Investasi PMA di Aceh Meningkat, Kini Dilirik Jepang

Kepala DPMPTSP Aceh, Dr Aulia Sofyan disaksikan oleh Sekda Aceh dr. Taqwallah, M.Kes dan Tomy Mulia Hasan sedang memberi penjelasan kepada calon investor dari Jepang pada kegiatan Indonesia Business Forum-Tokyo, 29 Oktober 2019 di The Grand Ginza, Jepang. @ist

ACEHTREND.COm, Banda Aceh – Dalam empat tahun ke depan Jepang berencana memperluas investasi ke Indonesia senilai Rp28 triliun. Posisi Jepang di Indonesia dalam Triwulan III 2019 sebagai investor terbesar ketiga di Indonesia setelah Singapura dan Tiongkok. Terkait hal ini Jepang mulai melirik Aceh sebagai tujuan investasi berikutnya.

Untuk membicarakan lebih lanjut mengenai itu, Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI mengundang Pemerintah Aceh dan Provinsi Kalimantan Timur untuk promosi peluang investasi daerah ke Negeri Matahari Terbit itu. Ajang jemput bola investasi ini berlangsung pada 28 Oktober-2 November 2019 melalui kegiatan yang dikemas dalam tajuk “Exploring Investment Oppprtunities of Western Indonesia Region and Indonesia’s New Capital Destination”, diselenggarakan di dua kota, yaitu Tokyo dan Toyama.

Delegasi Aceh dipimpin oleh Sekda Taqwallah bersama anggota, yaitu Kadis Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Aceh (DPMPTSP) Aulia Sofyan, Kadis Kelautan dan Perikanan Aceh Ilyas, dan Kasi Deregulasi Penanaman Modal DPMPTSP Aceh Zulkifli Hamid, serta Penasihat Khusus Gubernur Aceh Bidang Administrasi Publik, Tomy Mulia Hasan. Sementara itu, delegasi Kalimantan Timur dipimpin oleh Sekda Kalimantan Timur dan diikuti oleh 10 anggota lainnya.

“Hubungan diplomatik antara Indonesia dan Jepang kini sudah 60 tahun, tetapi kenapa belum ada investor asal Jepang di Aceh, ini menjadi tantangan bagi kita bahwa mestinya sudah ada beberapa perusahaan Jepang di Aceh untuk investasi sesuai keunggulan potensi daerah kita,” ujar Taqwallah, selaku ketua delegasi Aceh melalui siaran pers yang diterima aceHTrend, Sabtu (2/11/2019).

Sementara itu, Kadis DPMPTSP Aceh Aulia Sofyan menambahkan, realisasi investasi di Aceh kondisi triwulan III-2019 sebagaimana disiarkan oleh BKPM beberapa hari lalu telah menempatkan Aceh sebagai peringkat ke-14 terbesar untuk Penanaman Modal Asing (PMA). Hal ini merupakan peringkat terbaik PMA di Aceh dalam lima tahun terakhir.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa kepercayaan investor luar terhadap Aceh terus meningkat. Aceh dianggap memiliki konsistensi kebijakan dan usaha-usaha perbaikan yang signifikan dalam memperbaiki iklim berusaha,” ujarnya.

Kegiatan selama di Jepang yaitu Indonesia Business Forum, one on one meeting di Tokyo, Toyama Fair Investment Exhibition, pertemuan dengan sejumlah pihak, antara lain dengan Toyama CCI and Manager of TONIO (Toyama New Industry Organization) SME Support Center, pertemuan dengan Toyama Prefectural Federation on Societeis of Commerce and Industry, pertemuan dengan Vice Governor of Toyama, dan Overseas Investment Environment Seminar di Toyama Techno Hall, serta network session.

Kegiatan selama di Jepang telah menjadi cikal bakal kerja sama Aceh dan Jepang ke depannya, khususnya dengan pemerintah Toyama dan telah menarik beberapa calon investor dari Jepang yang akan mempelajari lebih lanjut untuk berinvestasi di Aceh.

Adapun hasil kunjungan kerja ke Jepang, antara lain Jepang memerlukan ikan tuna Aceh sekitar 500 kg per hari. Saat ini ada perusahaan Jepang yang mempunyai 30 cabang di beberapa kota di Jepang yang menjual ikan tuna segar di mini market, mereka sangat berharap ekspor ikan tuna dari Aceh.

Jepang memerlukan edamame (kacang kedelai yang dipanen saat masih muda dan hijau) dengan kebutuhan sekitar 250 ton per bulan. Jepang siap untuk membangun rumah sakit di Aceh dengan peralatan teknologi terkini, seperti alat cuci darah yang canggih.

Jepang membutuhkan bahan baku kayu dengan jenis pohon yang sesuai untuk kebutuhan pembuatan peralatan furniture seperti pintu rumah, hotel, dan lain-lain. Saat ini ada perusahaan Jepang yang beroperasi di Surabaya tetapi mengambil bahan baku dari Newzealand.

“Jepang juga siap menerima perawat-perawat asal Aceh untuk bekerja di panti-panti Jompo di Jepang, dengan penguasaan bahasa Jepang yang mumpuni dan teknis perawatan. Para perawat akan dipekerjakan dengan gaji yang sangat menggiurkan,” ujar Aulia Sofyan.

Pemerintah Toyama katanya juga akan mengadakan training kecakapan kerja, dan beasiswa pascasarjana kepada pelajar asal Aceh, setelah dilatih dan dibiayai beasiswa oleh pemerintah Toyama akan langsung dipekerjakan pada perusahaan-perusahaan di Jepang.

Selanjutnya kata Aulia Sofyan, yang utama untuk kerja sama investasi dengan Jepang adalah persoalan “trust”, mereka sangat menepati janji dan berperilaku jujur.

“Jadi, kalau perusahaan di Aceh mau kerja sama dengan perusahaan asal Jepang perilaku baik yang merupakan nilai-nilai universal tersebut hendaknya harus sangat diperhatikan oleh pelaku usaha di Aceh,” ujarnya yang saat ini masih berada di Jepang.[]

KOMENTAR FACEBOOK