Pesan untuk Menag Facrul Razi: Islam Inklusif Dalam Konteks Keberagaman

Achyar Rasyidi. (ist)

Oleh Achyar Rasyidi*

Banyaknya kasus radikalisme dalam kehidupan beragama, tak terlepas dari pengaruh para tokoh dan penceramah agama yang keras dan intoleran. Serta cenderung ekslusif sesuai dengan aliran yang dipahami.

Jika dimaknai ekslusifisme dalam beragama, maka wajah yang ditampilkan adalah model beragama tanpa wujud toleransi dan penghargaan terhadap keberagaman.

Realitas yang terjadi ini, perlu dijawab dengan manifestasi model pemikiran Islam yang inklusif sebagai agama yang rahmatan lil alamin. Diwujudkan dalam toleransi beragama dan saling menghargai serta menghormati setiap perbedaan keyakinan dan keberagaman.

Saat ini banyak sekali muncul faham fundamentalisme, bukan hanya pada agama Islam tapi juga terjadi pada agama lainnya. Paham ini tumbuh subur disemai oleh para oknum tokoh atau penceramah radikal dan intoleran sehingga dampaknya sangat terasa dan cukup merusak. Salah satunya adalah munculnya aksi-aksi persekusi oleh sekelompok orang pada kelompok lainnya akibat perbedaan pendapat, keyakinan dan keragaman. Bahkan sampai bisa menyebabkan kerusuhan massal dan rusaknya nilai sosial di masyarakat. Malah berita mengagetkan yang disiarkan oleh media ada warga yang tidak didatangi acara hajatannya karena beda pilihan dalam pilpres 2019.

Hal ini didorong akibat terjadinya pergesekan di masyarakat hanya karena paham atau pendapat yang berbeda, sekecil apapun itu. Kuatnya pengaruh paham agama yang ekslusifisme dan radikal, khususnya dalam Islam juga berkembang paham takfiri yang sangat mudah mengkafirkan umat Islam itu sendiri.

Hal ini menjadikan arus politik aliran Islam yang terpecah-pecah akibat beda paham dan mazhab. Kondisi ini mesti segera diberikan obat mujarab oleh menteri agama yang dipilih Presiden Jokowi yang kebetulan seorang mantan TNI berpangkat Jenderal asal Aceh, Fachrul Razi.

Ketika makna agama dimaknai secara formal sempit apalagi sampai pada ranah politik, maka tidak akan terelakkan pasti akan menimbulkan ketegangan ketegangan sektarian, dan polarisasi berdasarkan sentimen keagamaan.

Dalam Islam sendiri tradisi keberagamaan yang cenderung formalistik dan tekstual oriented tanpa disertai dasar tauhid yang benar akan menyebabkan pengkotak-kotakan Islam dan pemikiran sentimen akibatnya mudah mengkafirkan sesama islam. Akibat mengejalanya Islam fundamental tanpa dasar tauhid yang benar. Hatinya hitam tapi bicaranya Islam. Akhirnya yang keluar dari perkataan adalah permusuhan dan kebencian.

Perlu kesadaran makro umat Islam untuk mengubah paradigma keberagamaan yang selama ini tekstual-statis menjadi kontekstual dinamis agar melahirkan islam yang inklusif, toleran sebagai wujud Islam rahmatan lil alamin dengan gagasan perdamaian.

Umat Islam perlu menerapkan bagaimana menjadikan Islam kultural sebagai bagian dalam beragama yang berperan utama sebagai sumber nilai dan pedoman perilaku etika Islam di Indonesia. Sehingga ketegangan akibat sekretarian aliran Islam tidak menjadikan umat Islam terpecah belah dan terjebak pada dukung mendukung dalam ranah politik. Akhirnya sesama Islam saling mengejek dan mudah mengkafirkan yang bebeda pendapat. Padahal kebenaran itu milik Allah dan tercermin pada perilaku individu dalam kesehariannya apakah dia Islam atau tidak atau hanya Islam KTP alias ikut-ikutan aliran mayoritas.

Akhirnya kita berharap Indonesia bisa menjadi negara yang menjunjung tinggi perbedaan dan keragaman sesuai dengan semangat Bhinneka Tunggal Ika sebuah semboyan yang diwariskan oleh leluhur kita.

*)Pemerhati sosial masyarakat dari Aceh.

KOMENTAR FACEBOOK