpuji. Cepat atau lambat, perbuatan tidak terpuji itu pasti akan ada ganjarannya.

Contoh lainnya yang juga relevan ialah pada kalimat hadih maja yang berbunyi “jak beutroh takalon beudeuh, bek rugoe meuh saket atee“. Kalimat ini bila diterjemahkan secara harafiah akan bermakna: datangi dan lihatlah dengan saksama, jangan sampai rugi emas dan sakit hati.

Hadih maja di atas lazimnya ditujukan kepada seorang pria yang ingin mempersunting seorang perempuan sebagai calon istrinya. Oleh karena itu, si pria tersebut disuruh “jak beutroh” atau mendatangi hingga ke tujuan supaya bisa “takalon beudeuh” atau melihat secara saksama/terang benderang. Istilahnya, jangan sampai dia membeli kucing dalam karung.

Bila dikaitkan dengan konteks hoaks, setiap ada kabar atau informasi yang kita terima jangan buru-buru percaya dan mengambil kesimpulan. Ada baiknya telusuri dulu sumber informasinya (jak beutroh) sehingga jelas siapa yang membuat kabar tersebut, siapa yang menyebarkannya, dan siapa yang mengambil keuntungan dari kabar bohong tersebut. Namun bila kita tergesa-gesa, tidak mau cek dan recek, akibatnya “rugoe meuh saket atee“. Sudah rugi emas sakit hati pula. Hal ini bermakna kita akan mengalami kerugian secara material maupun immaterial.

Senada dengan itu juga ada hadih maja lainnya yang berbunyi “awai buet dudoe pike, teulah oh akhe keupeu lom guna”. Kalimat ini bermakna jika berbuat tanpa berpikir terlebih dahulu, sesal kemudian tiada berguna. Hadih maja tersebut sangat relevan dengan kondisi dewasa ini, di mana orang lebih mengutamakan jempolnya ketimbang mendahulukan pikirannya.

Masyarakat Aceh juga terbiasa mendidik generasinya supaya memiliki pendirian teguh, tidak mudah terombang-ambing, dan tidak suka ikut-ikutan. Hal ini terlihat jelas dalam hadih maja yang berbunyi “bek lagee boh trueng lam jeu’e, ho nyang singet keunan meuron”. Petuah ini menamsilkan sikap plin-plan seseorang yang seperti terong (boh trueng) dalam tampah (jeu’e). Ketika tampah dimiringkan (singet), maka terong-terong itu pun akan berkumpul (meuron) di satu sisi yang lebih rendah.

Tanpa kita sadari, berita-berita hoaks itu seperti tampah. Melalui sebuah berita atau opini yang berkembang, berhasil menggiring individu-individu labil menjadi berkelompok-kelompok. Sayangnya, yang terlanjur menjadi “terong” tidak sadar kalau dirinya adalah terong.

Untuk menyadarkan itu, kita perlu kembali ke akar kebudayaan kita. Di mana kearifan lokal—meskipun tak tertulis—memiliki peranan besar dalam mengatur tatanan sosial masyarakat kita. Meski dunia terus bergerak maju, nilai-nilai kearifan lokal tak bisa dianggap sebagai sesuatu yang kuno atau ketinggalan zaman. Mereka yang melepaskan nilai-nilai kearifan lokal dalam tatanan sosialnya, sejatinya telah melepaskan identitasnya. Dan hanya individu-individu yang tak punya identitaslah yang akan menjadi korban “merkuri” bernama hoaks.[]

KOMENTAR FACEBOOK