Bila Cinta Didusta

Prabowo Subianto saat mendapat dukungan dari KSPI. Foto: ANTARA

Oleh Khairil Miswar

Pada era sembilan puluhan, belantika musik Indonesia pernah diramaikan oleh grup band asal Semenanjung. Di antaranya adalah Screen. Salah satu lagu yang populer dari mereka bertajuk “Bila Cinta Didusta.” Bagi remaja yang sedang tumbuh sebagai anak muda di era itu pastinya memiliki kenangan tersendiri dengan lagu ini. Salah satu lagu yang menjadi teman bagi mereka-mereka yang galau karena cinta yang tak kesampaian.

Lagu itu menggambarkan suasana hati yang luka, pedih, perih dan teriris yang bermuara pada tangisan berkepanjangan. Tentunya tidak ada seorang pun didunia ini yang berharap hatinya dilukai oleh sosok yang selalu dipuja dan dipuji. Tapi, takdir tidak bisa diajak, apalagi ditolak. Dia datang dan pergi sesuka hati.

Setidaknya demikianlah gambaran kedukaan yang sedang melanda para pendukung Prabowo di Indonesia saat ini. Duka akibat “pengkhianatan” atas segenap cinta yang selama ini diberi dengan “tulus” dan “ikhlas.” Berbeda dengan duka cinta remaja yang masih bisa diobati dengan lirik-lirik lagu, duka politik akan terus menganga dan menyisakan parut yang terus menghitam.

Duka itu tidak hanya menimpa para pendukung Prabowo di Indonesia, tetapi juga menusuk ubun-ubun pendukung Prabowo di Tanah Aulia– sebagai pendukung yang lumayan fanatik. Seperti diketahui, pada pilpres lalu Prabowo berhasil meraup suara di Aceh dengan angka yang cukup fantastis. Capaian yang cukup membanggakan itu kemudian melarutkan para pendukung dalam euforia. Sayangnya kegembiraan itu segera pudar setelah KPU mengumumkan jawara yang sesungguhnya sehingga euforia pun berganti teu inggik-inggik.

Namun kekecewaan itu tidak berlangsung lama dan nama Prabowo masih terus disanjung sebagai kesatria yang gagah nan perkasa. Meskipun kalah, nantinya Prabowo masih bisa menjadi oposisi yang akan diperhitungkan oleh Jokowi. Kira-kira demikian harapan para pendukung Prabowo. Tapi harapan tinggal harapan. Prabowo yang diagung-agungkan itu, yang oleh sebagian pendukung dipuja, dipuji dan “diberhalakan” justru memilih mengabdi pada pemerintahan Jokowi. Keputusan Prabowo ini sukses mengejutkan seluruh pendukungnya di seluruh pelosok tanah air.

Demikianlah politik mengalir, seperti air yang selalu mengikut bentuk wadah. Kemunafikan, lelucon dan oportunisme bergerak membentuk irama yang tidak pernah terbaca oleh pendukung-pendukung fanatik yang menganggap politik sebagai hitam putih, sebagai salah benar, sebagai surga-neraka. Mereka tidak sadar bahwa politik adalah panggung kegilaan paling rapi dan sempurna yang nyaris tanpa cela.

Kita tentu masih ingat bagaimana kegilaan-kegilaan di musim pilpres itu dimainkan. Para pengobral ayat Tuhan berteriak lantang bahwa pilihannya adalah surga sembari menunjuk jidat lawannya sebagai penghuni neraka. Saya juga masih ingat dengan seorang dai di Aceh yang menyebut pemilih Jokowi sebagai orang yang sudah tertutup hatinya dan tulen isi neraka. Para pendengar bertepuk tangan, bergemuruh, seolah ia baru menerima wahyu.

Tapi apa yang terjadi sekarang? Pastinya si oknum dai itu telah melihat “neraka” yang kini menganga. “Neraka lelucon” yang dipertontonkan pujaannya. Cinta buta yang selama ini disuguhkan kepada Prabowo teryata telah “didustai.”
Tentunya peristiwa ini tidak pernah terduga sebelumnya. Akhirnya, cinta kepada Prabowo yang dulunya berkobar-kobar seketika padam berganti kebencian yang mendalam. Prabowo yang dulunya disebut sebagai singa Asia, sekarang justru diturunkan pangkatnya menjadi “kucing rumahan.”

Dalam kondisi ini hanya ada dua hal yang bisa dilakukan oleh pendukung-pendukung fanatik. Pertama, mempertahankan kedunguan. Kedua, berhenti menjadi “keledai.”

KOMENTAR FACEBOOK