Ketika Aib Menjadi Komoditas

Bul ‘alaa zamzam fatu’raf.

Pepatah Arab itu bermakna kencingi sumur zamzam, maka kamu akan terkenal. Secara lebih gamblang salah satu teman saya mengatakan begini, “Sekarang ini kalau mau terkenal gampang. Buat saja hal-hal konyol, unggah di media sosial, setelah itu viral dan kamu akan terkenal ke seantero.”

Maka tak heran bila sekarang banyak bermunculan sosok-sosok baru di jagat maya dengan “karya-karya” aneh yang bikin kita mengelus dada melihatnya. Karya berkedok kreativitas padahal yang “dijual” adalah kebodohan dan ketololan semata-mata demi mendongkrak popularitas. Menciptakan sensasi demi sensasi. Mengolah aib menjadi komoditas bernilai ekonomis.

Ya, dewasa ini aib telah menjelma menjadi komoditas mahal. Para individu tak malu-malu lagi mengumbar aibnya agar bisa dikonsumsi publik. Terutama dari kalangan selebritas. Kita mungkin bertanya-tanya, masak sih aib menjadi komoditas?

Tak percaya? Tengok saja seorang raper berinisial YL yang tanpa malu-malu membeberkan aibnya yang menikah karena “kecelakaan” alias married by accident di chanel YouTube-nya. Rapper berusia 27 tahun tersebut seperti tidak merasa berdosa atau tanpa merasa bersalah sama sekali telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan norma-norma agama tersebut. Ditambah ungkapan-ungkapan tidak sopan dalam videonya seperti menyebut nama hewan dan kata be*o untuk istrinya.

Bahkan, seolah-olah bersikap sangat bijak, YL berusaha menasihati penonton dengan kalimat seperti ini, “Karena ada orang yang udah menikah bertahun-tahun tapi sulit punya anak, dan ketika (kami) dikasih anak lebih dulu ya nggak apa-apa, tinggal dilanjutin, poin plusnya jika itu terjadi di kalian, lebih baik jangan digugurin, kalau digugurin bayangin kita nggak pernah tau nanti besarnya anak itu jadi apa, bisa jadi calon presiden …”

Dalam video berdurasi 22:32 menit itu, YL dan pasangannya berinisial EN merilis sebuah video dengan konsep question and answer dari para netizen. Beberapa pertanyaan yang diajukan menurut saya cenderung vulgar dan dijawab dengan vulgar pula oleh YL. Baru dirilis pada 27 Oktober 2019, video ini sudah ditonton sebanyak 2.251.674 viewer.

Saat saya menuliskan catatan ini, video tersebut menempati ranking #2 di trending topik. Disukai oleh 60 ribu akun dan tidak disukai oleh 45 ribu akun. Menuai 14 ribu lebih komentar dari netizen.

Saat video ditayangkan, beberapa iklan muncul yang otomatis akan mengalirkan pundi-pundi rupiah ke si pemilik akun. Inilah yang saya sebut tadi bahwa aib telah menjadi komoditas. Di luar itu, keuntungan lain yang didapat adalah popularitasnya yang semakin naik daun. Namanya semakin dikenal banyak orang. Media pun ramai-ramai memberitakannya dengan berbagai versi.

Sampai di sini, saya bukan ingin menganggap diri sok suci atau putih bersih tanpa noda. Sebab sering sekali saya dengar ungkapan-ungkapan bernada permisif seperti, “Buat apa sih kita urus urusan orang, macam sudah perfect kali.” Atau, “Itukan urusan dia, bukan urusan kita.”

Hei tunggu dulu! (Mungkin) itu memang bukan urusan kita, tetapi jangan juga lupa kalau kita ini hidup di lingkungan sosial. Peristiwa demi peristiwa yang terjadi antarindividu ibarat rantai yang menjadi siklus bagi kehidupan sosial kita. Bila ada satu “cincin” saja dari jalinan rantai itu yang tidak beres, otomatis akan memengaruhi tatanan sosial tersebut. Akan memunculkan ketimpangan. Apakah kita ingin lingkungan sosial kita semakin timpang dan pada akhirnya ambruk?

Merujuk pada video unggahan YL di chanel YouTube-nya, harus menjadi urusan kita, sebab yang dipromosikan adalah sikap yang cenderung membenarkan tindakan hamil di luar nikah. Seolah-olah itu wajar. Seolah-olah pergaulan di luar batas itu sesuatu yang bisa ditolerir. Bahkan ibunya pun mengaku bahagia dengan kabar tersebut.

Lihat, berapa jumlah yang “like” dan “dislike” pada postingan tersebut. Lebih besar mana? Artinya apa? Terserah jempolnya sadar atau tidak saat menekan tombol tersebut. Ada 2,38 juta subscriber lo di chanelnya. Bayangkan efek dari konten yang disiarkannya itu?

Hal-hal seperti itu memang harus kita “urusin“, sebab kita tak ingin itu menjadi contoh bagi generasi muda Indonesia. Kita tentu tak ingin ke depan semakin banyak lahir generasi-generasi tanpa nasab yang jelas. Kita tak ingin semakin banyak orang menjual kegoblokan yang berusaha dikemas seolah-olah itu bijak.

Terlebih bagi kita seorang muslim, aib itu ibarat aurat yang harus dijaga dan tak boleh diketahui orang lain. Soal ini, jauh-jauh hari Nabi Muhammad saw telah mengingatkan sahabatnya, “Seluruh umatku akan diampuni kecuali al-Mujahirun.” Lalu sahabat bertanya, “Siapa itu Mujahirun, Ya Rasulullah?” Lalu Rasulullah menjawab, “Dia yang berbuat dosa di malam hari dan Allah Swt. menutup aibnya. Tetapi kemudian pada pagi harinya ia membuka aibnya sendiri.”

Berdasarkan hadis tersebut, sudah sepatutnya kita menutup rapat aib-aib kita, alih-alih menjadikannya komoditas. Paling tidak masih ada tersisa rasa malu dalam diri kita, karena itu menunjukkan ada atau tidaknya iman di dalam diri kita.[]

KOMENTAR FACEBOOK