Yang Digugu dan Ditiru

“Kalian tahu apa artinya guru?”

Pertanyaan salah seorang guru SD dulu masih terngiang-ngiang di ingatan saya sampai sekarang. Mendapati pertanyaan seperti itu, kami yang kala itu masih berseragam putih merah cuma bisa diam. Menantikan penjelasan selanjutnya. Apa itu guru?

“Guru adalah seseorang yang digugu dan ditiru,” demikian penjelasan selanjutnya atas pertanyaan itu.

Gugu?

Kami (saya) sudah sangat familier dengan kata “tiru”, tetapi “gugu” masih menjadi kosakata yang asing pada saat itu. Guru tersebut memang tidak menjelaskan lebih detail mengenai definisi kedua kosakata itu.

Hanya saja beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang yang “digugu” dan “ditiru”, seorang guru idealnya tidak hanya mengajarkan baca tulis hitung (calistung) saja kepada anak didiknya, tetapi juga mengajarkan akhlak atau moral. Bermakna guru adalah patron bagi anak didiknya tidak hanya di sekolah saja, tetapi juga di lingkungan tempat tinggalnya.

Belakangan saya mencari tahu bahwa “gugu/menggugu” yang diadaptasi dari bahasa Jawa bermakna: memercayai; menuruti; mengindahkan. Secara harfiah guru bisa diartikan sebagai seorang yang “dipercayai/dituruti/diindahkan” dan “ditiru” (perilaku/ucapannya).

Oleh karena pemahaman itulah, saya jadi suka mengamati perilaku guru-guru saya di sekolah. Singkatnya, mereka memang pantas menjadi seseorang yang bisa digugu dan ditiru. Mereka disegani dan dihormati bukan saja oleh para siswa di sekolah, melainkan juga oleh para orang tua siswa di lingkungan masyarakat karena dianggap sebagai kaum terpelajar.

Lalu bagaimana dengan kepala sekolah? Kepala sekolah kami lebih luar biasa lagi. Waktu itu lokasi sekolah kami sangat jauh dengan ibu kota kecamatan di Idi Rayek. Berada lam klek-klok (pelosok) gampong di Aceh Timur. Jalan menuju ke sana tidak beraspal. Kalau hujan badan jalan berubah jadi kubangan. Beberapa kubang tampaknya sengaja “dimanfaatkan” oleh babi hutan.

Setiap hari sang kepala sekolah harus menempuh jarak belasan kilometer dari Idi Rayek (ibu kota Aceh Timur saat ini) menuju lokasi sekolah di Padang Peutua Ali. Ia naik sepeda motor bebek. Kadang-kadang diantar oleh suaminya. Lebih sering pergi seorang diri. Melewati jalan yang melintasi kebun-kebun dan perkampungan sepi. Hal yang sama juga dilakukan oleh beberapa guru yang tinggal jauh dari lokasi sekolah. Di antara mereka bahkan ada yang harus berjalan kaki karena tidak punya kendaraan.

Kepala sekolah juga menjalin relasi yang baik dengan para orang tua kami. Ia tampaknya sangat memahami kesulitan para orang tua siswa yang memiliki akses terbatas ke kota. Saat itu, di tahun 90-an, alat transportasi yang dimiliki warga belum seperti sekarang.

Saya ingat sekali, ketika menjelang tamat SD, para murid diharuskan membuat pas photo untuk ditempel di ijazah. Lalu apa yang dilakukan oleh kepala sekolah? Ia membawa tustel pribadi dan memotret satu persatu murid kelas VI di sekolah, lalu membawa filmnya ke percetakan untuk dicetak. Orang tua kami hanya perlu mengganti biaya cetak saja.

Begitu juga ketika para orang tua perlu membeli seragam baru atau baju Lebaran, mereka boleh berutang pada kepala sekolah yang kebetulan juga punya toko baju di kota. Bayarnya bisa dicicil. Interaksi yang terjalin lebih dari sekadar hubungan formalitas antara guru dengan siswa, atau antara pendidik dengan orang tua siswa. Guru yang notabenenya sebagai kaum cendekiawan hadir mengayomi masyarakat awam.

Fase di sekolah dasar tersebut menjadi salah satu momen paling indah di hidup saya. Tersimpan sebagai kenangan indah di memori saya sampai hari ini. Saya yakin, guru-guru seperti guru saya dulu masih ada dan akan selalu ada.

Namun, bila membaca kabar tak sedap yang dilakukan oleh oknum guru seperti baru-baru ini, apakah harus menyalahkan profesinya? Tidak. Bukan profesinya yang salah, tetapi oknum tersebutlah yang tak bisa memahami esensi dari profesinya itu. Belum menyadari bahwa ia adalah patron untuk digugu dan ditiru oleh anak didik dan lingkungannya.

Ia hanya belum sadar bahwa menjadi “guru” bukan hanya ketika di ruang kelas saja. Setiap profesi sejatinya melekat dalam diri seseorang. Di bawa ke mana pun seseorang itu pergi. Guru adalah penyambung informasi. Yang menanamkan nilai-nilai. Yang menunjukkan arah kemudi. Yang memperlihatkan visi hingga jauh setelah kehidupan fana. Untuk itulah ia pantas digugu dan ditiru.

Dalam hal ini kita perlu belajar kembali pada nasihat bijak Imam Syafii yang menganjurkan kita membenci perbuatan salah, tetapi jangan membenci orang yang berbuat salah. Kita harus membenci perbuatan maksiat, tetapi harus bisa memaafkan dan mengasihani orang yang berbuat maksiat tersebut. Karena pada hakikatnya yang ingin diberantas adalah “penyakitnya” bukan orang yang sakit.[]

KOMENTAR FACEBOOK