Ekonomi Shari’ah: Cover baru Dengan Konsep Lama

Oleh Mursal Mina*

Munculnya Sistem Ekonomi Syariah (SES) pada abad ini menimbulkan desas desus dari beberapa kalangan. Sebagian [dari] mereka beranggapan bahwa ekonomi shari’ah adalah terobosan baru dalam ranah ilmu ekonomi, ataupun sebuah sistem yang mengatur tentang perbankan shariah. Sedangkan sebagian yang lain memberikan pandangan bahwa ekonomi shari’ah sebagai smart solution yang terbukti dalam krisis ekonomi pada tahun 1997, ataupun sikap reaksioner umat Islam atas kegelisahan sistem ekonomi riba yang sedang berkembang.

Berimplikasi dari itu maka reaksi masyarakat dalam menyikapi perkembangan ekonomi shariah terbagi dalam beberapa kondisi. Di antara mereka ada yang berjuang mempertahankan dan mengembangkannya karena merupakan solusi jitu untuk keluar dari jeratan riba. Sedangkan sebagian yang lain memilih diam dan mengabaikannya dengan alasan bahwa ekonomi shariah pada hakikatnya sama saja dengan ilmu ekonomi yang telah berkembang selama ini, hanya saja dengan desain yang berbeda.

Terlepas dari komentar dan perspektif di atas, penulis ingin mengajak pembaca untuk bernostalgia melalui literatur-literatur karangan para ulama 15 abad silam di suatu kota yang menjadi pusat kontrol pemerintahan Islam (Daulah Islamiah) ketika itu, yaitu Madinah.

Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai pimpinan tertinggi pernah membangun sebuah pasar untuk kebutuhan transaksi masyarakat Islam di Madinah, kemudian beliau menetapkan standar operasional untuk stakeholder/para pelaku pasar sehingga dapat mengatasi berbagai problematika yang terjadi di pasar. Seperti permasalahan monopoli perdagangan, penipuan, serta kecurangan dalam betransaksi yang dapat merugikan pihak penjual maupun pembeli.

Di antara SOP yang dirancang oleh Nabi Muhammad adalah larangan riba dalam jual beli sehingga beliau memberikan peringatan keras kepada pelaku transaksi riba dengan segala jenisnya, dan juga merealisasikan butir-butir yang harus dipenuhi oleh para investor yang melakukan investasi dengan model musyarakah ataupun qiradh (mudharabah).

Di sisi yang lain, Nabi Muhammad melantik relawan zakat untuk mengumpulkan zakat yang merupakan salah satu sumber pendapatan kas negara yang sangat krusial. Dikumpulkan dari kelompok tertentu dan dibagikan kepada kelompok yang berhak menerimanya.
Untuk mencapai target dalam berbisnis maka terbentuklah sistem yang akurat serta pedoman yang teruji dalam melakukan transaksi di pasar, meskipun demikian, tetap memberikan kebebasan kepada para pelaku pasar dalam memasang harga barang selama masih berada dalam bingkai syariat.

Konsep pasar yang merupakan tempat melakukan transaksi dalam ilmu ekonomi, aktivitas investasi yang berstandarkan konsep musyarakah ataupun mudharabah (qiradh), serta kewajiban zakat yang diperkenalkan oleh para ekonom shariah, seluruhnya telah diatur dan dicetuskan oleh Rasulullah.
Dengan demikian aturan-aturan dasar tentang ekonomi telah ditetapkan oleh Rasulullah jauh sebelum konsep tersebut ditemukan dalam ilmu ekonomi pada abad ini, kemudian sususan konsep tersebut di jilid dengan cover “ekonomi shari’ah/Islam”.

Meskipun Isu atau praktik dalam ranah ekonomi berkembang sesuai dengan kebutuhan zaman namun tetap harus mendasari kepada konsep dasar sebagai pijakan yaitu SOP yang diperkenalkan oleh ekonom terhebat sepanjang sejarah, yaitu Muhammad.

Bukti-bukti di atas adalah bagian kecil dari keseluruhan aktivitas Nabi Muhammad dalam tatanan ekonomi. Meski demikian, sudah dapat memberikan sebuah gambaran bahwa konsep ekonomi sudah pernah di desain oleh Rasulullah pada masa Daulah Islamiah (Negara Islam).

Walaupun konten dan pemikiran dari ekonomi shariah telah ada pada zaman itu namun penggunaan istilah “ekonomi Islam” baru muncul pada abad sekarang.
Semoga konsep ekonomi shariah yang ditetapkan dan disahkan oleh Rasulullah dapat diaplikasikan sepenuhnya dalam setiap aktivitas bisnis, baik dalam ranah individu maupun lembaga bahkan antar negara secara global.Sehingga ekonomi shariah dapat menjadi jalan hidup para ekonom menuju Allah di manapun dan kapanpun, bukan hanya sekedar terobosan baru demi meramaikan pentas keilmuan.

*)Putra Asal Bireuen. Dosen Institute Agama Islam Tazkia, Bogor.

Ilustrasi dikutip dari Finansial.com

KOMENTAR FACEBOOK