Pendekatan Kultural Sebagai Upaya Membendung Hoaks

Ilustrasi

Oleh Muazzah*

“Tajak beutroh takalon beudeuh, bek rugoe meuh hate saket.” Kalimat ini ialah salah satu hadih maja yang sangat populer di Aceh. Hadih maja merupakan istilah peribahasa dalam bahasa Aceh. Sama seperti peribahasa secara umum, hadih maja merupakan ungkapan yang berisi perbandingan, perumpamaan, nasihat, prinsip hidup atau aturan tingkah laku.

Arti dari hadih maja tersebut ialah “pergi ke tempatnya lihat yang jelas, jangan rugi emas hati sakit.” Maksudnya ialah anjuran agar kita teliti terlebih dahulu, supaya tidak menyesal di kemudian hari. Hadih maja ini jelas merupakan seruan yang bersifat positif yang diwariskan oleh leluhur bangsa Aceh untuk generasi-generasi setelahnya.

Hadih maja ini tetap relevan untuk menggambarkan situasi masa kini. Bahkan di era digital sekarang, hadih maja ini sangat perlu kita resapi maknanya. Dengan kemudahan teknologi, kini informasi menyapa kita tanpa batasan ruang dan waktu. Kita bisa mengakses segala informasi hanya dengan sentuhan jari pada gawai pintar yang hampir dimiliki oleh setiap orang di dunia. Sehingga kerelaan untuk menganalisa setiap informasi menjadi suatu keniscayaan yang perlu kita lakukan.

Bukankah kita sudah melihat efek buruk dari penyebaran informasi tanpa telaah sebelumnya? Mulai dari pertengkaran kecil, fitnah, adu domba, dan perpecahan lainnya, hingga pada aksi penghilangan nyawa manusia pernah terjadi akibat ‘salah informasi’. Dan kini dengan mudahnya kita bisa melihat informasi-informasi yang bersifat memproporkasi massa disebarluaskan dengan mudahnya.

Budaya latah

Maraknya penyebaran berita hoaks disebabkan adanya budaya latah yang melekat pada masyarakat indonesia. Apalagi berita yang dibincangkan ialah tentang orang atau kelompok yang posisinya kontra dengan prinsip yang dianut atau diyakini. Maka tanpa perlu klarifikasi, dengan mudahnya seseorang ikut menyebarkan berita tersebut.

Budaya latah merupakan penyebab utama menyebarnya berita hoaks. Karena perilaku latah tidak akan melakukan cross-check terlebih dahulu terhadap informasi yang diterimanya. Orang-orang dengan budaya latah ini, bahkan bisa menyebarkan informasi hanya dengan membaca judul, tanpa membaca isi berita, bahkan menambahkan informasi dengan pemahaman dangkal dan memihak.

Berkembangnya teknologi juga menyebabkan menjamurnya media massa, tak terkecuali di Indonesia. Bahkan menurut ketua Dewan Pers, Yosep Adi Prasetyo, pada tahun 2018 jumlah media massa di Indonesia adalah yang terbanyak di dunia, sekitar 47.000 terbagi media cetak, radio, televisi dan berbasis daring. Dari jumlah itu 2.000 adalah media cetak, 674 radio, 523 televisi termasuk lokal, dan lebihnya media daring.

Namun disayangkan, banyaknya media massa tidak menjamin informasi yang disajikan dapat dikonsumsi dengan oleh masyarakat. Karena sangat banyak media massa yang belum mencapai standar layak, dan kebebasan pers yang dinikmati saat ini justru dijadikan kesempatan untuk membuat berita bohong atau hoaks.

Saring sebelum sharing

Berkembangan informasi digital dan daring menyebabkan arus informasi tak bisa dibendung. Sehingga dibutuhkan kemampuan menganalisa suatu informasi atau dikenal dengan istilah literasi. Banyaknya informasi hoaks menyebabkan masyarakat dengan kemampuan literasi rendah mudah sekali terkecoh bahkan percaya pada yang salah.

Kemampuan literasi yang baik hanya dapat diperoleh dengan cara bersedia membaca, menganalisa, dan mencari fakta-fakta, baru menyimpulkan informasi yang diterima benar atau salah. Kemudian dilanjutkan dengan tindakan menyebarkan informasi tersebut, membiarkannya begitu saja, atau memutus penyebarannya.

Sebagai warganet yang baik, sudah sepatutnya kita memiliki filter pada diri kita sehingga kita terbiasa menyaring segala informasi yang kita terima sebelum membagikannya kepada orang lain, dengan kata lain “saring sebelum sharing” agar tak terjebak pada berita hoaks. Menurut Ketua Masyarakat Indonesia Anti Hoax Septiaji Eko Nugroho, ada lima langkah sederhana yang bisa membantu dalam mengidentifikasi mana berita hoax dan mana berita asli, yaitu: (1) Hati-hati dengan judul provokatif, berita hoax seringkali menggunakan judul sensasional yang provokatif. Berita hoaks sering langsung menuding pihak tertentu. Isi berita bisa diambil dari media resmi, hanya saja diubah-ubah agar menimbulkan persepsi sesuai yang dikehendaki sang pembuat hoax. (2) Cermati alamat situs, apabila berasal dari situs yang belum terverifikasi sebagai institusi pers resmi -misalnya menggunakan domain blog, maka informasinya bisa jadi berpotensi hoaks. (3) Periksa fakta, dengan cara memerhatikan asal berita dan siapa sumbernya agar informasi yang kita terima cukup berimbang agar mendapatkan gambaran yang utuh dan tidak bersifat subjektif. (4) Cek keaslian foto, di era teknologi digital saat ini, bukan hanya konten berupa teks yang bisa dimanipulasi, melainkan juga konten lain berupa foto atau video. Ada kalanya pembuat berita palsu juga mengedit foto untuk memprovokasi pembaca. (5) Ikut serta grup diskusi anti-hoax, tujuannya agar kita mendapatkan lingkungan berfikir yang positif agar tak mudah termakan berita hoaks. Di Facebook terdapat sejumlah fanpage dan grup diskusi anti hoax, misalnya Forum Anti Fitnah, Hasut, dan Hoax (FAFHH), Fanpage & Group Indonesian Hoax Buster, Fanpage Indonesian Hoaxes, dan Grup Sekoci.

Pendekatan kultural

Dibutuhkan kontrol lebih kuat pada masyarakat agar perilaku sebar tanpa telaah dapat diminimkan dan digantikan dengan perilaku saring sebelum sharing. Salah satu kontrolnya ialah menggunakan pendekatan kultural. Sebagaimana yang kita ketahui, bahwa setiap daerah memiliki kultur yang berbeda namun dengan tujuan yang sama, menyebarkan kebaikan.

Di Aceh, kita memiliki hukum adat sendiri. Dan sebagaiman yang telah dijelaskan di atas, budaya kita bahkan memiliki hadih maja khusus sebagai tuntutan dalam berperilaku saat menerima informasi. Para tetua kampung dapat mengedukasi para generasi muda saat dilangsungkannya rapat kampung di meunasah (surau). Sehingga masyarakat bisa lebih berhati-hati dalam menerima informasi.

Indonesia terlalu majemuk, sehingga sangat mudah untuk dipecah belah. Maka, butuh kerja sama semua kalangan masyarakat agar Indonesia selalu bersatu dalam damai. Jangan sampai kedamaian negeri ini hilang, dan tergantikan dengan situasi huru-hara. Jangan sampai ada perang saudara, karena kita sudah pernah merasakan pahitnya hidup dalam ketakutan dan peperangan. Yuk lebih cerdas dan bijak dalam mengkonsumsi berita! Kita sebarkan konten-konten positif dan bermanfaat untuk membendung berita hoaks.[]

Guru Sekolah Sukma Bangsa Sigli, Kabupaten Pidie.

KOMENTAR FACEBOOK