Dayah Tu Sop Jadi Objek Observasi Kemendikbud

ACEHTREND.COM, Bireuen – Tim Direktorat Geografi Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) RI melakukan kunjungan kerja ke Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb, Kabupaten Bireuen, Jumat (01/11/2019).

Sebelumnya Direktorat Geografi Sejarah juga mengunjungi dan mengadakan seminar kebangsaan dan pameran sejarah selama tiga hari di Dayah Mudi Samalanga.

Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb juga disebut sebagai Dayah Multimedia Aceh yang dipimpin Tgk H Yusuf A Wahab atau Tu Sop, Ketua Himpunan Ulama Dayah Aceh (HUDA).

Mudir I Dayah Babussalam Al Aziziyah Jeunieb, Tgk Ihsan M Ja’far, mengatakan kunjungan kerja tim Kemendikbud RI dalam rangka silaturahmi dan observasi dunia kedayahan. Direktorat Geografi Sejarah juga melakukan pertemuan dengan sejumlah pengurus Dayah Babussalam Jeunieb.

“Kemendikbud tertarik dengan peran dayah masa lalu. Dayah mampu memberikan kontribusi besar bagi Kesultanan Aceh, dan dayah hingga saat ini masih bertahan dengan pendidikan yang sama pula,” sebut Ihsan melalui siaran pers, Sabtu malam (2/1//2019).

Dalam pertemuan pengurus dengan Direktorat Geografi Sejarah Kemendikbud itu lanjut Ihsan, pihak dayah menjelaskan mengenai kaloborasi pendidikan yang diterapkan di dayah ini. Pertemuan ini kata Ihsan, juga sebagai langkah awal dalam membina hubungan kerja sama antara Kemendikbud dengan Dayah Babussalam ke depan.

“Dayah Babussalam mempunyai dua bentuk pendidikan, salafi dan terpadu. Santri terpadu dan salafi kita pisahkan kompleksnya. Untuk pendidikan terpadu kita memiliki SD-IT As Salam, SMP As Salam Islamic School, dan SMA As Salam Islamic School,” ujarnya lagi.

Terkait hal itu, dari tim Kemendikbud memberikan masukan-masukan mengenai metode belajar sambil bermain untuk pendidikan dasar.

Sementara itu, Kepala Sub Direktorat Geografi Sejarah Direktorat Jenderal Kebudayaan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI, Agus Widiatmoko, sebagaimana disampaikan staf khusus Tu Sop, Al Fadhal, berharap sekolah terpadu Dayah Babussalam bisa menerapkan sistem link and match (keterkaitan dan kesepadanan) pilihan anak. Di mana nanti match-nya berkaitan dengan program pembangunan kemajuan bangsa di tengah peradaban dunia.

“Saya melihat di sini memang masih jauh dari harapan kita, baik dari segi fisik maupun kualitas SDM anak didik dan guru serta minimnya fasilitas yang memadai, bagaimana mana anak-anak dan guru bisa meningkatkan kualitas mutu pendidikan kalau prasarana dan sarana kurang memadai? Tadi saya juga melihat ruang kelas masih semi permanen, yang sangat menyentuh hati kami, tadi ada satu kelas yang di belakangnya ada peta Indonesia, ini penting di mana anak-anak setiap hari harus melihat peta Indonesia, tetapi apa yang kami lihat, gambar petanya sudah rusak-rusak dan petanya pun belum standar. Bagaimana anak-anak bisa melihat bahwa pengayaan tentang keindonesiaan kalau peta sendiri tidak lengkap. Ini salah satu sedikit dari sarana dan prasarana pada anak didik yang harus kita perbaiki,” ujar Al Fadhal mengutip keterangan Agus Widiatmoko.

Agus menambahkan, dalam membangun dan mencerdaskan anak bangsa memang tidaklah mudah. Menurutnya indikasi pengurus dan guru sekolah terpadu di daya itu sudah sangat luar biasa, mampu membuat sekolah secara mandiri, bahkan murid-muridnya tidak muat, dan terpaksa harus menolak lamaran siswa setiap tahunnya.

“Semangat inilah yang harus kita apresiasikan mudah-mudahan ke depan Kemendikbud akan mendukung bagaimana meningkatkan kuantitas dan kualitas sekolah yang ada di dayah ini baik salafi maupun pendidikan formal,” katanya.

Menurutnya dayah berperan besar dalam sejarah peradaban Aceh pada masa kesultanan jauh sebelum bangsa Eropa datang. Dayah sebagai sumber intelektual kaum cendekiawan dalam kesultanan. Inilah yang harus dibangkitkan kembali, di mana dayah-dayah sekarang dan masa depan menjadi tempat-tempat pemondokan para cendikiawan yang nantinya juga mempunyai peranan yang besar dalam pembangunan masyarakat Aceh.[]

Editor : Ihan Nurdin

KOMENTAR FACEBOOK