Berjabat Tangan, Budaya Orang Aceh yang Cinta Kedamaian

Ilustrasi bersalaman

Provinsi Aceh memang terkenal dengan kekentalan adat dan budayanya. Budaya peumulia jame adat geutanyo (memuliakan tamu adat kita) mencirikhaskan keramahtamahan orang Aceh. Salah satu budaya yang tidak terlepas dari orang Aceh adalah budaya memberikan salam dan berjabat tangan saat berjumpa dengan seorang atau saat sedang berada di suatu pertemuan.

Berjabat tangan saat berjumpa merupakan salah satu bentuk dari keakraban yang sudah menjadi kebiasaan orang Aceh. Jabat tangan dan tegur sapa kelihatannya memang sepele dan remeh. Tapi di balik semua itu menyimpan banyak sekali faedahnya. Kalau ini bisa dilakukan terus-menurus, ikatan persahabatan semakin kuat dan hati orang yang sedang bertikai lama-kelamaan juga luntur.

Letak tangan setelah jabat tangan dilakukan pun berbeda-beda. Ada sebagian orang yang kemudian meletakkan tangan di dada, ada juga yang diletakkan di dahi, sebagai ungkapan bahwa hal tersebut tidak semata lahiriah, tapi juga dari batin.

Sedangkan tradisi cium tangan lazim dilakukan sebagai bentuk penghormatan dari seorang anak kepada orang tua, dari seorang awam kepada tokoh masyarakat/agama, dari seorang murid ke gurunya. Tidak jelas dari mana tradisi ini berasal. Tetapi ada dugaan berasal dari pengaruh budaya Arab.

Meskipun begitu, tak lazim juga terkadang antara perempuan dan laki-laki ketika bersalaman tidak langsung bersentuhan, tetapi hanya saling memberi salam dan mengisyaratkan dengan tangan memberi salam.

Dalam Islam sendiri berjabatan tangan atau salaman disunahkan dan dianjurkan oleh Rasulullah. Anas bin Malik pernah ditanya oleh seseorang, apakah sahabat Rasulullah juga suka berjabat tangan? Beliau menjawab, tentu (HR: Bukhari).

Hal senada juga nabi pernah bersabda yang diriwayatkan oleh Abu Daud yang mana Rasulullah berkata “Dua orang muslim yang bertemu kemudian keduanya saling berjabat tangan maka dosanya diampuni sebelum berpisah.”

Tetapi dalam hadis yang lain yang diriwayatkan oleh Aisyah radhiallahu ‘anha, bahwa “tangan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menyentuh tangan wanita sama sekali, beliau tidaklah membaiat (wanita) melainkan dengan perkataan saja.”

Islam sangat menganjurkan untuk memperkuat ikatan persaudaraan dan mencari teman sebanyak-banyaknya. Perpecahan dan pertikaian sangatlah dibenci dalam Islam. Sebab itu, dianjurkan bagi seorang muslim untuk mendamaikan dua orang atau kelompok yang sedang bertikai.

Selain memperkuat hubungan sesama manusia dan ikatan persabahatan, orang yang senang berjabat tangan saat bertemu orang lain juga mendapatkan rahmat dan belas kasih dari Allah Swt. Bahkan dalam hadis di atas ditegaskan, dosa mereka akan diampuni sebelum mereka berpisah.

Sebab itu, bila bertemu orang lain, bertegur sapalah dan saling berjabat tangan untuk memperkuat hubungan persahabatan dan mudah-mudahan melalui pertemuan itu Allah menurunkan rahmat-Nya.

Samsul Bahri, salah seorang mahasiswa Psikologi Unsyiah mengatakan, tradisi berjabat tangan menandakan kondisi orang Aceh yang selalu ingin berteman dengan orang lain.

“Berjabat tangan dengan orang lain menandakan bahwa orang Aceh tidak ingin mencari musuh tetapi mendambakan pertemanan dengan siapa pun,” dikatakan Samsul pada Rabu (30/10/19) kepada aceHTrend.

“Budaya berjabat tangan sudah melekat dengan orang Aceh, patut kita banggakan karena tradisi berjabat tangan ini juga dipertahankan dan diteruskan oleh generasi-generasi sekarang,” kata Jefri Wahyudi, salah satu mahasiswa Fakultas Hukum Unsyiah di hari yang sama secara terpisah.

Julhadi, salah satu mahasiswa sejarah FKIP Unsyiah juga mengatakan bahwa tradisi berjabat tangan sudah menjadi ciri khas masyarakat Aceh dan ini perlu untuk diajarkan kepada generasi sekarang, dimulai sejak dini dan dimulai dari didikan keluarga.

“Tradisi ini perlu dipertahankan dan diajarkan, ini juga menjadi tugas guru dalam memberikan contoh baik kepada murid muridnya. Kita juga berharap identitas keacehan dapat dilihat dari nilai-nilai tata krama dan sopan santun dalam bentuk budaya berjabat tangan ini,” kata Julhadi.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK