Integrated Farming, Petani Wajib Beternak

Oleh Furqan*

Beberapa tahun yang lalu, penulis dikenalkan oleh orangtua tentang prospek dunia pertanian dan apa yang bisa dilakukan untuk mengisi waktu luang ketika sekolah. Awalnya tidak begitu fokus dengan kegiatan bertani karena berbagai macam kegiatan di sekolah yang terlalu padat. Seiring berjalannya waktu, ketika memasuki dunia perkuliahan, penulis mulai lebih serius mendalami dunia pertanian mulai dari memperbanyak bacaan dan melakukan serangkain ujicoba beberapa komoditas seperti lengkuas dan lada, cabe rawit sampai sere dapur, walaupun akhirnya penulis lebih memilih fokus untuk merawat lengkuas, pinang dan pala.

Dalam tahapan pengelolaan kebun, penulis memperhatikan ada dua hal yang konsisten dilakukan yaitu pembersihan dan pemupukan. Pembersihan dari gulma rutin dilakukan supaya komoditas yang dikembangkan tidak terganggu pertumbuhannya sedangkan pemupukan dilakukan untuk menambah nutrisi si tumbuhan. Tetapi sayangnya upaya pembersihan gulma dilakukan dengan dua cara yaitu pertama, dengan cara diarit/dibabat. Kedua, disemprot dengan bahan kimia. Jika dilakukan dengan cara yang pertama secara hitungan ekonomis memang lebih mahal tetapi dalam jangka panjang tidak merusak produktivitas karena kerusakan yang diakibatkan pemakaian bahan kimia, sedangkan cara kedua sebaliknya. Dari kedua cara tersebut tetap saja harus mengeluarkan banyak uang dan rumput atau gulma tersebut terbuang.

Nah sampai di sini penulis berfikir, bagaimana caranya biaya pembersihan kebun bisa diminimalisisir atau bahan di zero-kan dengan mengubah menjadi sesuatu dalam bentuk lain? Ilustrsi seperti ini, penulis ambil dari kajian ekonomi tentang nilai tambah dengan mengubah bahan baku menjadi produk turunan sehingga lebih bernilai ekonomi. Setelah bertemu beberapa orang penulis menyimpulkan bahwa untuk meminimalkan biaya pembersihan lahan yang harus dilakukan adalah beternak. Bukan hanya itu limbah peternakan nantinya akan menjadi pupuk organik yang baik bagi tanaman sehingga pemakaian pupuk kimia bisa direduksi. Dengan demikian ini ibarat sekali mendayung, tiga pulau terlewati. Artinya produktivitas komoditas utama naik, biaya pembersihan minim dan pemupukan dihasilkan dari kotoran ternak.

Dalam literatur pertanian ini lebih dikenal dengan integrated farming system, di mana sektor pertanian, peternakan dan perikanan menjadi satu sehingga output dari pertanian menjadi input bagi peternakan dan perikanan dan begitu juga salah satu output dari peternakan dan pertanian menjadi input bagi pertanian, sehingga konsep zero waste bisa terlaksana dengan baik.

Menjadi pertanyaan selanjutnya apakah semua jenis limbah pertanian bisa dijadikan sebagai pakan ternak dan bagaimana cara penyimpanannya?

Dari pengalaman penulis yang baru saja terjun ke dunia peternakan, semua limbah pertanian bisa digunaan sebagai pakan ternak, bahkan salah satu mentor beternak penulis menyebutkan salah satu pakan ternak adalah berwarna hijau. Asal berwarna hijau berarti itu pakan ternak, seperti pelepah sawit, pelepah pinang, pelepah kelapa, jerami padi, kulit kacang, bongkol jagung, batang jagung, dedak, bungkil kelapa, rumput liar yang tumbuh di kebun dan lain sebagainya.

Jika salah satu pakan yang penulis sebutan di atas berlimpah jumlahnya, bisa dilakukan pengawetan supaya dapat disimpan dalam waktu yang lama. Teknik pengawetan yang biasa digunakan ada tiga yaitu silase, fermentasi dan pengeringan. Berikut cara pengawetannya:

1.Silase sendiri dapat diterapkan pada pakan hijaun seperti rumput, pelepah sawit, pelepah pinang dan pelepah kelapa dengan dikecilkan ukurannya atau dichopper sehingga memudahkan proses silase. Setelah dichopper bahan dimasukkan ke dalam tempat kedap udara, biasanya dalam drum atau plastik.

2.Fermentasi juga menggunakan pakan hijauan dan dicampur dengan bebrapa bahan kering seperti bungkil kelapa atau dedak, lalu ditambah mikroorganisme racikan sendiri atau bisa dibeli di toko unggas. Selanjutnya dimasukkan kedalam plastic atau drum kedap udara.

3.Untuk metode pengeringan (penurunan kadar air) dilakukan dengan cara menjemur bahan sampai kadar air menjadi 60-40 persen, selanjutnya rumput yang dijemur ini disebut hay.

Kesimpulan

Dengan sistem pertanian yang terintegrasi dengan peternakan dan perikanan manfaat yang didapatkan yaitu: Pertama, pembersihan lahan yang biasanya dilakukan dengan penyemprotan herbisida dapat diatasi dengan pemotongan secara berkala di mana nantinya digunakan sebagai pakan ternak. Jadi biaya pembabatan/semprot dialihkan kepada biaya pemotongan rumput.

Kedua, dengan tidak menggunakan herbisida otomatis terhindar dari kerusakan tanah,tingginya residu herbisida dalam produk pertanian, dan matinya mikroorganisme yang baik untuk perkembangan tumbuhan. Ketiga, limbah peternakan menjadi nutrisi bagi tumbuhan. Keempat, limbah pertanian menjadi pakan untuk peternakan dan perikanan. Kelima, limbah pemotongan ternak seperti darah dan tulang bisa dijadikan tepung darah dan tepung tulang sebagai pakan penguat bagi perikanan.

*)Penulis adalah mahasiswa Perbankan Syariah.Founder dan Owner Meusigrak Farm.

KOMENTAR FACEBOOK