Karena Miskin, Orang Aceh Jualan Sabu-sabu

Petugas mengamankan 25 kg sabu-sabu asal Malaysia. Pelaku ditangkap di perairan Aceh Utara, ketika mencoba memasukkan barang terlarang itu ke Kota Lhokseumawe. (aceHTrend/Mulyadi)

Oleh Tibrani*

Amerika Serikat (AS) pada tahun 2001 melakukan invasi ke negara Afghanistan dengan alasan mencari pemimpin Taliban dan Osama Bin Laden sebagai pemimpin Al-Qaeda yang menurut klaim negara adikuasa, kelompok ini terindikasi melakukan serangan 11 September 2001 Gedung World Trade Center. Namun klaim tersebut tidak pernah terbukti secara fakta dan realita yang terjadi.

Pada awal invasi negara Paman Sam–julukan untuk Amerika Serikat, mereka hanya beranggapan bahwa negeri padang tandus ini, akan ditaklukan cuma sekejap saja, tidak butuh waktu lama. Akan tetapi semua prasangka tidaklah benar. Sang negara adidaya tidak belajar dari rival abadinya Uni Soviet yang runtuh dan bubar pasca invasi ke Afghanistan. Namun tetap sombong dan takabur melakukan peperangan dengan bangsa gurun pasir.

Peperangan yang berlangsung belasan tahun ini, telah menjadikan tentara AS sebagai alat sembelihan bangsa Afghanistan. Walaupun sang adikuasa memiliki alusista berupa; Tank, helikopter,pesawat tempur, dan senjata canggih lainya. Sedangkan bangsa Afghanistan hanya memiliki peralatan seadanya, berupa senjata tua Kalavnikof, peninggalan perang ketika invansi Uni Soviet. Namun semangat jiwa-jiwa yang merdeka telah mengalahkan kecanggihan senjata AS.

Afghanistan negara miskin, namun semangat spirit keberanian telah sanggup mengalahkan dua adidaya dunia, Rusia dan Amerika Serikat. Hal inilah yang membuat bangsa ini memiliki suatu kebanggaan tersendiri bagi bangsanya, walaupun miskin tapi tidak menjadi keledai, tetapi mampu menjadi manusia yang memiliki jiwa-jiwa merdeka.

Keberanian Orang Aceh

Spirit beuho (berani) orang Aceh telah ada sejak sebelum Aceh bergabung dengan Republik Indonesia. Ketika berakhirnya perang Aceh tahun 1904, yang ditandai dengan menyerahnya Sultan Muhammad Daud Syah kepada Pemerintahan Kolonial Belanda, maka sejak saat itu eskalasi peperangan di Aceh telah berkurang pasca mangkatnya sang sultan. Walaupun perlawanan terhadap Pemerintah Hindia Belanda tetap dilakukan dengan metode sporandis alias secara individu.

Metode pembunuhan khas Aceh dilakukan pejuang Aceh dengan berani menyerang orang pihak Belanda hanya bermodalkan rencong. Para perjuang Aceh ini, nekad membunuh penjajah Belanda di mana saja mereka berada, di taman-taman, jalanan, pasar, ataupun tangsi-tangsi Belanda.

Sepanjang tahun 1910-1937 tercatat 120 serangan frontal terhadap Pemerintahan Kolonial Belanda. Spirit keberanian orang Aceh ini, kemudian dilabelisasi oleh Belanda dengan sebutan Atjeh Moorden atau orang Aceh menyebutnya dengan istilah “Aceh Pungo”
Pada pasca kemerdekaan, berbagai gejolak muncul mulai dari perlawanan Darul Islam/ Tentara Islam Indonesia (DI/TII), pemberontakan disebabkan karena Pemerintah Aceh kecewa dengan terhadap kebijakan Pemerintah Pusat yang meleburkan Provinsi Aceh menjadi bagian dari keresidenan Provinsi Sumatera Utara,ditambah lagi tuntunan penegakan syariat Islam yang tidak direalisasi oleh rezim Soekarno ketika itu.

Pemberontakan dipimpin langsung oleh ulama modernis Aceh Tgk Muhammad Daud Beureuh. Durasi pertempuran berlangsung selama kurang lebih sembilan tahun. Uniknya saat para Pemimpin dan Gerilyawan DI/TII seluruh Indonesia mampu dipatahkan perlawanannya oleh Pusat, bahkan pemimpinya ditangkap, kemudian dieksekusi mati, seperti, Kahar Muzakar, dan S.M . Kartosuwiryo. Justru para pemimpin dan gerilyawan DI/ TII Aceh mendapatkan amnesti dari Pemerintahan Republik Indonesia setelah Tgk Muhammad Daud Beureuh turun gunung, sepakat untuk berdamai.

Spirit keberanian masyarakat kemudian berhasil melahirkan kembali Provinsi Aceh. Tidak hanya itu berkah dari perjuangan DI/TII melahirkan Universitas Syiah Kuala, Universitas Islam Negeri (UIN) Ar Raniry.

Filosofi keberanian masyarakat Aceh lainya, muncul ketika Orde Baru berkuasa di bawah Presiden Soeharto yang terkenal otoriter, serta kekuatan militer yang disegani seluruh dunia. Namun masyarakat Aceh berani mengelorakan perjuangan menuntut keadilan dan diskriminasi rezim. Perjuangan menuntut kemerdekaan yang dipimpin oleh Hasan Tiro dimulai dari 1976 menyebabkan ribuan manusia menjadi korban keganasan perang. Perang yang berakhir pada 15 Agustus 2005 setelah ditandatangi perjanjian damai antara Pihak Gerakan Aceh Merdeka (GAM) dengan Pemerintahan Republik Indonesia.

Konsekuensi perang selama kurang lebih tiga dekade, kemudian melahirkan Undang-Undang Nomor 11 tentang Pemerintah Aceh, adanya partai lokal, serta Pemerintah Pusat mengalokasikan Dana Otsus Selama 20 tahun.

Tidak hanya itu berkah konflik telah membawa berkah terhadap putra-putri terbaik Aceh untuk mendapatkan beasiswa dalam negeri maupun luar negeri. Serta Aceh menjadi pusat laboratorium penyelesaian konflik di dunia. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya negara belajar ke Aceh mengenai metode penyelesaian konflik, di antaranya adalah Filipina, Thailand, Maroko dan lain sebagainya.

Beuho Aceh Saat Ini

Pada era millineal sekarang, warisan sifat keberanian wangsa Aceh masih tertanam di jiwa sanubari. Namun keberanian bangsa teulebeh ateuh rung donya telah bergeser ke arah kiri (negatif), telah melanggar norma-norma agama, sosial, masyarakat dan lain sebagainya.

Kecondongan perilaku negatif masyarakat Aceh dapat dilihat dengan maraknya peredaran narkotika di bumi Iskandar Muda. Penulis menyebut demikian karena berlandasan fenomena maraknya peredaran narkoba yang dilakukan oleh cucu-cucu Iskandar Muda. Mereka tidak takut dengan dengan resiko berakhir dengan desingan peluru regu tembak dan hotel prodeo semakin padat. Semakin diburu, semakin banyak yang mau melakoninya. Bahkan Aceh menjadi pintu gerbang penyeludupkan narkotika di Indonesia.

Maraknya peredaran narkoba di Tanoh Rincong merupakan masalah sosial pergeseran spritual keberanian menuju arah yang negatif, nilai-nilai filosofi keberanian telah berubah menjadi pengedar candu.

Transformasi sebagian masyarakat Aceh menjadi pengedar barang haramjadah, menurut hemat penulis dilandasi karena masalah kemiskinan di Aceh, di saat pemerintah tidak bisa memberikan jalan lurus kepada masyarakat untuk mencari rizki yang halal, maka menjadi pengedar sabu-sabu adalah merupakan pilihan hidup.

Pilihan untuk menjadi kurir barang haram sebuah pilihan yang rumit di tengah kemeserawutan kemiskinan yang menerpa masyarakat Tanah Rencong. Jumlah dana otsus yang digelontorkan Pemerintah Pusat ternyata belum dapat membuat masyarakat terbebas dari malapetaka kemiskinan.

Oleh karena itu, peran Pemerintah Aceh sangat diperlukan untuk mengembalikan marwah spirit keberanian orang Aceh, keterlibatan instansi pemerintah sangat penting dalam menangkal para generasi muda Aceh untuk tidak terlibat peredaran candu.

Program itu dapat direalisasikan melalui peningkatan kapasitas keterampilan hidup generasi muda Aceh, hal ini dapat diaplikasikan melalui kebijakan program kerja Pemerintah Aceh. Semoga dengan adanya kehadiran pemerintah dapat meluruskan kembali marwah spirit keberanian orang Aceh.

*)Ditulis Oleh Tibrani, Kabid Penelitian dan Pengembangan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Banda Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK