Apa yang Merasukimu, Prabowo?

Oleh Muhammad Zaldi*

Manusia dan alam semesta didorong oleh suatu kekuatan purba, yakni kehendak untuk berkuasa (the will to power). -Friedrich Nietzsche

Dunia politik Indonesia selalu saja menyajikan kemunafikan. Pada saat pemilu para politisi selalu saja menjanjikan banyak hal, tak ketinggalan bahwa agama menjadi satu modal dalam kampanye politik di Indonesia. Tak terkecuali dalam kampanye capres dan cawapres lalu yang hanya melahirkan dua kubu saja, sehingga membuat dinamika politik terbelah kepada dua sisi.

Pemilu pada 2019 ini sejatinya menjadi ‘rematch’ bagi Jokowi dan Prabowo yang sebelumnya sudah terjadi pada 2014. Maka tak heran jika dinamika yang terjadi masih dalam tempo yang tak jauh berbeda. Hanya saja tensi kali ini agak sedikit menguras emosi. Pasalnya kedua kubu saling berbalas pantun dan melabeli antara cebong dan kampret. Sikap yang tak pantas ditiru oleh masyarakat terkhusus para pemilih pemula.

Namun setelah pemilihan dimenangkan oleh pasangan Jokowi-Ma’aruf Amin, rekonsiliasipun terjadi atas segala dinamika yang telah dilalui. Pertemuan Jokowi dengan Prabowo di MRT menjadi pertanda awal kedua kubu akan bersama-sama dalam pemerintahan jilid II kedepan. Mengapa Prabowo ingin masuk kedalam Pemerintahan?

Apa yang mendasari Prabowo ingin membantu pemerintah?

Rasanya semua orang tahu bahwa Prabowo Subianto selaku Ketua Umum Partai Gerindra pernah mencalonkan diri menjadi wakil presiden bersama Megawati pada 2009, capres pada 2014 bersama Hatta Rajasa, capres pada 2019 bersama Sandiaga Uno dan hasil yang didapatkan selalu saja tidak menang. Lalu apakah Prabowo frustasi dengan kekalahan beruntun yang ia alami selama ini?

Hingga pasca pelantikan presiden dan wakil presiden lalu dan diumumkannya kabinet kerja “Indonesia Maju” pada tanggal 23 Oktober 2019, Presiden Jokowi menyebutkan posisi Menteri Pertahanan dijabat oleh Prabowo Subianto yang mana ia adalah lawan politik Jokowi pada kontestasi lalu. Tak hanya membuat geram pendukung Prabowo, penunjukan ini juga membuat koalisi di kubu Jokowi terbelah. Sebenarnya apa yang sedang di rencanakan oleh Jokowi hingga memasukkan nama Prabowo sebagai menteri dalam kabinet jilid II.

Statement yang acap kali dikeluarkan oleh Prabowo adalah “Kami siap membantu pemerintah, demi bangsa dan Negara.” Konon, ada ambisi untuk masuk ke dalam sistem agar mampu mengumpulkan kekuatan dari dalam. Pos menteri pertahanan bukanlah sembarang orang, secara konstitusi jabatan ini mampu menggantikan posisi wakil presiden bahkan posisi presiden sekalipun, atau ia sedang meniru gaya politik SBY saat menjadi menteri di bawah kepemimpinan Megawati, hingga pada pemilihan berikutnya ia mampu mengalahkan sang presiden wanita pertama dalam sejarah RI.

Tentunya bukan tanpa alasan dan pasti ada kepentingan yang disiapkan oleh menteri pertahanan ini, atau semacam konspirasi yang ia sepakati bersama presiden. Sebab pertama kalinya terjadi dalam sejarah dunia seorang capres yang kalah mendekat ke pemerintah yang menjadi lawan politiknya dan mengisi pos menteri. Kita patut menunggu aksi sang menteri dalam kabinet Indonesia Maju kali ini.

Pastinya apa yang sudah dilakukan oleh Prabowo menjadi tanda tanya besar pada setiap benak para pendukungnya, tak terkecuali dari kalangan 212. Dukungan yang mereka kumpulkan selama ini rasanya menjadi sia-sia. Padahal ada harapan besar yang digantungkan kelompok ini di pundak Prabowo. Tetapi apa mau dikata, nasi sudah menjadi bubur, Prabowo terlanjur berkata demi bangsa dan negara. Entah apa yang merasuki Prabowo hingga tega menyakiti hati banyak pendukungnya.

Lantas siapa yang akan tersisih dengan masuknya Prabowo dalam kabinet Indonesia Maju? Kita tidak akan membahas tentang kemungkinan Partai NasDem menjadi oposisi, karena dalam komposisi kabinet tersebut dipastikan Partai NasDem mendapatkan tiga kursi menteri. Namun yang menjadi tanda tanya, mengapa Partai Hanura tidak mendapatkan apa-apa? Hal ini menjadi rancu di karenakan partai Hanura merupakan slah satu pengusung Jokowi-ma’aruf dan masuk dalam koalisinya.

Lalu bagaimana dengan rakyat Aceh yang sudah memberikan suara sah hampir 90% kepada Prabowo-Sandi pada pemilu lalu. Rasanya ini seperti pengkhianatan yang dilakukan kepada Aceh, setelah berbagai dinamika politik yang terjadi, Prabowo malah bergabung ke dalam pemerintah.

Jika akhirnya menjadi menteri mengapa harus kampanye berapi-api. Kejadian ini malah makin membuat rakyat Aceh merasa semakin tidak percaya dan ragu dengan tokoh-tokoh politik nasional.

Sangat besar harapan agar politik tidak menjadi pemecah belah bagi kita sesama anak manusia yang hidup di wilayah Indonesia. Walaupun apa yang dilakukan selalu mengutarakan “Demi bangsa dan negara” tetapi bagi penulis kejadian ini adalah murni transaksi politik yang dilakukan Jokowi dan Prabowo. Mari kita sama-sama belajar dalam mengartikan kata “negarawan” agar kita tahu siapa yang pantas disebut sebai “negarawan”. Agar nantinya generasi penerus tidak melanjutkan apa yang dikerjakan oleh generasi pemangku kekuasaan hari ini, karena sejatinya politik adalah cara mencapai keadilan bukan sekedar kepentingan!

*)Muhammad Zaldi, Mahasiswa Ilmu Politik FISIP UIN Ar-Raniry
Email: Muhammadzaldi1001@gmail.com

KOMENTAR FACEBOOK